Lufthansa Catat Rugi Bersih Rp33,77 T Akibat Covid-19

Farah

Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa membukukan kerugian bersih sebesar 2 miliar euro pada kuartal III 2020 atau setara Rp33,77 triliun.

Jakarta, Indonesia —

Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa membukukan kerugian bersih sebesar 2 miliar euro pada kuartal III 2020, setara Rp33,77 triliun (mengacu kurs Rp16.889 per euro). Kinerja itu memburuk dibandingkan periode yang sama tahun lalu dimana perseroan mampu mengantongi keuntungan 416 juta euro.

Mengutip AFP, Kamis (5/11), perseroan menghadapi musim dingin yang sulit dan menantang di tengah pandemi covid-19 yang menyebabkan penguncian wilayah (lockdown). Kepala Eksekutif Lufthansa Carsten Spohr menuturkan kapasitas pesawat hanya terisi 20 persen, sehingga menekan pendapatan perseroan selama Juli-September.

“Kami sekarang berada di awal musim dingin yang akan sulit dan menantang bagi industri kami,” katanya.




Ia menuturkan perseroan berhasil menekan kerugian tersebut melalui langkah efisiensi, seperti penghematan biaya dan perluasan rute penerbangan pada musim panas lalu. Rencananya, maskapai penerbangan terbesar di Eropa berencana menambah kapasitas terbang menjadi 25 persen pada Oktober hingga Desember guna mendorong pendapatan.

Lufthansa sempat mendapatkan bantuan likuiditas dari pemerintah Jerman sebesar 9 miliar euro pada Juni, melalui pengalihan 25 persen saham perseroan kepada pemerintah pada Juni lalu. Bantuan tersebut mampu menopang keuangan perseroan yang tertekan akibat anjloknya pendapatan pada awal masa pandemi.

Namun, kembali diberlakukannya lockdown di sejumlah negara termasuk di Jerman sendiri, kembali memperburuk prospek sektor penerbangan. Selain Jerman, negara Eropa lain yang melakukan lockdown akibat kenaikan kasus covid-19 adalah Prancis dan Inggris.

Lihat juga:

Penumpang Internasional Bandara Soetta Tembus 77 Ribu

Karenanya, Spohr mendesak pemerintah memperluas tes cepat covid-19. Jadi, kebijakan lockdown bisa dikurangi sehingga masyarakat bisa kembali bepergian.

Meski merugi, namun Spohr menuturkan arus kas perseroan bisa kembali tumbuh positif pada 2021. Asal, kondisi memungkinkan terjadinya peningkatan kapasitas pesawat menjadi sekitar 50 persen.

Sebelumnya, pihak maskapai telah menyampaikan sebanyak 30 ribu pekerjaan berada di bawah ancaman PHK. Alasannya, jam terbang Lufthansa pada musim dingin ini anjlok menuju level terendah sejak 1970-an.

Lihat juga:

AP I Siap Dukung Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung

Namun, Dewan Direksi Lufthansa mengatakan mereka menemukan kesepakatan membatasi jumlah PHK melalui kerja paruh waktu dan pemotongan gaji.

Perseroan memiliki sejumlah entitas anak perusahaan di sektor penerbangan. Meliputi, Swiss, Austrian, Brussels Airlines dan Eurowings. Spohr berharap Lufthansa tetap bisa menjadi grup maskapai penerbangan Eropa terkemuka setelah proses restrukturisasi yang tidak terhindarkan akibat pandemi.

[Gambas:Video ]

(ulf/age)


Next Post

Berkas Lengkap, Pembobol BNI Maria Lumowa Segera Disidang

Polisi telah menyelesaikan berkas perkara tersangka kasus pembobolan kas Bank BNI melalui L/C fiktif, Maria Pauline Lumowa alias P21. Pelimpahan tahap II yakni penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan pun dilakukan hari ini. “Tahap II hari ini,” kata Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika saat dikonfirmasi, Jumat (6/11). Menurut […]