Breaking News in Indonesia

Kelana Tim Raya and the Last Dragon Cari Ilham ke Indonesia

Jakarta, Indonesia —

Disney kembali menggarap animasi yang kental dengan nilai kedaerahan dalam Raya and the Last Dragon. Demi menyuguhkan suasana Asia Tenggara yang kuat di Kumandra, tim Raya and the Last Dragon menjelajah berbagai negara di kawasan tersebut, termasuk Indonesia.

Dalam proses riset tersebut, tim Raya and the Last Dragon juga melibatkan sejumlah ahli di negara masing-masing untuk memberikan wawasan budaya dan adat setempat, seperti antropolog, arsitek, linguis, penari, dan pemain musik tradisional.

Untuk Indonesia, kru Raya and the Last Dragon melibatkan Griselda Sastrawinata menjadi pengembang visual. Sejumlah pegiat budaya Indonesia, seperti Dewa Berata dan Emiko Susilo, juga menjadi bagian dari tim konsultan, khususnya dalam ranah budaya, tari, upacara tradisional, hingga musik gamelan.

Setelah perjalanan riset, tim Raya and the Last Dragon merasa sangat tergerak karena kekayaan budaya di berbagai negara Asia Tenggara.

“Satu hal yang membuat tim sangat terharu dan tergerak untuk mengangkat hal-hal di Asia Tenggara adalah rasa kebersamaan yang mereka dapatkan selama perjalanan itu. Makna kata ‘kami’ yang lebih penting dari ‘saya,'” ujar produser Raya and the Last Dragon, Osnat Shurer, seperti dikutip The Hollywood Reporter.

Pilihan Redaksi
  • Lagu Warpaint NIKI di Trailer Raya and the Last Dragon
  • Cerita Raisa-Via Vallen Gabung di Raya and the Last Dragon
  • Sinopsis Raya and the Last Dragon, Perjuangan Mencari Naga

Selain menawarkan keramahan, negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga memiliki keindahan alam dan beragam hal menarik yang patut diangkat ke dalam dunia fantasi.

“Sangat dalam dan lengkap sehingga mereka kembali dan kami mulai menyelami juga keindahan lainnya, teksturnya, kainnya, makanannya. Itulah dasar inspirasi di balik dunia fantasi Kumandra ini,” ucap Shurer.

Ambil latar daerah Kumandra. Negara ini digambarkan berbentuk naga yang mencakup lima wilayah, yakni Heart (rumah Raya), Fang, Spine, Talon, dan Tail yang masing-masing memiliki tampilan berbeda.

Ada pula topi Raya yang terinspirasi dari bentuk stupa dengan makna filosofisnya. Bagian dasar dari stupa itu melambangkan Bumi, dan lengkungan ke atas merupakan simbol air.

“Topi ini melambangkan perjalanan Raya yang semakin mengecil ke titik kebijaksanaan dan kejelasan, seperti ujung topi,” kata antropolog visual Raya and the Last Dragon, Steve Arounsack.

Unsur budaya Asia Tenggara juga ditampilkan dalam senjata Raya. Senjata ini merupakan ide dari sang penulis skenario, Qui Nguyen, yang juga seorang koreografer silat.

Ia membekali Raya dengan tongkatArnis yang ia gunakan saat membela diri di masa kecil. Bela diri itu pun terinspirasi dari pencak silat. Nguyen juga melengkapi Raya dengan pedang yang terinspirasi dari keris.

Raya and the Last Dragon. Kredit: Dok. Disney.Raya and the Last Dragon. (Dok. Disney)

Tak hanya Raya, gaya bertarung karakter Namaari juga menggunakan metode bertarung yang terinspirasi dari muay Thai dan krabi-krabong dari Thailand.

Tidak sampai itu, kru produksi Disney juga menggunakan salam khas orang Thailand sebagai salam warga Kumandra. Salam ini digunakan untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal dengan membuat bentuk permata dengan kedua tangan.

“Itu adalah gambaran kreatif tentang salam umum yang bisa dilihat di seluruh wilayah [Asia Tenggara]. Ini disebut nop dalam bahasa Laos dan wai dalam bahasa Thailand. Keduanya adalah salam yang sama, yaitu menyatukan tangan,” kata Arounsack.

Unsur lainnya juga bisa dilihat dari kehadiran sosok Sisu si naga air. Sosok itu rupanya terinspirasi oleh naga di Asia Tenggara, makhluk setengah dewa yang dapat berubah wujud menjadi ular atau manusia.

Raya and the Last DragonSisu di Raya and the Last Dragon. (Arsip Disney via IMDb)

Suasana pasar terapung di Tanah Talon juga terinspirasi dari pasar terapung dan pasar malam yang dikunjungi tim Disney di seluruh Asia Tenggara.

“Apakah pasar di Laos, Thailand, atau Indonesia, Anda akan melihat kepadatan kios dan energi hingar bingar. Itulah mengapa Anda melihat banyak gerakan, lampu, orang, anak-anak, orang tua, makanan, aroma, semuanya,” kata Arounsack.

Tidak hanya itu, lokasi gurun pasir dalam film ini juga mengikuti jejak Sungai Mekong yang mengalir melalui sejumlah kawasan di Asia Tenggara. Wilayah ini memiliki sejarah yang panjang dengan perpaduan dari berbagai budaya.

[Gambas:Video ]

Sementara itu, bangunan di wilayah tanah Fang dalam film ini dipengaruhi struktur bangunan Angkor Wat di Kamboja. Hal lain yang juga terinspirasi dari budaya di Asia Tenggara adalah hutan bambu hitam raksasa seukuran kayu merah yang menandai tanah Spine.

“Di Vietnam dan tempat lain, mereka menggunakan bambu untuk kerajinan yang menakjubkan, jadi semuanya dibuat dari bambu itu di desa,” kata Arounsack.

Sutradara Raya and the Last Dragon, Carlos Lopez Estrada, mengatakan bahwa ia ingin penonton merasakan kekayaan alam dan budaya Asia Tenggara meski Kumandra merupakan lokasi fiktif.

“Meskipun Kumandra adalah dunia fantasi yang fiktif, kami merancang Kumandra agar tetap dinamis dan menggambarkan kehidupan sehari-hari yang begitu dekat dengan masyarakat di Asia Tenggara. Kami ingin memberi penghormatan kepada budaya yang menginspirasi cerita dan dunia Kumandra ini,” ujar Estrada dalam siaran pers yang diterima Indonesia.com.

(nly/has)