Malang Heritage, Spot Wisata Rasa Maliboro dan Braga di Malang

Farah

Rencananya, kawasan Malang Heritage akan dibuat menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta atau Jalan Braga yang ada di Bandung.

Jakarta, Indonesia —

Proyek pembangunan Malang Heritage, di Kota Malang, Jawa Timur, dimulai pada 9 November 2020. Rencananya, kawasan ini akan dibuat menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta atau Jalan Braga yang ada di Bandung.

Pembangunan Malang Heritage diharapkan mampu memutar perekonomian warga sekitar yang dikemas dalam konsep wisata warisan budaya.

Wali Kota Malang, Sutiaji, mengatakan bahwa di sepanjang koridor Malang Heritage atau kawasan Kayutangan tersebut, tidak akan diperbolehkan pedagang kaki lima untuk beroperasi.

“Nantinya tidak ada pedagang kaki lima di sini. Jadi, pada saat wisatawan datang, ingin membeli makanan atau oleh-oleh, akan diarahkan ke perkampungan yang ada,” kata Sutiaji seperti yang dikutip dari ANTARA pada Kamis (12/11).

Pilihan Redaksi
  • Pencarian Kedamaian dalam Setiap Petualangan Richard Kyle
  • 7 Hotel Bergaya Rumah Pohon untuk Staycation
  • Tersesat Ala ‘The Maze Runner’ di Taman Labirin Coban Rondo

Sutiaji lanjut menjelaskan, perkampungan yang ada di sekitar kawasan Kayutangan tersebut, saat ini kondisinya sudah tertata rapi.

Kawasan Kayutangan, atau yang saat ini dikenal sebagai Jalan Basuki Rachmad,merupakan pusat perdagangan, dan pertokoan pada masa Hindia Belanda.Di kawasan tersebut, berderet bangunan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Sebelumnya, kawasan itu merupakan area perkampungan kuno di tengah hutan, yang dibuktikan dengan adanya prasasti Kerajaan Kediri.

Pada tahun 1.800-an, jalan setapak tersebut diperbesar setelah pasukan Belanda masuk ke Kota Malang, yang pada akhirnya membuka perkampungan bernama Kampung Kayutangan.

Saat ini di perkampungan itu masih cukup banyak bangunan peninggalan era Hindia Belanda kokoh berdiri. Bangunan-bangunan tua tersebut, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melakukan swafoto.

Selain bangunan rumah, juga terdapat saluran air peninggalan Belanda yang menjadi titik favorit wisatawan.

Nantinya, masyarakat perkampungan akan menjual makanan khas Malang akan dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dari tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga Kelurahan.

Selain itu, lanjut Sutiaji, kawasan Malang Heritage juga bakal diintegrasikan dengan para wisatawan yang akan berkunjung ke Bromo Tengger Semeru (BTS).

Pada umumnya, wisatawan baru akan memulai perjalanan ke kawasan BTS pada tengah malam.

“Orang yang akan ke Bromo, biasanya akan menunggu hingga dini hari. Sebelum berangkat, bisa menunggu di kawasan Malang Heritage ini,” ujar Sutiaji.

Pendanaan proyek pembangunan Malang Heritage di kawasan Kayutangan tersebut, sebagian besar berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), dengan total mencapai Rp23 miliar.

(ANTARA/ard)

[Gambas:Video ]


Next Post

Tak Mampu Bayar Sewa, 10.000 Warteg Pindah dari Jakarta Sejak PSBB

Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara), Mukroni mengungkapkan, mulai terjadinya tren migrasi Warteg ke sejumlah daerah penyanggah ibukota. Menyusul kian tak terjangkaunya kemampuan pelaku bisnis kecil untuk membayar tempat sewa usaha di lahan ibu kota. “Kondisi saat ini jelas temen-temen warteg mulai kesulitan membayar sewa di Jakarta. Ini mengakibatkan […]