dikemas jadi tafsir-tafsir tersirat dalam obyek wayang bernuansa kekinian

Jakarta () – Ia dikenal berkat seni lukis kontemporernya yang unik dan kental, menghadirkan Indonesia dalam setiap karyanya dengan sentuhan budaya Jawa dalam setiap karya seninya.

Sosok itu adalah Heri Dono, seorang seniman asal Yogyakarta yang mengagumi seniornya Affandi dan Sudjana Kerton yang juga merupakan maestro di industri seni lukis.

Heri Dono sangat terinspirasi oleh figur- figur yang dikisahkan dalam cerita wayang kulit, maka dari itu ia pun percaya mengkritisi kebijakan atau situasi saat ini masih sangat relevan dan aman bila digambarkan lewat sebuah karya seni.

"Karya-karya yang dieksplorasi tak hanya untuk kepentingan seniman. Melainkan harus berdampak sosial,” ujar Heri Dono menggambarkan nafas kehidupan di balik karya- karyanya.

Di tengah kesesakan akibat pandemi COVID-19 pun, Heri Dono tetap berkarya menghasilkan karya tidak hanya dari sisi pandemi namun menyentuh kondisi kebudayaan sosial hingga potret flora fauna terkini di Tanah Air.

Karyanya itu dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk "2020 PAN-Asian Perspective" yang hadir di Galeri Seni Srisanti Syndicate.

Terbaru ia menggelar pameran tunggal edisi COVID-19 berkolaborasi dengan Galeri Tirtodipuran Link bernama "Kala Kali Incognito" selama tiga bulan lamanya mulai akhir 2020 hingga awal 2021.

Dalam pameran "Kala Kali Incognito" ia ingin menggambarkan sebuah pertempuran di tengah kebutaan tanpa adanya harapan melawan roda waktu. Semua tokoh rakyat biasa divisualisasikannya sebagai boneka atau wayang.

Kita mengenal Kala, yaitu dewa dalam mitologi Jawa yang ingin menelan bulan dan perlahan membawa bumi dalam kegelapan.

Bulan yang ingin ditelan Kala itu diibaratkan sebagai waktu oleh Heri Dono.

Peraih penghargaan dari UNESCO untuk Prize for the International Art Biennial, Shanghai, Tiongkok pada tahun 2000 itu ingin menyampaikan kondisi dewasa ini bahwa segala sesuatu dalam hidup merupakan paradoks.

Tokoh- tokoh dalam lukisan "Kala Kali Incognito" berada di tengah kebutaan dan merupakan pejuang semu atau pahlawan palsu.

Ada juga karyanya yang bertajuk "Corona as a Puppet" yang menampilkan dua wayang robotik penguasa seolah bermain dengan boneka yang tertali bernama virus corona di tangan mereka.

Satu wayang ditokohkan sebagai ahli politik serta konspirasi pemilik banyak mata, sementara satunya lagi merupakan Jendral yang menjadi boneka yang ahli tampil di layar kaca.

Satire unik lainnya juga dimunculkan dalam karya yang berjudul "Three Wise Monkeys Find the Vaccine", "The Stage of Trade World War", dan "Battle of the Invisible Enemy".

Tampil beda dari "pop art" sebagai arus utama

Karya lukis seniman Heri Dono. Berjudul “Captain Tug” (2009). (/HO/Heri Dono)

Heri Dono tak ingin karyanya sekadar menghibur namun juga bisa membawa dampak yang baik, tentu visinya itu tidak mudah karena harus membawa seni rupa Indonesia to the next level.

Ia tak mau melukis hanya sekadar untuk ajang pamer teknik belaka, tapi juga ingin menghidupkan keberagaman seni lukis yang tentunya tak senada dengan arus utama saat ini yaitu pop art.

Lewat karya-karya instalasinya, sang seniman memberikan bahan perenungan kepada penikmat karyanya sehingga mereka bisa mendapatkan rhema dan bisa menjadi bijak sebagai insan manusia.

Maka tak perlu heran ketika ia memiliki nama yang harum di kancah internasional, ia membawa seni lukis Indonesia masuk ke dalam festival mancanegara.

Sebut saja pada 1987 ia perdana menampilkan karyanya "Sandiwa" di Culturan Center of the Philippines di Manila, lalu sepak terjangnya di pameran "Three Indonesian Artists" yang berlangsung di Belanda.

Ada juga jejak- jejak seninya yang sempat dilihat oleh warga negara asing lewat instalasi- instalasinya seperti di Venice Biennale ke-56 pada 2015, Deutsche Guggenheim di Frankfurt, Fukuoka Art Museum di Jepang, Singapore Art Museum, National Gallery of Australia di Canberra, hingga di Tropenmuseum, Amsterdam.

Sepak terjang Heri Dono pun diakui oleh pecinta karya seni rupa kelas internasional, Raden Rahmat Bastian.

Ia mengakui kehebatan sang perupa dalam menggambarkan karya seni yang bisa menyentuh hati setiap penikmat seni.

"Kebetulan saat Olimpiade Sydney 2000 berlangsung, saya berkesempatan melihat karya instalasi Heri Dono di Museum Nasional Australia di Canberra. Jadi sejak 21 tahun lalu, di mata saya, Heri Dono sudah memenuhi syarat kualifikasi seniman kaliber internasional," ujar Raden.

Raden pun menyebutkan Heri Dono menjadi tokoh seni lukis Indonesia yang bisa memberikan sentuhan segar lewat karya yang memiliki balutan budaya yang kaya.

Sentuhan segar itu dinilai menjadi inti yang bisa menggambarkan situasi dan kondisi terkini yang tengah terjadi di masyarakat tak hanya Indonesia tapi juga dunia.

"Kemampuannya menganalisa suatu persoalan kritis dikemas jadi tafsir-tafsir tersirat dalam obyek wayang bernuansa kekinian, membuatnya beda dari seniman yang lain," imbuh Raden Rahmat Bastian seraya menambahkan karya seni Heri Dono beredar pada pameran kelompok maupun tunggal di seluruh penjuru dunia yang dipamerkan Galeri Apik Jakarta dan Rossi & Rossi London, seperti di ArtStage Singapore pada 2014.

Karya hasil kesatuan

Dalam setiap karyanya Heri Dono selalu ingin menonjolkan sisi seniman yang harus multitalenta dengan pemikiran holistik.

Ia tak mau seni diidentikan hanya dengan simbolik kanvas, cat, serta kuas tapi dinilai sebagai cara berkomunikasi yang melulu dijelaskan lewat kata- kata.

Sebenarnya yang menarik dari instalasi seni adalah kita (seniman) mengacu pada konsep-konsep prespektif mandala. manusia yang melihat dan seni ada pada ruang yang sama. Sama-sama subjek yang saling terkoneksi,"ujar Heri Dono.

Dalam pandangannya seniman itu bukan hanya menjadi perupa tapi juga harus memahami banyak hal termasuk sosial politik, teknologi, serta perkembangan ilmu pengetahuan lainnya.

Maka dari itu, setiap karya yang dihasilkannya terasa memiliki suara dan makna yang mendalam.

Begitulah Heri Dono, seorang seniman yang hadir dan tercipta berkat kesatuan lingkungan sekitarnya yang holistik sehingga karyanya pun terasa selalu menyatu dengan segala kondisi dan situasi terkini.

Baca juga: 100 kartunis Indonesia bertemu di Borobudur

Baca juga: Seni Indonesia dipamerkan di Louis Vuitton Paris

Baca juga: Heri Dono "serang balik" kolonialisasi lewat seni

Oleh Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © 2021