Dokter Laporkan Gejala Psikotik Parah pada Pasien Corona

Farah

Sejumlah dokter melaporkan gejala psikotik yang parah pada pasien Covid-19. Pada episode psikotik, seseorang kesulitan menentukan mana yang nyata dan tidak.

Jakarta, Indonesia —

Sudah bukan rahasia lagi, virus corona tak hanya menyerang sistem pernapasan. Teranyar, sejumlah dokter melaporkan gejala psikotik yang parah pada pasien Covid-19.

Psikiater, dr Hisan Goueli di Amerika Serikat, misalnya, yang merawat pasien Covid-19 dengan gejala psikotik. Seorang pasien, sebutnya, berhalusinasi melihat anak-anaknya dibunuh secara mengerikan. Pasien itu sendiri juga telah menyusun rencana untuk membunuh mereka.

“Itu seperti dia mengalami adegan dalam film Kill Bill,” ujar Goueli, mengutip laporan yang dipublikasikan di New York Times.

Pasien itu telah terinfeksi virus corona pada beberapa waktu lalu. Dia telah dinyatakan sembuh dari gejala klinis yang ringan. Namun, beberapa bulan kemudian, dia mulai mendengar suara pertama yang menyuruhnya untuk melakukan percobaan bunuh diri dan membunuh anak-anaknya.

“Awalnya kami masih berpikir bahwa mungkin ini [gejala psikotik] terkait Covid-19, mungkin juga tidak. Tapi, lama kelamaan, kami melihat kasus kedua, kasus ketiga, keempat, dan seterusnya, hingga kami berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi,” jelas Goueli.

Faktanya, sejumlah dokter di seluruh dunia melaporkan hal yang sama. Sejumlah kecil pasien Covid-19 yang tak memiliki riwayat gangguan mental justru mengalami gejala psikotik parah beberapa pekan setelah tertular.

Lihat juga:

Kata Ahli soal Beda Gejala Sinusitis dan Covid-19

Kasus lainnya ditemukan oleh psikiater lain, dr Mason Chacko. Dia menemukan pasien dengan pengalaman delusi paranoid yang menimbulkan upaya bunuh diri. Meski gejala psikotik pada pria itu berhasil diobati melalui kombinasi obat-obatan dan terapi, namun kasus tersebut menggambarkan potensi kerusakan otak akibat Covid-19.

“Saya pikir ini sangat memprihatinkan. Ada lebih banyak lagi laporan kasus serupa,” ujar Chacko, mengutip Health.

Sebagian besar kasus psikosis pasca-infeksi terjadi pada orang berusia sekitar 30-50 tahun. Gejala psikotik bahkan tak berkaitan dengan gejala klinis akibat SARS-CoV-2 yang dialami pasien. Pasalnya, sebagian besar pasien yang mengalami gejala psikotik hanya mengalami gejala ringan akibat virus corona.

Psikosis umumnya ditandai oleh putusnya kenyataan. Saat seseorang mengalami episode psikotik, seseorang akan kesulitan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

ilustrasi Skizofrenia , ilustrasi cemas , ilustrasi ganguan jiwaIlustrasi. Saat mengalami episode psikotik, seseorang akan kesulitan untuk mementukan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata. (Istockphoto/ Ericmichaud)

Beberapa orang dengan psikosis mengalami halusinasi. Mereka mungkin mendengar suara-suara atau melihat hal-hal aneh yang sebenarnya tidak ada. Yang lainnya mengalami delusi atau keyakinan salah dan tidak nyata, yang dianggap sangat tidak rasional.

Sebuah laporan dari London, Inggris, yang diterbitkan dalam jurnal Brain, mencoba merangkum sejumlah kasus gangguan neurologis terkait Covid-19. Salah satu contohnya yang terjadi pada perempuan berusia 55 tahun tanpa riwayat kejiwaan. Wanita itu melaporkan halusinasi visual yang membuatnya melihat seperti ada singa dan monyet di rumahnya, sepekan setelah pulang dari perawatan akibat Covid-19.

Ada banyak bukti yang menemukan bahwa paparan infeksi virus dikaitkan dengan perkembangan psikotik. Pada pandemi inflluenza Spanyol tahun 1918-1919, ratusan kasus psikotik ditemukan pasca-pandemi.

Lihat juga:

7 Gejala yang Dikaitkan dengan Varian Baru Virus Corona

Chacko mengatakan, salah satu hipotesis yang paling mungkin menghubungkan Covid-19 dengan gangguan neurologis adalah adanya lonjakan sitokin akibat infeksi yang mengarah pada respons peradangan. “Virus menyebar, menembus sawar darah otak, dan Anda mengalami neurotoksisitas ini,” kata dia.

Kendati demikian, para ahli mengaku sulit untuk membuktikan hal tersebut. Pandemi sendiri memicu stres psikologis yang sangat tinggi. “Jadi, mungkin saja stres karena pandemi memicu gejala psikotik, baik seseorang terinfeksi atau tidak,” ujar psikiater, Thomas Pollak.

Pollak mengatakan, studi epidemiologi psikiatri skala besar serta penelitian tambahan tentang potensi efek Covid-19 pada otak diperlukan untuk memperjelas hubungan antara Covid-19 dengan psikotik.

(asr)

[Gambas:Video ]


Next Post

VIDEO: 21 Destinasi Wisata Terbaik untuk Dikunjungi di 2021