Pelesir ke Warisan Sejarah Meneer Bosscha di Lembang

Farah

Observatorium Bosscha menyajikan wisata astronomi dan alam melengkapi nuansa sejarah Kota Bandung yang berulangtahun ke-210 pada hari ini.

Jakarta, Indonesia —

Jauh dari hiruk pikuk turis yang menyemut di factory outlet atau kafe Instagramable di Bandung, hingga saat ini Observatorium Bosscha masih berdiri dengan gagah seakan menjadi saksi bisu modernisasi kota yang hari ini berulangtahun ke-210 itu.

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) atau Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda.

Adalah Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, Lembang, yang bersedia menyediakan lahan untuk pembangunan pusat ilmu pengetahuan astronomi ini, sekaligus membelikan teropong bintang.

Pilihan Redaksi
  • 8 Tempat Wisata Alam dari Sunrise ke Sunset di Purwakarta
  • 7 Rekomendasi Hotel Kontainer di Sekitar Jakarta
  • 7 Kebun Teh di Jawa Barat untuk Pemburu Pemandangan Hijau

Pembangunan Observatorium Bosscha dimulai sejak tahun 1923. Lima tahun sesudahnya baru dibuka.

Mengutip tulisan dari bosscha.itb.ac.id, publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II.

Observatorium Bosscha sempat rusak akibat Perang Dunia II. Usai perang reda, renovasi besar-besaran dilakukan.

Tepat pada 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah Republik Indonesia, yang lalu menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung dan berkembang sebagai pusat penelitian astronomi nasional.

Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya pada tahun 2004 dengan dasar UU Nomor 2 / 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Empat tahun kemudian, pemerintah Indonesia menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital Nasional yang harus diamankan.

Bukan tempat wisata

Observatorium Bosscha bukan tempat wisata, namun pengelola membuka program kunjungan terjadwal.

Untuk turis, program kunjungan ini terbagi menjadi dua, kunjungan siang dan malam.

Pada kunjungan siang, turis dapat melihat cara kerja teleskop Zeiss meski tak melakukan peneropongan dan mendapat informasi astronomi di ruang multimedia.

Biaya mengikuti sesi ini Rp15 ribu per orang.

Pada kunjungan malam, sesinya kurang lebih sama, namun turis diberi kesempatan meneropong langsung dengan teleskop portable dan teleskop Bamberg.

Sesi tersebut hanya bisa dilakukan saat langit cerah.

Kuota saat kunjungan hanya 180 orang dan biayanya Rp20 ribu per orang.

Informasi jadwal dan pendaftaran kunjungan siang atau malam ke Observatorium Bosscha bisa diketahui di sini.

Kebun Teh MalabarPerkebunan teh Malabar yang berada tak jauh dari Observatorium Bosscha. (DANIEL JULIE via Wikimedia Commons (CC-BY-2.0))

Tur wisata berpemandu

Jika ingin mengetahui lebih dalam soal sejarah Observatorium Bosscha dan objek wisata di sekitarnya, mungkin turis bisa mengikuti tur wisata berpemandu, yang salah satunya ditawarkan oleh Komunitas Aleut.

Mengutip tulisan dari blog Komunitas Aleut, wisata di sekitar Observatorium Bosscha bisa dimulai dari mengunjungi makam Bosscha yang disemayamkan pada tahun 1928.

Bentuk pusaranya sendiri memiliki rancangan yang sangat unik. Bagian atapnya menyerupai bentuk topi bundar yang sering dikenakan oleh Bosscha.

Atap tersebut kemudian ditopang oleh beberapa pilar-pilar besar layaknya sebuah bangunan bergaya Eropa.

Dari Makam Bosscha, turis diajak menuju sekolah yang dibangun Bosscha untuk memberikan pendidikan pada karyawannya serta masyarakat sekitar.

Mirip sekolah Laskar Pelangi di Belitung, bangunan sekolah ini tak terlalu besar. Fasadnya tegak berdiri menatap alam kawasan Pangalengan.

[Gambas:Instagram]

Rumah Bosscha sendiri berada tak jauh dari sekolah tersebut. Rumah dua kamar berukuran luas yang kini dikelola oleh Agrowisata Unit Malabar PTPN VIII itu kini telah disulap menjadi wisma yang dapat disewa oleh turis.

Setelah puas berfoto di rumahnya, turis lalu diajak menyambangi Pabrik Teh Malabar yang dikelola oleh Bosscha selama 32 tahun.

Produk unggulan yang diproduksinya adalah jenis teh hitam yang melalui proses oksidasi sempurna sehingga menghasilkan rasa dan warna yang khas.

Teh yang dihasilkan dari sini nantinya akan dikemas menjadi berbagai merek dengan spesifikasi berbeda-beda.

Teh merek Goalpara dan Gunung Mas diproduksi di sini. Merek lainnya bahkan ada yang sampai dijual ke Eropa.

Tur wisata berpemandu di sekitar Observatorium Bosscha lalu berakhir di Gunung Nini.

Walau judulnya gunung, namun area ini berupa bukit dengan pemandangan lembah. Turis bisa bersantai di gazebonya sembari menikmati kabut.

Jika beruntung, pemandangan Situ Cileunca bisa terlihat dari sini.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video ]

Next Post

Anggota DPRD DKI Fraksi Gerindra Positif Corona

Jakarta, Indonesia — Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra Abdul Ghoni dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh Ketua Fraksi DPRD DKI Jakarta, Rani Mauliani. “Hasil beliau (Ghoni) yang dilaporkan memang positif,” kata Rani kepada wartawan, Jumat (25/9). Rani mengatakan Ghoni dinyatakan positif setelah dites […]