Breaking News in Indonesia

Minggu Palma, Kenangan akan Kedatangan Yesus di Yerusalem

Jakarta, Indonesia —

Bagi umat Katolik, perayaan Minggu Palma menandai awal Pekan Suci jelang kebangkitan Yesus. Sejak tahun lalu rasanya situasi pandemi merenggut kemeriahan Minggu Palma dan berganti jadi ibadah online.

Meski tak ada perarakan dan lambaian daun palma berjamaah, tentu makna Minggu Palma tidak luntur begitu saja. Terlebih umat tetap bisa menggenggam sebatang daun palma atau palem segar sembari memuji Tuhan.

Minggu Palma merupakan perayaan dalam rangka mengenang kedatangan Yesus di kota Yerusalem. Mengutip dari Katolik News, Yesus mengendarai keledai yang sarat akan simbol perdamaian, bukan kuda yang identik dengan perang.

Pilihan Redaksi
  • Pastor: Misa Online, Paskah, dan ‘Berkawan’ dalam Kerinduan
  • Makna Rabu Abu, Dari Debu akan Kembali Jadi Debu

Yesus disambut meriah bak raja. Bernadus Boli Ujan, SVD., rohaniwan Katolik, dalam tulisannya di Katolisitas menyebut khalayak bersorak, bernyanyi dengan melambaikan daun palma. Hal ini tertulis dalam Injil Yohanes 12:13.

“Mereka (orang banyak) mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”

Kemudian dalam Injil Matius, Markus dan Lukas disebut orang banyak menghamparkan pakaian mereka di jalan. Tidak seperti Yohanes, Markus dan Matius menuliskan orang-orang memotong ranting-ranting pohon dan disebarkan di jalan.

Perayaan Minggu Palma dengan simbol daun palma memiliki makna pujian dan kemuliaan, kemenangan dan damai. Bernadus menambahkan arti simbolis daun palma pun tertulis dalam kitab Wahyu 7:9-10.

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Pada akhirnya, masa awal Pekan Suci ini pun kita diingatkan bahwa ada kerelaan Yesus untuk masuk kota Yerusalem meski tahu Dia akan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Stefanus Tay dan Ingrid Listiati, pasangan suami istri awam yang menyelesaikan studi S2 di Universitas Ave Maria – Institute for Pastoral Theology, AS, mengingatkan bahwa Dia melakukannya dengan sukacita.

“Sukacita dan salib bagi Kristus adalah bagaikan dua permukaan pada satu koin atau dua serat jalinan benang. Itu adalah dua hal yang terjalin karena cinta, namun cinta inilah yang mengalahkan dunia dan segala kejahatan,” tulis mereka di laman Katolisitas.

(els/chs)

[Gambas:Video ]