Libur Natal, Penjualan Mebel dan Perabotan di AS Meroket

Farah

Penjualan mebel dan perabotan rumah tangga di AS meroket pada musim libur Natal dan Tahun Baru.

Jakarta, Indonesia —

Penjualan ritel mebel dan perabotan rumah tangga di AS meroket pada musim libur Natal dan Tahun Baru. Bahkan, Mastercard SpendingPulse melansir penjualan tersebut sukses mendongkrak angka pertumbuhan penjualan ritel di AS.

Penjualan di musim liburan yang lebih panjang dari biasanya ini juga ditopang oleh penawaran dan promosi khusus. Tujuannya, untuk memberikan insentif kepada pelanggan agar melakukan pembelian lebih awal guna menjamin barang sampai tepat waktu.

Penjualan belanja online juga tercatat tumbuh 49 persen antara 11 Oktober hingga 24 Desember. Contoh nyata bagaimana pandemi covid-19 mengubah kebiasaan berbelanja masyarakat.




Namun, penjualan ritel eceran di detik-detik terakhir mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, dengan penjualan daring berkontribusi sebesar 19,7 persen dari total penjualan ritel.

Sementara Black Friday, hari libur tidak resmi yang jatuh pada 26 Desember setiap tahun, tercatat sebagai hari belanja tersibuk musim ini.

“Lonjakan dalam penjualan dan tanggal belanja adalah bukti musim liburan dan kekuatan pengecer dan konsumen,” kata Penasihat Senior untuk Mastercard sekaligus mantan CEO dan Ketua Saks Incorporated Steve Sadove dikutip dari Business, Senin (28/12).

Sadove menyebut kini konsumer Amerika Serikat mendefinisikan ulang arti ‘liburan’ dan mendekorasi rumah saat musim liburan menjadi ekspresi yang unik pada era pandemi 2020 ini.

Lihat juga:

Harga Minyak Dunia Lesu usai Libur Natal

“Mereka berbelanja dari rumah untuk membeli perabotan rumah yang menyebabkan rekor pertumbuhan e-commerce,” lanjut dia.

Sementara itu, department store dan merek pakaian juga mengalami penurunan penjualan, masing-masing menyusut 10,2 persen dan 19,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan sama.

Sepanjang tahun ini telah terjadi tren kebangkrutan, setidaknya 30 perusahaan ritel dan restoran telah menyatakan bangkrut akibat menumpuknya utang dan berubahnya tren belanja masyarakat.

Meskipun demikian, penawaran ritel termasuk pembelian jenis ‘drive thru’ dan pembelian daring menyebabkan peningkatan penjualan e-commerce secara bertahap.

Lihat juga:

Kesepakatan Brexit Bikin Rupiah Unjuk Gigi ke Rp14.157

Penjualan pakaian lewat daring melonjak 15,7 persen dan penjualan department store naik 3,3 persen. Kenaikan terjadi saat lebih banyak pembeli melakukan belanja dari rumah mereka.

Penjualan furnitur dan perabotan naik 6,2 persen, sementara pengeluaran untuk perbaikan rumah naik 14,1 persen. Lalu, penjualan elektronik dan peralatan juga ikut merangkak naik 6 persen.

Perubahan kebiasaan belanja liburan ini menggarisbawahi bagaimana dampak pandemi pada aktivitas luar telah mendorong pembeli untuk melakukan pembelian yang lebih sesuai dengan aktivitasnya yang banyak dilakukan di dalam rumah.

[Gambas:Video ]

(wel/bir)


Next Post

Bangladesh Kirim Lagi 1.000 Rohingya ke Pulau Terpencil

Jakarta, Indonesia — Bangladesh kembali mengirim pengungsi Rohingya ke pulau terpencil pada gelombang kedua. Di akhir Desember para pengungsi akan dipindahkan ke Pulau Bhasan Char. “Sebanyak 700-1.000 pengungsi Rohingya dijadwalkan akan direlokasi pada 28 atau 29 Desember dan Bhasan Char telah disiapkan untuk menerima mereka,” kata Komodor Abdullah Al Mamun Chowdhury selaku […]