Breaking News in Indonesia

IDI soal Antigen Bekas: Penyakit Ditularkan, Hasil Diragukan

Jakarta, Indonesia —

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng Mohammad Faqih merespons praktik penggunaan antigen bekas pakai yang terungkap di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatra Utara.

Dari sisi kesehatan, Daeng mengatakan dacron atau alat yang dipakai untuk mengecek virus corona dengan dimasukkan ke hidung hanya boleh dipakai satu kali. Penggunaan berulang kepada orang berbeda, kata dia, dikhawatirkan menularkan penyakit dari satu orang ke orang lainnya.

“Maka kita khawatirkan justru penyakit-penyakit yang ada di orang lain akan tertular kepada yang diperiksa dengan bahan daur ulang,” kata Daeng seperti dikutip dari video Indonesia TV, Jumat (30/4).

Tak hanya itu kata Daeng, validitas hasil rapid tersebut juga dipertanyakan. Hasilnya, tegas dia, tentu sangat tak bisa dipertanggungjawabkan.

“Sangat diragukan, tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya menegaskan.

Ditreskrimsus Polda Sumut menggerebek layanan rapid antigen Kimia Farma Diagnostika Bandara Kualanamu, Deliserdang, Sumut. Diduga alat rapid antigen yang digunakan di sana sudah bekas pakai berulang kali lalu dicuci dan dimasukkan ke hidung pasien.

Hasil pengembangan kasus, polisi menetapkan lima orang tersangka.

Lihat juga:

Manajer Kimia Farma Raup 30 Juta Per Hari dari Antigen Bekas

Kapolda Sumut, Irjen Panca Putra mengatakan para tersangka berperan dalam serangkaian produksi daur ulang stik yang digunakan sebagai alat untuk melakukan tes swab antigen. Stik tersebut didaur ulang, kemudian dicuci, dibersihkan, dan dikemas kembali. Alat tes antigen itu kemudian dipakai di Bandara Kualanamu.

“Praktik ini sudah dilakukan sejak 17 Desember 2020,” ujar Panca dalam konferensi pers penetapan tersangka di Mapolda Sumut kemarin.

(tst/ain)

[Gambas:Video ]