Jejak Langkah Sang ‘Presiden Malioboro’, Umbu Landu Paranggi

Farah

Jakarta, Indonesia —

Umbu Landu Paranggi merupakan salah satu tokoh besar dunia sastra Indonesia. Pria berjuluk Presiden Malioboro ini bahkan menjadi tonggak di balik lahirnya sederet seniman dan sastrawan terkemuka.

Umbu Landu Paranggi (ULP) adalah lelaki kelahiran Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Sejak dewasa, ULP hijrah dari kampung halamannya untuk lebih dalam mendalami dunia sastra dan seni budaya di Yogyakarta.

Kala itu, ia berharap dapat mengecap pendidikan formal di Taman Siswa. Namun, kondisi memaksanya untuk menerima ‘bimbingan’ proses kreatif dari anak-anak muda di Yogyakarta.

Lewat metode tersebut, ULP menjadi lebih mengenal dan memaknai kehidupan yang kemudian ditulis dalam bait-bait puisi. Karya-karyanya terus dibaca dan dikaji oleh anak-anak asuhnya sampai tua.

Semakin lama, karya-karya ULP semakin dikenal oleh anak-anak muda di Yogyakarta. Ia pun akhirnya membentuk komunitas penyair Malioboro sekitar 1970-an hingga digelari Presiden Penyair Malioboro.

Komunitas ini menjadi rumah yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan ternama seperti Iman Budhi Santoso, Linus Suryadi A.G., Ragil Suwarno Pragolapati, hingga Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

Cak Nun mengatakan bahwa selama menjadi murid ULP ia mendapat pelajaran berharga yakni kehidupan puisi. Ajaran ini menggaris bawahi bahwa semua ciptaan Tuhan adalah puisi, bahkan seluruh isi kitab suci adalah puisi.

Umbu Landu dan Cak NunUmbu Landu (kiri) dan murid kesayangannya, Cak Nun. (Foto: Tangkapan layar instagram @gamelankiaikanjeng)

“Apakah seseorang harus mengetahui, mengenali, mendalami, dan mengalami apa itu puisi, supaya ia merasakan bahwa ayat-ayat Allah adalah puisi? Itulah yang dirasukkan Umbu ke dalam jiwa saya. Kehidupan ini sendiri adalah puisi,” kata Cak Nun dalam tulisan Mi’Raj Sang Guru Tadabbur untuk mengenang ULP.

Selain memiliki wawasan yang luas tentang puisi dan arti kehidupan, Cak Nun juga memandang ULP sebagai sosok yang sederhana dan sering menyebut dirinya sebagai “pupuk”.

Atas dedikasinya yang besar terhadap dunia sastra, Cak Nun dan beberapa sastrawan menulis buku berjudul ‘Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi’.

Buku ini berisi tulisan dari 52 sastrawan yang dipresentasikan sebagai wujud kecil dari ucapan terima kasih kepada Umbu Landu Paranggi yang telah memberikan setumpuk ajaran sastra dan ajaran mengenai kearifan hidup kepada para anak asuhnya.

Sampai hari tuanya, ULP masih semangat untuk membimbing sekaligus sahabat setia yang siap membantu siapa pun untuk mengenal dunia sastra.

Terhitung sejumlah puisi indah lahir dari pemikiran sang Presiden Malioboro, seperti Sajak Kecil, Di Sebuah Gereja Gunung, Ibunda Tercinta, Ni Reneng, dan masih banyak lainnya.

Lihat juga:

Nasib Legasi Kho Ping Hoo di Era Internet

Hingga di usia hampir 68 tahun ULP menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan banyak ilmu yang masih tetap bisa dinikmati hingga sekarang.

Sang Presiden Malioboro menghembuskan nafas terakhirnya di Pulau Dewata, Selasa (6/4). Selamat jalan, Sang Penyair.

(nly/fjr)

[Gambas:Video ]


Next Post

Pengamat Soroti Kegagapan Pemerintah Hadapi Bencana di NTT

Jakarta, Indonesia — Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai pemerintah baik pusat dan daerah masih gagap dalam menangani bencana di NTT. Kegagapan tersebut, kata Trubus, dimulai dari ketidaksiapan mengantisipasi bencana. “Masih gagap. Korbannya ini sudah banyak dan banyak yang tidak bisa terselamatkan,” kata Trubus kepada Indonesia.com, Selasa (6/4). Per Selasa […]