Breaking News in Indonesia

Membedakan Sepi dan Kesepian saat Pandemi

Pandemi, di rumah aja, dan sulit bertemu dengan teman-teman tak pelak memicu kesepian. Tapi bedakan antara sepi dan kesepian.

Jakarta, Indonesia —

Pandemi, di rumah aja, dan sulit bertemu dengan teman-teman tak pelak memicu kesepian. Kesempatan jumpa tatap muka harus digantikan dengan berjumpa via suara atau panggilan video.

Namun pada kenyataannya, pandemi bukan hanya menyebabkan kesepian secara fisik. Lebih dalam dari itu, pandemi juga memperparah kesepian dalam lubuk hati.

Psikolog Klinis Roslina Verauli menyebut dalam kondisi ramai saja, orang bisa merasa kesepian.

“Kesepian, loneliness, itu penghayatan subjektif bahwa kita merasa sepi sendiri. Karena penghayatan subjektif, orang yang sendirian tidak selalu ‘lonely’, sedangkan orang yang di tengah keramaian bisa ‘lonely‘,” jelas Vera kepada Indonesia.com beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, orang kerap sulit membedakan kesepian dan keinginan untuk menyendiri. Keduanya sekilas serupa. Vera menjelaskan kesepian alias lonely berarti orang tersebut berada di situasi yang membuat dia kesepian. Situasi ini bukan atas pilihan orang tersebut. Kemudian, kesepian ini bisa saja memicu masalah kesehatan mental.

Sementara keinginan untuk menyendiri atau alone berarti orang menikmati masuk ke dalam dirinya, merenung, introspeksi, juga berpikir mendalam atas pilihannya.

“Dia memilih situasinya, dalam sendirian dia menemukan makna hidup. Pergi ke kafe sendirian, di rumah sembari melihat jendela, enjoy seharian enggak ada kegiatan,” imbuh Vera.

Tidak hanya karena pandemi dan keterbatasan dalam interaksi sosial, kesepian bisa disebabkan orang tidak memiliki teman. Vera menyebut orang yang tidak memiliki teman berarti ada hambatan dalam interaksi sosial atau tidak ada kesempatan untuk berelasi.

Kesempatan untuk relasi atau interaksi personal rendah misal seseorang pernah dalam situasi sehingga kematangan emosional tidak berkembang. Saat kondisi emosional tidak berkembang, timbul penghayatan diri yang negatif.

“Jangan-jangan ada penghayatan rejection atau menolak orang lain sebelum ditolak. Jadi daripada interaksi sama orang lain terus ditolak mendingan menarik diri. Ketemu orang susah dekatnya, membatasi diri, menunjukkan penolakan,” jelas Vera.

Lihat juga:

Kasus Bunuh Diri Meningkat, Jepang Longgarkan Isolasi Covid

Cara mengatasi kesepian

Keterbatasan dalam interaksi sosial bisa diatasi dengan meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Ini bisa dimulai dengan meningkatkan kualitas komunikasi lewat meningkatkan waktu dengan keluarga.

Kemudian kesepian secara umum bisa diatasi dengan pemenuhan kebutuhan dasar termasuk istirahat cukup, cukup nutrisi dari makanan, rasa aman, juga tubuh sehat. Ada koneksi dengan alam sesederhana berjemur di pagi hari. Kemudian bisa mencoba memelihara hewan dari kelompok mamalia.

“Jadi kita terlibat secara aktif memelihara, ada impact sama hewan, lalu ada feedback ke kita secara emosional dan sosial,” imbuhnya.

(els/chs)

[Gambas:Video ]

Tulisan ini merupakan bagian dari kumpulan artikel dalam Fokus: “Berdamai dengan Kesepian”