Breaking News in Indonesia

Nadiem Sebut Yang Terpenting dari Menteri Bukan Kuasai Bidang

Jakarta, Indonesia —

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menilai penguasaan bidang tugas bukan hal utama yang dibutuhkan agar kerja seorang menteri efektif mencapai target.

Bagi mantan bos Go-jek itu, yang terpenting adalah kemampuan manajerial alias kemampuan mengatur tim, keberanian, dan integritas.

“Ini mungkin enggak semua orang setuju. Tapi kalau mau jawab jujur, menurut saya yang terpenting [dari seorang menteri] itu bukan penguasaan terhadap bidangnya,” tutur dia, dalam Instagram Live bersama Youtuber Jerome Polin, dikutip Selasa (30/3).

“Kalau di level menteri menurut saya yang terpenting adalah satu, kemampuan manajerial. Bisa enggak getting things done? Dan itu adalah satu skill, gimana mengumpulkan satu tim, me-manage satu tim untuk mencapai suatu goal,” lanjut Nadiem.

Nadiem mengaku secara pribadi mendorong bawahannya terbuka dan berani mengungkapkan pendapat, terlebih jika menilai ada yang salah dari kebijakannya.

“Saya sebagai menteri, sebagai orang yang membuat keputusan. Saya selalu bilang sama bawahan saya, kalau kalian kerjanya cuma bilang iya-iya saja ke saya, saya enggak ada gunanya buat Anda. Saya perlu tim yang siap protes,” ucapnya.

Lihat juga:

Jokowi: Mas Menteri Nadiem Minta Waktu 100 Hari Atur Program

Dari sisi keberanian, Nadiem juga menyebut seorang menteri harus berani bersiap digeser dari posisinya atau diserang publik demi mendorong kepentingan masyarakat.

Sementara dari sisi integritas, dia menyebut itu merupakan nomor satu yang dibutuhkan pejabat publik. Tanpa integritas, katanya, seorang menteri akan sulit mengambil keputusan yang lebih menguntung masyarakat dibanding dirinya sendiri.

Diketahui, periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo membuka kesempatan pertama kali Nadiem menjabat sebagai pejabat publik. Sebelumnya Nadiem bergelut di swasta dan dikenal sebagai pengusaha muda di bidang teknologi.

Infografis Kebijakan 'Kampus Merdeka' ala Menteri NadiemInfografis Kebijakan ‘Kampus Merdeka’ ala Menteri Nadiem. (Foto: Indonesia/Basith Subastian)

Dipilihnya Nadiem sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan sempat menggegerkan publik. Bukan hanya karena usianya yang masih tergolong muda (36 tahun), tapi juga karena latar belakangnya yang tidak berkaitan dengan pendidikan.

Pengamat dan praktisi pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, menilai kepemimpinan Nadiem sejauh belum menghasilkan satu pun inovasi pendidikan.

Menurutnya, bayak program sekadar penggantian nama dari program yang sudah ada sebelumnya tanpa kebaruan konsep.

Lihat juga:

Mas Menteri Nadiem dan Sederet Tudingan Program Copy-Paste

“Sekilas terlihat bahwa tidak inovasi baru pada program Kemendikbud, semuanya sebatas ganti nama saja. Dan tentunya memakan anggaran lebih banyak,” kata Indra, Selasa (20/10/2020).

Indra mencontohkannya dengan program Sekolah Penggerak, Guru Penggerak, Program Organisasi Penggerak (POP), penghapusan Ujian Nasional (UN), yang sebenarnya bukan terobosan baru yang mampu mendongkrak kualitas pendidikan.

(fey/arh)

[Gambas:Video ]