Breaking News in Indonesia

Pembajakan Demokrat ala Moeldoko Demi Pilpres 2024

Jakarta, Indonesia —

Direktur Eksekutif KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menilai manuver yang dilakukan Kepala Staf Presiden Moeldoko hingga terpilih menjadi Ketua Umum Demokrat dalam Kongres Luar Biasa (KLB) merupakan langkah untuk memuluskan jalan menuju kontestasi Pilpres 2024.

Menurut dia, Moeldoko melihat fenomena yang terjadi menjelang Pilpres 2019 lalu, yang mana sejumlah tokoh dengan elektabilitas tinggi tak jadi maju lantaran tak punya partai.

Kini, menurutnya, Moeldoko memikirkan kendaraan politik terlebih dahulu. Baru setelah itu mengurus hal lain.

“Contoh Pak Gatot Nurmantyo. Waktu itu elektabilitas oke, tapi akhirnya enggak jadi apa-apa karena enggak punya partai. Jadi menurut saya, bagi Moeldoko yang gua punya dulu aja gua investasiin. Masalah elektabilitas bisa dikejar nanti,” kata Kunto saat dihubungi Indonesia.com, Jumat (5/3).

Jika berniat maju di Pilpres 2024, ia menilai kans Moeldoko untuk menggerek elektabilitas sangat terbuka. Apalagi dia sudah melakukan manuver hingga terpilih jadi Ketum versi KLB.

“Apalagi politik di Indonesia kan sangat mahal, padat modal, dan ketika Moeldoko yang buktikan dia punya modal itu buktikan dia siap untuk kemudian meng-engineering elektabilitas dia sampai 2024,” ucap Kunto.

Pengamat Politik Universitas Andalas, Asrinaldi, juga berpendapat serupa. Manuver Moeldoko hingga terpilih menjadi Ketua Umum itu menurutnya memang untuk jalan menuju 2024.

Asrinaldi mengatakan, dengan posisi yang bisa dikategorikan sebagai partai menengah, Demokrat sangat potensial digunakan sebagai kendaraan.

“Dengan 20 persen (presidential threshold) itu masih mungkin. Dengan 7-8 persen (suara Demokrat) itu masih mungkin, 2 atau 3 Partai lagi, kan kalau digabung bisa,” ucap dia.

Lihat juga:

SBY Respons KLB: Indonesia Berkabung, Akal Sehat Telah Mati

Dia berpendapat pada 2024 nanti juga tidak banyak sosok dengan latar belakang militer yang akan maju menjadi calon presiden.

Dengan kondisi demikian, ia menyebut purnawirawan militer berani maju dengan asumsi memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh calon presiden dari kalangan sipil.

“Yang akan maju anak anak muda aja semua ini, yang dianggap oleh senior-senior mantan TNI ini bisa dikalahkan. Karena memang dia punya sesuatu yang tidak dimiliki yang calon dari sipil ini,” ucap dia

“Barangkali cara pandang militer seperti itu yang banyak buat banyak petinggi atau mantan tentara merasa punya peluang besar untuk bertarung di 2024,” imbuh dia.

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ketua Umum Partai Gerimdra Prabowo Subianto memberikan keterangan pers usai pertemuan internal di kediaman kawasan Kertanegara, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Indonesia/Safir MakkiPartai Demokrat, identik dengan sosok Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga Moeldoko punya pekerjaan berat untuk menghilangkan persepsi tersebut (Indonesia/Safir Makki)

PR Moeldoko

Jika memang ingin menjadi calon presiden dan meningkatkan elektabilitas, Moeldoko disebut memiliki pekerjaan rumah yang sulit. Sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang lekat dengan Demokrat adalah hal yang menjadi tantangan Moeldoko

“Paling susah pisahkan top of mind Demokrat dengan SBY. Itu yang PR dia nomor satu sekarang. Karena kalau kita tanya orang apa yang pertama kali anda pikirkan tentang Demokrat, pasti SBY,” ujar Direktur Eksekutif KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo

Kunto juga menyatakan Moeldoko tidak bisa mengambil publik pemilih yang loyal terhadap SBY.

“Maka moeldoko harus bangun dari nol lagi kan. Enggak bisa ambil publik pemilih Demokrat yang loyal terhadap SBY. Itu mungkin PR.

Lihat juga:

SBY: 10 Tahun Pimpin RI, Saya Tak Pernah Rusak Partai Lain

Sementara itu, Pengamat politik Universitas Andalas berpendapat berbeda. Menurutnya figur SBY tidak lagi memiliki nilai jual yang tinggi.

Ia mencontohkan pada Pilpres 2019 lalu, di mana SBY ikut turun gunung namun suara Demokrat tidak bertambah signifikan.

“Kalau SBY masih punya nilai jual, mestinya demokrat tidak 7-8 persen. Dari 20 sekian dan turun hingga 7 persen. Itu juga SBY udah turun tangan loh. Itu gambaran pamor SBY enggak ada lagi. Mestinya kemarin SBY turun waktu 2019 masih mungkin di atas 10 persen,” ujar dia.

Lihat juga:

Kepalkan Tangan, Moeldoko Datang ke KLB Demokrat di Sumut

(yoa/bmw)

[Gambas:Video ]