Charlie Hebdo dan Rentetan Teror di Prancis sejak 2015

Farah

Serangan terhadap warga Prancis pada Kamis (29/10) menambah panjang daftar teror di negara tersebut sejak insiden Charlie Hebdo pada 2015.

Jakarta, Indonesia —

Serangan terhadap warga Prancis pada Kamis (29/10) menambah panjang daftar teror di negara pimpinan Presiden Emmanuel Macron tersebut sejak insiden Charlie Hebdo pada 2015 lalu.

Situasi di Prancis kian panas setelah seorang yang diduga merupakan imigran keturunan Tunisia bernama Brahim Aouissaoui (21) menyerang warga lokal di sekitar Gereja Notredame Basilica, Nice, Prancis, dan menewaskan tiga orang.

Serangan ini terjadi beberapa hari setelah seorang migran dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18), menyerang Samuel Paty (47), guru yang sempat membahas kartun Nabi Muhammad di dalam kelas.

Sejumlah murid awalnya menceritakan pernyataan Paty ini ke orang tua mereka. Kabar ini kemudian tersebar di media sosial. Paty yang melihat unggahan itu kemudian mengadu ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.

Geram, Abouyezidovitch lantas merencanakan pembunuhan Paty. Ia memenggal kepala Paty dan menuai demonstrasi besar di Prancis. 

Penyerangan itu terjadi di tengah polemik ucapan Macron yang tak melarang Charlie Hebdo, kantor majalah satire, untuk menerbitkan komik atau kartun Nabi Muhammad.

Sikap Macron tersebut menuai kritik dari sejumlah pimpinan negara, khususnya negara Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ini bukan kali pertama teror terjadi di Prancis. Negara ini memang kerap menjadi target teror setelah Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad pada 2015 lalu. Berikut rangkumannya.

7 Januari 2015

Kakak beradik Muslim, Said dan Cherif Kouachi, menyerbu kantor Charlie Hebdo di Paris setelah majalah satire tersebut menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Bersenjata senapan, mereka menghabisi 12 nyawa dan melukai 11 orang lainnya. Setelah itu, serentetan serangan lainnya terjadi di berbagai sudut Prancis.

Cover Fokus Penangkapan Pelaku Penembakan Charlie AbdouIlustrasi Kouachi bersaudara. (Diolah dari DetikVisual)

9 Januari 2015

Seorang tak dikenal melancarkan serangan di supermarket kosher dan menyandera 19 orang. Ia kemudian membunuh empat orang Yahudi.

26 Juni 2015

Seorang berusia 35 tahun memenggal bosnya dan memperlihatkan kepala yang terpenggal. Ia menjalankan aksi itu di tengah dua bendera bernapaskan Islam di Saint-Quentin-Fallavier, Prancis. 

Setelah tertangkap dan dijatuhi hukuman penjara, pelaku bunuh diri di selnya. 

13 Juni 2016

Pemuda berusia 25 tahun menikam seorang petugas polisi dan rekannya hingga tewas di rumah mereka di Magnanville, sebelah barat Paris. Pembunuhan itu dilakukan di depan putra kecil mereka.

Pelaku sempat mengklaim melalui media sosial bahwa ia melakukan aksi tersebut atas nama ISIS. Ia akhirnya tewas di tangan tim SWAT saat operasi penangkapan.

26 Juli 2016

Dua remaja menyayat leher seorang pastor berusia 85 tahun di depan jemaat di gereja di Saint-Etienne-du-Rouvray. Remaja berusia 19 tahun itu tewas di tangan polisi.

Kelompok ISIS mengklaim dua remaja itu merupakan bagian dari mereka yang telah diambil sumpah setianya melalui sebuah video. 

1 Oktober 2017

Seorang warga Tunisia berusia 29 tahun membunuh dua perempuan muda dengan pisau. Pembunuhan dilakukan di stasiun kereta utama di selatan kota Marseille.

Pelaku akhirnya tertembak mati oleh tentara setempat. ISIS mengklaim serangan ini merupakan bagian dari operasi mereka.

Ilustrasi ISISIlustrasi ISIS. ( Indonesia/Laudy Gracivia

12 Mei 2018 

Khamzat Azimov (20), warga Prancis keturunan Chechnya, menikam seorang pria berusia 29 tahun hingga tewas di distrik Opera Paris. 

Ia juga tertembak mati di tangan polisi. ISIS kembali mengklaim sebagai dalang di balik serangan tersebut.

3 Oktober 2019

Mickael Harpon, ahli komputer di Departemen Riset Intelijen Kepolisian Paris, membunuh empat rekannya dengan pisau dapur. 

Pria berusia 45 tahun itu sempat mengamuk sekitar 30 menit, tapi kemudian dihentikan polisi dengan menembaknya hingga tewas.

Berdasarkan hasil penelusuran, Harpon sudah masuk Islam sekitar 10 tahun sebelumnya. Ia juga memiliki koneksi dalam gerakan Salafi ultra-konservatif.

4 Januari 2020

Seorang pria berusia 22 tahun membunuh seorang pria di satu taman di selatan Kota Paris. Pembunuhan dilakukan menggunakan pisau. 

Pelaku sempat mengamuk di taman tersebut sebelum melancarkan serangan ke korban. Korban sendiri tengah berjalan dengan istrinya. 

Ia juga sempat melukai dua orang lainnya sebelum ditembak mati oleh polisi. Penyelidik antiteror menyatakan pelaku belum lama masuk Islam menjadi mualaf. 

[Gambas:Video ]

4 April 2020 

Seorang pengungsi Sudan menikam dua orang hingga tewas di sebuah kota di tepi sungai, Romans-sur-Isere, Prancis. Setelah itu, pelaku berusia 33 tahun tersebut ditangkap tanpa perlawanan.

Jaksa menduga pembunuhan yang dilakukan terkait perusahaan dan hubungan dengan pelaku kejahatan teroris. 

25 September 2020

Seorang pria bersenjata pisau melukai dua orang di luar bekas kantor majalah satire Charlie Hebdo. Persidangan mengungkap bahwa pelaku merupakan kaki tangan dari pembantaian di kantor Charlie Hebdo pada 2015 lalu.

(uli/has)

Next Post

NEC Supports INTERPOL's Virtual Cybercrime Investigation Training

TOKYO, Oct 30, 2020 – (JCN Newswire) – NEC Corporation (TSE: 6701) and Cyber Defense Institute, Inc., an NEC Group company, today announced their support for the INTERPOL Digital Security Challenge (DSC), a virtual cybercrime investigation event that took place from October 12 to 16. During the event, cybercrime investigation […]