Inggris Temukan 30 Kasus Pembekuan Darah Akibat AstraZeneca

Farah

Jakarta, Indonesia —

Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan Inggris (MHRA) mengatakan telah mengidentifikasi 30 kasus pembekuan darah langka setelah penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Pada Kamis (1/4), MHRA mengatakan telah mendapat 22 laporan kasus trombosis sinus vena serebral, penyakit pembekuan otak yang sangat langka. MHRA juga menemukan delapan kasus pembekuan lain terkait trombosit darah rendah dari total 18,1 juta dosis AstraZeneca yang telah diberikan ke warga Inggris.

Kepada Financial Times dan The Guardian, MHRA mengatakan bahwa tujuh penerima vaksin AstraZeneca meninggal dunia setelah melaporkan efek samping pembekuan darah.

Pilihan Redaksi
  • Masa Interval Vaksin AstraZeneca Disarankan 8 Minggu
  • Kasus KIPI AstraZeneca Terungkap Saat Pegawai Tak Bisa Kerja
  • Belanda Setop Vaksin AstraZeneca Bagi Warga di Bawah 60 Tahun

Sebelumnya, MHRA hanya melaporkan lima kasus pembekuan darah selama penggunaan vaksin hasil kolaborasi dengan Universitas Oxford tersebut.

Reuters hingga kini belum bisa mengonfirmasi hal itu kepada MHRA.

Namun, MHRA sejauh ini telah menerapkan skema ‘kartu kuning’ untuk mendeteksi efek samping yang dicurigai terkait penggunaan vaksin AstraZeneca atau faktor lain yakni obat-obatan dan peralatan medis lainnya.

Pernyataan MHRA itu muncul ketika keraguan atas keamanan vaksin AstraZeneca meningkat. Setidaknya lebih dari selusin negara, terutama di Eropa, menghentikan penggunaan AstaZeneca setelah muncul kasus pembekuan darah yang dialami para penerimanya. Beberapa kasus tersebut bahkan mengakibatkan penerima vaksin meninggal dunia.

Indonesia juga sempat menunda penggunaan vaksin AstraZeneca. Namun, tak lama memberikan lampu hijau untuk mulai menggunakan vaksin asal Inggris tersebut.

Terlepas dari efek samping AstraZeneca, MHRA dan European Medicines Agency (EMA) menganggap vaksin tersebut masih aman digunakan. Kedua regulator pengawas obat itu menganggap belum ada bukti bahwa efek samping pembekuan darah disebabkan oleh suntikan vaksin AstraZeneca.

MHRA dan EMA masih menganggap manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih besar daripada risikonya, mengingat ancaman yang ditimbulkan oleh Covid-19. Kendati demikian, EMA mengatakan, kasus pembekuan darah ini akan terus diselidiki.

Selain AstaZeneca, Inggris juga menggunakan vaksin corona Pfizer/BioNTech dalam program vaksinasi nasionalnya. Sejauh ini, MHRA mengatakan tidak menerima laporan pembekuan darah dari para penerima vaksin asal perusahaan farmasi Amerika Serikat itu.

(rds/asr)

[Gambas:Video ]


Next Post

MotoGP Doha 2021: Valentino Rossi Sadar Jauh Lebih Lambat

Jakarta, Indonesia — Valentino Rossi¬†gagal masuk sepuluh besar pada sesi latihan bebas kedua (FP2) MotoGP Doha 2021, Jumat (3/4). Pembalap veteran asal Italia itu pun mengakui jauh lebih lambat dari penampilannya pekan lalu. “Minggu lalu lebih baik karena saya lebih cepat, terutama di FP2 ketika saya mampu bertahan di posisi […]