Dadang Si Dewa Kipas, Berpengalaman Lawan Grandmaster Catur

Farah

Jakarta, Indonesia —

Sosok Dadang Subur alias Dewa Kipas belakangan menjadi perbincangan setelah dituding melakukan kecurangan saat mengalahkan pecatur asing bergelar International Master (IM) dalam sebuah duel catur di aplikasi catur daring, Chess.com.

Dengan akun Dewa Kipas, Dadang mengalahkan IM Levy Rozman yang menggunakan nama akun GothamChess. Dalam pertandingan tersebut, berdasarkan perhitungan algoritma, Dadang dituding melakukan kecurangan. Akun Dewa Kipas pun diblokir.

Pilihan Redaksi
  • Atlet Indonesia Telantar di Inggris, BWF Dituntut Minta Maaf
  • Jokowi Minta Jangan Diamkan Perlakuan Tak Baik di All England
  • Menpora Desak Presiden BWF Diganti

Dadang bukan sosok asing di dunia catur karena pernah jadi pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) di Singkawang, Kalimantan Barat. Pria 60 tahun itu dulunya sering mengikuti berbagai turnamen lokal dan pernah memenangkan kejuaraan catur di Singkawang.

“Saya dulu kan belajar dari SMP kelas 2, pertamanya otodidak terus ketemu teman dikasih buku teori. Beberapa buku saya pelajari. Dari situ mulai tertarik catur,” kata Dadang saat ditemui di kediamannya di bilangan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat (19/3).

Pada masa itu, Dadang bermain catur dengan orang-orang dewasa di dekat rumah. Biasanya, pecatur dari kalangan bapak-bapak.

“Tetangga banyak yang main. Nah, kalau musuh belum datang, saya suka main. Sekali main saya menang padahal mengalahkan bapak-bapak yang jagoan di situ,” kenang Dadang.

[Gambas:Video ]

Sebelum menetap di Singkawang, Dewa Kipas muda mengasah permainan catur di klub Ganesha ITB. Kemudian, ia pindah ke klub Wibawa Mukti asuhan Pemerintah Kota Bandung. Bahkan ia pernah menjadi pengurus di klub tersebut.

“Kalau ada pertandingan internal kan suka mengundang pemain Grandmaster, nah di situ biasanya saya ikut main saja,” ujarnya.

Dadang mengenang sosok Master Internasional Herman Suradiradja, sosok juara nasional catur 1975 yang meraih norma Master Internasional 1976 itu adalah tetangganya.

“Saya juga pernah belajar dari Pak Herman Suryadiradja karena tetanggaan. Beliau kan pamannya Nia Dinata [cucu pahlawan Otto Iskandar Dinata.”

“Pak Herman Idola saya juga, dia bisa lawan ratusan pemain catur secara simultan,” ungkapnya.

Catur bagi Dadang Subur tak lebih dari sekadar hobi. Dewa Kipas juga tak pernah merasakan menjadi atlet. Apalagi turun resmi di turnamen internasional.

“Wah, saya mah pemain hiburan. Saya memang orang Percasi di Singkawang, pernah jadi bendahara. Saya hanya ikut lomba-lomba lokal tingkat kota,” ujar pria kelahiran 22 Februari 1961 itu.

Selama berada di Singkawang, Dadang merupakan pegawai BUMN di bidang asuransi jiwa. Ia mengemban jabatan selaku kepala unit. Kini, setelah pensiun ia mengisi kegiatan menjual pakan burung. Usaha jual pakan tersebut berasal dari tabungan pensiunnya.

“Pensiun saya enggak sampai Rp2 juta. Makanya saya jualan,” katanya.

Dadang sendiri sudah lama tak bermain catur. Bahkan akun catur Dewa Kipas di Chess.com bukan ia yang membuat, melainkan ditangani putranya Ali Akbar.

“Sebelum Chess.com itu ada Shredders. Paling banyak belajar dari situ,” ucap Dadang.

Menurut Dadang, lawannya pecatur daring tak semuanya hebat. Terkadang, ia memenangkan pertandingan bukan karena hebat, tapi kebetulan lawan banyak melakukan blunder

“Kalau main catur itu naik turun fokusnya, kalau lagi enggak konsentrasi bisa saja kalah. Saya kebetulan saja bisa menang dari dia [Levy], karena lagi enggak mood dan saya lagi bagus,” tuturnya.

(hyg/nva)


Next Post

Wagub DKI Sebut Bakal Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria menyampaikan kemungkinan jumlah sekolah yang bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Juli mendatang. Untuk tahap awal sekolah yang diizinkan tatap muka masih terbatas, sekitar 50-100 sekolah saja seluruh Jakarta. “Nanti kita lihat, bisa sampai 50 sekolah bahkan mungkin bisa sampai 100. Kita lihat […]