Hari Toilet, Upaya Suarakan Krisis Toilet ke Seluruh Dunia

Farah

Peringatan Hari Toilet Sedunia bermula dari kegelisahan tentang masalah toilet yang seolah tampak tidak penting dan kerap disepelekan.

Jakarta, Indonesia —

Hari Toilet Sedunia diperingati setiap tahunnya pada 19 November. Peringatan ini bermula dari kegelisahan tentang masalah toilet yang seolah tampak tidak penting dan kerap disepelekan.

Fenomena itu kemudian menjadi perhatian khusus Organisasi Toilet Dunia (WTO) di awal mereka berdiri 19 tahun silam, tepat pada 19 November 2001.

Organisasi tersebut melihat perhatian akan toilet begitu minim ditambah toilet diabaikan dalam agenda pembangunan global.

Harus diakui, toilet memang jadi persoalan privat tetapi di balik itu ada krisis-krisis yang perlu disuarakan sehingga layak menjadi perhatian global.

Jack Sim, pendiri WTO, menemukan bahwa obrolan seputar toilet sering dianggap menjijikkan, memalukan, bahkan tabu. Padahal buang air sudah menjadi bagian dari kebutuhan mendasar manusia.

Selain itu, menurut Sim, kurangnya akses ke sanitasi bisa berpengaruh pada kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, gizi, lingkungan, hingga ekonomi. Oleh karenanya, ia pun menilai bahwa sudah sepatutnya persoalan toilet mendapat ‘spotlight’.

“Apa yang tidak kita diskusikan, tidak dapat tingkatkan,” kata Sim, dikutip dari laman resmi WTO.

Pada hari organisasi dibentuk, WTO turut menandai dengan penyelenggaraan World Toilet Summit. Pertemuan itu yang kemudian menghasilkan kesepakatan untuk menetapkan 19 November sebagai World Toilet Day atau Hari Toilet Sedunia.

Lihat juga:

Alasan Mengeringkan Tangan Sama Pentingnya dengan Cuci Tangan

Penetapan ini juga berangkat dari kesadaran bahwa perlu ada perhatian global terhadap krisis sanitasi.

Pada 2013, inisiatif bersama antara pemerintah Singapura dan WTO menghasilkan resolusi PBB berjudul Sanitation for All.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi PBB, resolusi ini mendesak negara anggota PBB dan pemangku kepentingan terkait untuk mendorong perubahan perilaku dan implementasi kebijakan demi meningkatkan akses ke sanitasi di kalangan rakyat miskin, juga himbauan untuk menghentikan praktik buang air sembarangan.

PBB mencatat lebih dari setengah populasi global atau 4,2 miliar orang kekurangan sanitasi yang aman. Hal ini pun menimbulkan berbagai persoalan.

Sanitasi buruk membuat sekitar 297 ribu anak di bawah lima tahun meninggal setiap tahun akibat diare. Kaum perempuan juga harus berhadapan dengan risiko pelecehan karena akses toilet kurang menawarkan privasi.

Lihat juga:

18 Produk Pembersih Rumah Tangga yang Bisa Jadi Disinfektan

Tahun ini, World Toilet Day mengangkat tema Sustainable Sanitation and Climate Change, yang juga berarti sanitasi aman berkelanjutan demi ketahanan iklim.

Tema ini mengacu pada perubahan iklim yang membawa dampak ke lingkungan berupa banjir, yang mana bisa merusak toilet dan tangki septik.

Mau tidak mau, ini bisa menimbulkan pencemaran sumber air, bahan pangan, serta lingkungan.

Namun, perlu disadari bahwa keberadaan toilet yang aman sebenarnya bisa membantu manusia berhadapan dengan perubahan iklim.

Limbah juga endapan sisa yang diolah dari tangki septik mengandung air, nutrisi, dan energi yang baik buat alam. Jika diolah secara berkelanjutan, hal yang dianggap sampah ini justru dapat berkontribusi pada pertanian dan mengurangi emisi karbon.

(els/agn)

[Gambas:Video ]


Next Post

Pengacara Upayakan Ruang ASI di Lapas untuk Vanessa Angel

Jakarta, Indonesia — Kuasa hukum Toddy Laga terus mengupayakan ruang khusus menyusui untuk putra Vanessa Angel, Gala Sky Ardiansyah, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Bambu. Vanessa masuk penjara sejak Rabu (18/11), Untuk sementara Vanessa menyediakan stok Air Susu Ibu (ASI) bagi putranya yang masih berusia empat bulan itu. Selama pandemi Covid-19 […]