Empat Tipe Vaksin yang Dipakai untuk Vaksinasi Covid-19

Farah

Penjelasan empat tipe vaksin yang dipakai untuk vaksinasi Covid-19 serta contoh vaksin yang dikembangkan.

Jakarta, Indonesia —

Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 menyampaikan vaksin corona yang saat ini tengah dikembangkan terbagi menjadi empat jenis. Setiap vaksin tersebut memiliki kandungan yang berbeda-beda.

Keempat vaksin itu adalah vaksin mati; vaksin hidup; vaksin sub-unit; dan vaksin toksoid. Vaksin juga memiliki 4 komposisi kandungan yang meliputi antigen, adjuvant, stabilitator, dan pengawet.

Vaksin mati/ inaktivasi

Satgas Penanggulangan Covid-19 menjelaskan vaksin mati adalah vaksin yang mengandung virus atau bakteri yang sudah dimatikan.




Laman resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan vaksin mati adalah dibuat dari mikroorganisme (virus, bakteri dan lain-lain) yang telah dimatikan dengan proses menggunakan bahan kimia tertentu atau secara fisik. Mikroorganisme yang sudah mati itu diklaim tidak dapat menyebabkan penyakit. 

Vaksin yang diinaktivasi tidak selalu bisa merangsang timbulnya respon imunitas. Penerima vaksin juga mungkin tidak kebal seumur hidup. Diperlukan beberapa dosis untuk untuk bisa menimbulkan respon kekebalan yang memadai.

Vaksin sel utuh yang diinaktivasi tidak berisiko menimbulkan penyakit karena tidak mengandung komponen hidup dari kuman.

Contoh vaksin inaktivasi

Vaksin China Sinovac yang diuji di Indonesia (Fase 3), Beijing Institute of Biological Products/ Sinopharm (Fase 3); Bharat Biotech (Fase 3); Wuhan Institute of Biological Products/ Sinopharm (Fase 3); Institute of Medical Biology, Chinese Academy of Medical Sciences (Fase 2); dan Research Institute for Biological Safety Problems (Fase 2).

Lihat juga:

Menanti Bukti Keamanan Vaksin Covid-19 Sinovac untuk RI

Vaksin hidup

Jenis vaksin yang dibuat dari mikroorganisme patogen virus atau bakteri hidup yang telah dilemahkan di laboratorium. Mereka akan tumbuh dalam tubuh penerima vaksin tetapi tidak akan menyebabkan sakit atau hanya sakit ringan karena sudah dilemahkan.

Vaksin hidup dapat merangsang respon kekebalan (respon imun) dengan baik, sama baiknya seperti ketika orang tersebut terinfeksi oleh virus atau bakteri di alam. Respon imun adalah pertahanan tubuh melawan setiap benda asing atau organisme, misalnya bakteri atau virus.

WHO menilai vaksin hidup dapat memberikan respons imun sempurna, tapi kurang aman dibandingkan dengan vaksin mati.

Beberapa kekurangan vaksin hidup adalah patogen yang dilemahkan dapat berubah ke bentuk aslinya dan menimbulkan penyakit. Selain itu, vaksin jenis itu berbahaya bagi individu dengan sistem imun kompromis, misalnya HIV.

Contoh vaksin hidup

Codagenix/ Serum Institute of India (Fase 1); india Immunological Ltd/ Griffith University (Fase1); dan Meissa Vaccines (Fase 1).

Lihat juga:

RI Soal Akses Vaksin Covid-19: Tak Perlu Khawatir, Tetap 3M

Vaksin subunit

WHO menyebut vaksin subunit seperti vaksin inaktivasi, tidak mengandung komponen patogen hidup. Vaksin subunit hanya mengandung sebagian dari komponen patogen. Bagian dari patogen itu dapat merangsang pembentukan respon kekebalan.

Seperti halnya vaksin inaktivasi, vaksin subunit dianggap sangat aman karena tidak mengandung komponen hidup. Vaksin subunit dikategorikan menjadi tiga, yakni berbasis protein; polisakarida; dan konjugasi.

