Breaking News in Indonesia

Menkeu Ungkap Produktivitas RI Tak Pernah Pulih Sejak Krisis

Jakarta, Indonesia —

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kontribusi produktivitas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak pernah pulih sejak terjadi krisis keuangan Asia pada 1997-1998 silam.

“Pemulihan ekonomi terjadi tapi produktivitas kontribusinya tidak pernah recover (pulih) seperti sebelum terjadi krisis Asia,” katanya pada rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin (31/5).

Bendahara Negara menyebut pada periode 1994-1996 atau sebelum terjadinya krisis, tingkat produktivitas mencapai 3,1 persen. Kemudian anjlok menjadi minus 5,2 persen pada pada periode 1997-1999, membuat pertumbuhan ekonomi minus 2,5 persen.

Kemudian, pada periode 2000-2008, meski terjadi perbaikan namun produktivitas hanya sebesar rata-rata 2,8 persen terhadap pertumbuhan ekonomi periode itu yang sebesar 5,2 persen. Lalu, saat Global Financial Crisis melanda pada 2009, produktivitas lagi-lagi terjun menjadi 1 persen dari rata-rata pertumbuhan 4,6 persen.

Selama satu dekade selanjutnya, produktivitas RI tercatat relatif rendah dengan rata-rata hanya 1,6 persen dengan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen. Belum berhasil bangkit, Indonesia kembali dihantam krisis pandemi covid-19. Pada 2020, produktivitas menjadi minus 5 persen saat pertumbuhan negatif 2,1 persen.

Bahkan, dari proyeksi Ani, akrab sapaannya, hingga 2025 pun produktivitas belum pulih betul dan hanya berkisar di angka 2,4 persen dengan pertumbuhan 6 persen.

Oleh karena itu, untuk menggenjot pertumbuhan, ia menilai akan lebih baik menggenjot komponen lain di luar produktivitas, seperti investasi atau modal dan tenaga kerja. “Ini lah kenapa reformasi struktural menjadi sangat penting,” katanya.

Baca juga:

Dua Skema Tax Amnesty Jilid II

Dengan reformasi struktural lewat UU Cipta Kerja, ia optimis komponen investasi dan ekspor bakal menjadi sumbangsih utama pertumbuhan ekonomi, melebihi konsumsi rumah tangga.

Pada 2022 misalnya, ia memproyeksikan investasi bakal bertumbuh 6,9 persen dan ekspor sebesar 6,8 persen, sedangkan konsumsi RT hanya 5,3 persen.

Tren serupa juga berlanjut hingga 2025 dengan rentang pertumbuhan investasi sebesar 7,1 persen-7,8 persen dan ekspor direntang 6,9 persen-7,5 persen. Sementara konsumsi RT stagnan di level 5,2 persen.

“Apabila kita melakukan reformasi dan berhasil dan efektif, kontribusi dari pertumbuhan ekonomi yang berhasil dari investasi dan ekspor menggambarkan pertumbuhan lebih tinggi,” bebernya.

[Gambas:Video ]

(wel/age)