Macron Kritik Media soal Sikap Prancis Atas Ekstremisme Islam

Farah

Presiden Emmanuel Macron mengkritik liputan sejumlah media asing terkait sikap Prancis terhadap ekstremisme Islam.

Jakarta, Indonesia —

Presiden Emmanuel Macron mengkritik liputan sejumlah media asing terkait sikap Prancis terhadap ekstremisme Islam.

Kritik Macron ditujukan pada pemberitaan media berbahasa asing yang disebutnya sama dengan kekerasan yang “melegitimasi”.

“Ketika Prancis diserang lima tahun lalu, setiap negara di dunia mendukung kami,” kata Macron kepada Ben Smith dari The New York Times seperti dilansir AFP.

“Jadi ketika saya melihat, dalam konteks itu, beberapa surat kabar yang saya yakin ini berasal dari negara-negara yang berbagi nilai-nilai kita … ketika saya melihat mereka melegitimasi kekerasan ini, dan mengatakan bahwa inti masalahnya adalah bahwa Prancis itu rasis dan Islamofobia, maka saya mengatakan prinsip-prinsip dasar telah hilang,” ucapnya.

Dalam kolomnya, Smith mengatakan jika Macron menganggap jika media asing gagal memahami ‘laicite’ atau sekularisme, pilar kebijakan dan masyarakat Prancis.

Macron menjadi sorotan akibat sejumlah pernyataannya yang dinilai menghina Islam, dan menuai kecaman dari negara mayoritas Muslim di penjuru dunia, salah satunya Indonesia.

Pernyataan Macron hingga saat ini menuai kecaman setelah menyatakan Islam sebagai agama yang mengalami krisis di dunia.

Tak hanya itu, ia juga tidak melarang penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad SAW oleh media satire Charlie Hebdo yang menuai kritik keras. Macron beralasan tidak melarang penerbitan ulang demi mempertahankan kebebasan berpendapat.

Sejauh ini Macron berdalih negaranya sedang memerangi “separatisme Islam, bukan Islam”. Ia mengklaim sejumlah media, termasuk Financial Time salah kutip pernyataannya dan sejak itu, artikel tersebut telah dihapus dari situs surat kabar.

Lihat juga:

Menlu Prancis Kunjungi Mesir Demi Redakan Tensi dengan Muslim

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada editor surat kabar itu, Macron mengatakan surat kabar Inggris itu menuduhnya “menstigmatisasi Muslim Prancis untuk tujuan pemilihan dan menumbuhkan iklim ketakutan dan kecurigaan terhadap mereka.

“Saya tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengklaim bahwa Prancis atau pemerintahnya, mendorong rasisme terhadap Muslim,” ujar Macron seperti dikutip dari AFP, Kamis (4/11).
 
Sebuah artikel opini yang ditulis oleh seorang koresponden Financial Times yang diterbitkan Selasa menuduh bahwa kecaman Macron atas “separatisme Islam” berisiko mendorong “lingkungan yang tidak bersahabat” bagi Muslim Prancis.
 
Artikel itu kemudian dihapus dari situs web surat kabar itu dan diganti dengan pemberitahuan bahwa artikel itu “mengandung kesalahan faktual”.

(evn)

[Gambas:Video ]


Next Post

Gunung Merapi Siaga, Jumlah Pengungsi Tembus 1.831 Jiwa

Jakarta, Indonesia — Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah warga yang mengungsi bertambah menjadi 1.831 jiwa imbas status siaga Gunung Merapi per 15 November 2020. Jumlah ini terdiri dari warga Kabupaten Magelang sebanyak 828 jiwa, Boyolali 401 jiwa, Klaten 388 jiwa, dan Sleman 214 jiwa. “Sebagian besar […]