Menurut WHO, kemanjuran vaksin subunit tergantung dari ketelitian pengambilan bagian patogen (antigen) yang diambil untuk merangsang respon kekebalan.

Penerima vaksin subunit bisa memperoleh respon kekebalan, tetapi tidak ada jaminan bahwa memori kekebalan terbentuk dengan cara yang tepat dan benar.

Contoh vaksin subunit

Novovac (Fase 3), Anhui Zhifei Longco Biopharmaceutical. Chinese Academy of Science (Fase 2); Sanofi/ GSK (Fase 1/2); Instituto Finlay De Vacunas (Fase 1/2); Clover Biopharmaceuticals Inc (Fase 1), hingga Covaxx (Fase 1).

Lihat juga:

Eijkman soal Nasib Vaksin Corona Merah Putih: Izin Edar 2022

Vaksin toksoid

WHO menjelaskan Vaksin toksoid adalah suatu vaksin yang dibuat dari toksin (racun) yang sudah tidak berbahaya lagi, namun masih dapat merangsang respon imun melawan toksin tersebut. Toksin dihasilkan oleh bakteri tertentu.

Toksoid adalah toksin yang dilemahkan atau mati yang digunakan dalam produksi vaksin.

Toksin disebut akan masuk dalam aliran darah dan menyebabkan gejala penyakit. Toksin berbasis protein tidak berbahaya dan digunakan sebagai antigen yang dapat merangsang kekebalan.

Untuk meningkatkan respon kekebalan, toksoid dilekatkan pada garam aluminium atau garam kalsium yang berperan sebagai adjuvan.

Salah satu kelebihan vaksin toksoid adalah stabil dan tidak begitu terpengaruh oleh perubahan suhu, sinar dan kelembaban. Namun, membutuhkan beberapa dosis dan biasanya membutuhkan adjuvant.

Saat ini belum ada vaksin Covid-19 yang dikembangkan dengan metode ini, namun sebelumnya digunakan pada vaksin tetanus dan difteri.

Lihat juga:

Polemik Vaksin Corona, Dari Berbayar Hingga Gratis Sepenuhnya

Metode baru

Selain keempat jenis vaksin tadi, belakangan dikembangkan metode pembuatan vaksin baru yakni dengan memanfaatkan materi genetik virus yang disasar. Metode ini dikenal dengan pembuatan vaksin mRNA dan DNA.

“Vaksin mRNA memang mirip seperti subunit antigen. Namun, subunit yang dimaksud di laman ini adalah senyawa dalam bentuk protein, bukan mRNA,” jelas Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, saat dihubungi Rabu (23/12). 

Pengembangan vaksin Covid-19 dengan metode mRNA telah dilakukan pada vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech. Sementara pengembangan vaksin dengan metode DNA belum ada yang berhasil diuji ke manusia. 

Selain itu, ada juga pengembangan vaksin dengan metode menyuntikan protein virus yang akan disasar ke virus lain yang tidak menyebabkan penyakit. Cara pengembangan ini ada dua jenis yaitu replicating viral vector dan non-replicating viral vector.

Bedanya, vaksin replicating viral vector disuntikkan pada virus yang bisa bereplikasi alias memperbanyak diri. Sementara vaksin non-replicating viral vector disuntikkan ke virus lain yang tak bisa memperbanyak diri, seperti dikutip dari Covid-19 Vaccine Tracker. Metode replicating viral vector ini digunakan pada vaksin corona besutan Oxford-AstraZeneca.

(jps/eks)

[Gambas:Video ]


Next Post

Sandiaga Jadi Menparekraf, Saham Saratoga Melesat 12 Persen

Jakarta, Indonesia — Harga saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. melesat hingga 12,36 persen ke level 4.000 pada pukul 11.24 JATS. Emiten berkode SRTG ini terus menguat sejak pembukaan di level 3.770 dan bergerak di rentang 3.570 hingga 4.400 sepanjang hari ini. Bahkan, hari ini SRTG sempat pecah rekor harga tertinggi sepanjang […]