Breaking News in Indonesia

Melihat Silat Kuntow sampai Bekantan di Desa Anjir Muara

Jakarta, Indonesia —

Desa Wisata Anjir Muara di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, bertekad menjadi destinasi wisata nasional bermodalkan bentang alam yang indah serta kearifan lokal yang mempesona.

“Melalui dukungan penuh Bupati Barito Kuala Noormiliyani yang juga pembina SBI foundation, bersama para pemangku kepentingan di Batola, kami bertekad menjadikan kawasan Muara Anjir sebagai destinasi desa wisata nasional,” kata Amalia Rezeki selaku Founder Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di Banjarmasin, Minggu (11/4).

Adapun potensi yang dimiliki desa pesisir Sungai Barito di Kecamatan Anjir Muara itu antara lain kawasan hutan mangrove rambai dengan berbagai kekayaan flora dan fauna, seperti terdapatnya satwa ikon kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan yaitu bekantan (Nasalis larvatus).

Kemudian hamparan sawah pasang surut, kehidupan petani dan nelayan yang harmonis menyatu dengan alam.

Pilihan Redaksi
  • Ada Jembatan Meliuk Bak ‘Roller Coaster’ di Sungai Martapura
  • Sempat ‘Hilang’ di Peta, Kini Pulau Curiak Kian Mendunia
  • Kemenpar: Wisata Pengamatan Hiu Paus di Gorontalo Terbaik

Adanya pasar terapung ikan, sedekah sungai dan kesenian pencak silat kuntow juga semakin memperkaya khasanah kearifan lokal masyarakat yang hidup bergantung dengan lingkungan sungai.

“Di kawasan ini juga dapat menikmati panorama matahari terbit dan tenggelam yang menghiasi langit di seputaran desa wisata,” beber Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, seperti yang dikutip dari ANTARA.

Sebelumnya SBI terlebih dahulu membuka akses wisata alam di kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, melalui Stasiun Riset Bekantan dan Mangrove Rambai Center yang telah mendunia.

Amel mengatakan pembangunan destinasi desa wisata di Anjir Muara yang saat ini mereka kembangkan, berpegang pada konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Upaya pengembangan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan diarahkan agar dapat memenuhi aspek ekonomi, sosial dan estetika sekaligus dapat menjaga keutuhan dan kelestarian ekologi, keanekaragaman hayati, budaya serta sistem kehidupan masyarakat.

Di kawasan desa wisata tersebut terdapat habitat bekantan yang merupakan satwa endemik Kalimantan yang dilindungi oleh Lembaga Konservasi Internasional IUCN dengan status endangered atau terancam punah. Maka prinsip-prinsip konservasi wajib diterapkan.

Untuk itulah, tambah Amel, pengembangan desa wisata harus menerapkan prinsip-prinsip pelestarian serta dalam hal pemanfaatannya agar tidak melampaui daya dukung lingkungan.

“Kapasitas maksimum daya dukung dari suatu destinasi dalam mendukung kebutuhan berbagai pemanfaatan tidak akan merusak alam, budaya maupun lingkungan,” jelasnya.

Sementara Camat Anjir Muara Jaya Hidayatullah mengatakan perangkat desa didampingi SBI telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di tiga kawasan yaitu Pokdarwis Pesona Batola Setara, Pokdarwis Muara Kanoko Lestari dan Pokdarwis Taman Mangrove Rambai Lestari.

Harapannya Pokdarwis tersebut dapat segera menggerakkan potensi desanya masing-masing menjadi destinasi unggulan di Batola. Bahkan menjadi destinasi desa wisata nasional.

“Tentunya ini bisa dicapai jika semua pihak yang berkepentingan saling bahu membahu dalam mewujudkannya,” timpalnya.

Staf Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Andi Maipa Dewandaru yang berkesempatan mengunjungi Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak mengatakan, potensi ekowisata konservasi bekantan yang dipadukan dengan keberadaan desa wisata di Kecamatan Anjir Muara perlu dikembangkan lebih maju lagi.

Dia berjanji melaporkan keberadaan potensi wisata di Kalsel tersebut kepada Menteri Sandiaga Uno mengingat saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di tanah air.

“Saya kagum dan mengapresiasi dengan apa yang telah dilakukan Amel beserta tim dalam mengembangkan wisata minat khusus di kawasan Pulau Curiak hingga mendunia,” katanya.

(ANTARA/ard)

[Gambas:Video ]