Gerakan Mahasiswa Generasi TikTok: Kritis Tak Sekadar Eksis

Farah

Gerakan mahasiswa hari ini banyak diwarnai aksi-aksi yang mengundang tawa. Mahasiswa generasi TikTok ini berhasil melunturkan kesan angker demonstrasi.

Jakarta, Indonesia —

Berpakaian modis, dengan jaket almamater melekat di tubuh, lima mahasiswi di Makassar, Sulawesi Utara, berjoget ala TikTok di tengah massa demonstrasi Omnibus Law Cipta Kerja. Mereka bukan tim penghibur, melainkan bagian dari demonstran yang turut menolak produk legislasi.

Video kelima mahasiswi itu viral di jagat maya. Mengundang senyum orang-orang yang melihatnya.

Aksi nyentrik serupa juga semakin mudah dijumpai dalam demonstrasi beberapa tahun terakhir. Setahun sebelumnya, kicau Diaz Berliana tentang salah satu produk make up yang ia pakai saat demi #ReformasiDikorupsi, jadi viral dengan mendapat ratusan ribu retweet.

Diaz, dalam kicaunya, ‘mempromosikan’ sebuah produk make up yang ia sebut mampu menjaga penampilan wajahnya saat berdemonstrasi di bawah terik matahari.

“Demo dari pagi sampe sore, base makeup masih flawless, full coverage dan ga berat. Minyakan sedikit sih tapi wajar karena panas. Very recommended buat demo,” kata Diaz merujuk salah satu produk make up yang ia pakai.

Beragam ekspresi dan cara kreatif yang mewarnai demonstrasi mahasiswa saat ini, secara sadar maupun tidak, telah berhasil meruntuhkan kesan angker yang selama ini melekat pada kata demonstrasi mahasiswa.

Kesan angker di masa lalu itu bukan tanpa alasan. Pada masa Presiden Sukarno hingga Soeharto, demonstrasi mahasiswa mengundang risiko besar. Mulai dari gebukan tongkat aparat, lemparan gas air mata, hingga risiko dipenjara dan drop out

Demonstrasi mahasiswa di masa lalu bahkan mempertaruhkan nyawa. Sudah banyak mahasiswa yang tewas di tengah aksi. Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II jadi catatan kelamnya.

Unjuk rasa mahasiswa hari ini pun tetap mengundang risiko besar. Seperti terjadi di Kendari, 26 September silam. Dua mahasiswa tewas tertembus peluru aparat dalam aksi #ReformasiDikorupsi.

Namun, kesan angker demonstrasi itu perlahan mulai diimbangi dengan kesan-kesan yang menyenangkan. lewat generasi milenial seperti Diaz dan lima mahasiswi dari Makassar itu, demonstrasi bisa menjadi sebuah sarana demokrasi yang menyenangkan.

Memang, tak sedikit yang mencibir aksi-aksi eksentrik mahasiswa milenial kala berdemonstrasi. Aksi-aksi nyentrik tersebut secara semena-mena digunakan untuk menuding gerakan mahasiswa hari ini telah mengalami dekadensi moral. Namun, hal itu tidak sepenuhnya berdasar.

Pengamat sosial-politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyebut gerakan mahasiswa hari ini masih berakar pada hal-hal yang mendasar. 

Lihat juga:

Tagar Mosi Tidak Percaya Tolak Omnibus Law Trending di TikTok

Gerakan mahasiswa hari ini, menurut dia, masih bersumber dari respons moral (idealisme) dan intelektual para mahasiswa terhadap kondisi yang menurut mereka sarat ketidakadilan akibat kebijakan pemerintah.

Idealisme mahasiswa hari ini, kata dia, tidak berbeda dengan senior-seniornya di masa lalu. Mereka masih ingin mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa agar negara ini berkeadilan.

“Gerakan mahasiswa akan terus muncul di Indonesia ketika perilaku otoritarianisme, ketidakadilan, perilaku korup, pelanggaran hak azasi dan sikap sikap anti demokrasi masih terus ditunjukkan oleh elite politik,” kata Ubedillah saat dihubungi Indonesia.com, Jumat (23/10).

Menurut Ubedillah, ketersambungan karakter gerakan mahasiswa hari ini dengan para pendahulunya dirajut berkat sistem kaderisasi di kampus-kampus. Dari sana nilai-nilai ideal tentang peran mahasiswa di tengah masyarakat, diajarkan secara turun temurun sampai hari ini.

Gerakan Mahasiswa Milenial dan Tudingan Dekadensi

Pun dalam hal bobot pemahaman atas persoalan, gerakan mahasiswa dari generasi milenial hari ini, tak kalah dengan pendahulunya. Mereka, para mahasiswa milenial, tak sekadar bergaya ketika turun ke jalan. 

Ubedillah bahkan menyebut mahasiswa di era digital kali ini lebih kritis dibanding gerakan mahasiswa di era-era sebelumnya.

Keunggulan tersebut, menurutnya, karena mahasiswa hari ini memiliki kemewahan akses informasi secara kritis.

Dengan mengakses informasi secara kritis, Ubedillah menyebut apa yang diperjuangkan gerakan mahasiswa hari ini lewat aksi turun ke jalan, dapat mereka pertanggungjawabkan secara akademis.

Lihat juga:

Alergi Demonstrasi di Rezim Jokowi

Pikiran kritis dan kreatif itu bisa tampak jelas dari sejumlah poster yang mereka bawa ketika berdemonstrasi. Meski terkesan nyeleneh, hal itu dianggap sebagai salah satu cara mahasiswa di era saat ini menunjukkan simbolisasi perlawanan.

Namun, Ubedillah kembali menekankan bahwa bahwa gerakan mahasiswa ini tetap memperjuangkan apa yang menjadi substansi dari tuntutan mereka.

Hal tersebut, menurutnya, bisa dilihat dari sejumlah pernyataan resmi yang disampaikan oleh ketua ataupun koordinator aliansi gerakan mahasiswa.

“Sementara poster dan narasi-narasi saat demonstrasi adalah hal hal simbolik sebagai simbolisasi perlawanan,” kata dia.

(dmr/bac)

[Gambas:Video ]

Next Post

Menag Dukung Sikap Kemlu Panggil Dubes Perancis Soal Pernyataan Presiden Macron

Menteri Agama Fachrul Razi mendukung sikap Kementerian Luar Negeri memanggil Duta Besar Prancis dan menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Presiden Prancis yang dinilai menghina Islam. Menurut Fachrul, pernyataan Macron melukai perasaan muslim karena mengaitkan agama Islam dengan tindakan terorisme. “Setiap umat beragama harus menghormati simbol-simbol agama yang dianggap suci oleh pemeluk […]