Breaking News in Indonesia

OJK Ungkap Penurunan Suku Bunga Tak Dorong Pertumbuhan Kredit

Jakarta, Indonesia —

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan penurunan suku bunga kredit perbankan bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pertumbuhan kredit. Sebab, penyaluran kredit masih kontraksi meskipun suku bunga kredit perbankan sudah mulai turun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan berdasarkan data OJK, tren penurunan suku bunga selama pandemi belum mampu menjadi stimulus bagi pelaku usaha untuk menggunakan fasilitas kreditnya. Pantauan OJK juga menunjukkan bahwa penurunan bunga kredit modal kerja dan investasi tidak mempengaruhi jumlah penyaluran kredit perbankan.

“Upaya pemulihan ekonomi akan berjalan dengan baik jika semua pihak tidak berjalan sendiri namun senantiasa melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak/lembaga terkait dalam mengeluarkan kebijakan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (26/3).




Diketahui, sejak Januari 2020 suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun sebesar 150 basis poin (bps) menjadi menetap di 3,5 persen. Wimboh menyatakan penurunan tersebut telah ditransmisikan oleh perbankan sehingga Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) periode yang sama turun sebesar 101 bps, dari 11,32 persen menjadi 10,32 persen.

Serupa, Suku Bunga Kredit (SBK) turun sebesar 95 bps dari 12,99 persen menjadi 12,03 persen. Sayangnya, pertumbuhan penyaluran kredit masih melempem. Ini tercermin dari kontraksi kredit perbankan sebesar minus 2,15 persen (yoy) pada Februari 2021.

Sementara itu, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Maret 2021 masih relatif terjaga. Ini tampak dari indikator rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 3,21 persen dan NPL net 1,04 persen.

Lihat juga:

Bijakkah Gaji PNS Langsung Dipotong Untuk Zakat?

Serupa, likuiditas berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid atau Dana Pihak Ketiga (DPK) per 17 Maret 2021 terpantau pada level 160,41 persen dan 34,67 persen, di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Permodalan lembaga jasa keuangan juga terjaga pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio perbankan tercatat sebesar 24,61 persen.

Wimboh mengatakan OJK akan terus mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong bangkitnya sektor usaha yang dapat memberikan multiplier effect (efek ganda) tinggi bagi pemulihan perekonomian.

“OJK juga akan terus memperluas akses pembiayaan digital untuk UMKM sebagai daya ungkit bagi kegiatan perekonomian secara menyeluruh serta melanjutkan kebijakan stimulus melalui sektor keuangan untuk mendukung pertumbuhan sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja,” tuturnya.

[Gambas:Video ]

(ulf/age)