Bos Bio Farma Ungkap Penyebab Harga Obat RI Mahal

Farah

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir menilai penyebab harga obat mahal di Indonesia salah satunya adalah penggunaan dana pihak ketiga dalam produksi.

Jakarta, Indonesia —

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengungkapkan penyebab harga obat mahal di Indonesia. Menurutnya, kondisi ini disebabkan perusahaan produsen menggunakan dana pihak ketiga untuk melaksanakan penugasan dan penunjukkan penyediaan obat dan alat-alat kesehatan (alkes).

“Kami kalau hanya mengandalkan kepada pendanaan pihak ketiga tentunya ada cost of money yang harus kami bebankan kepada harga pokok produksi (HPP) sehingga membuat harga jual obat juga menjadi lebih mahal, padahal ini adalah sifat adalah penugasan,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IX, Rabu (18/11).

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah mempertimbangkan pemberian bantuan pendanaan kepada perusahaan farmasi untuk penugasan obat maupun alkes pada tahap awal. Pasalnya, perusahaan sendiri membutuhkan dana tersebut.




“Terkait skema pembiayaan dan pajak obat dan vaksin di Indonesia, agar menetapkan skema pembiayaan untuk pelaksanaan, penugasan, ataupun penunjukan langsung agar tidak memberatkan,” katanya.

Selain itu, ia berharap pemerintah segera merealisasikan insentif pajak untuk riset dan pengembangan (R&D) sektor farmasi. Ia juga meminta pemerintah mempercepat pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Lewat kebijakan yang komprehensif antara kementerian/lembaga (K/L) itu, diharapkan bisa memastikan bahwa hasil penelitian dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi dapat dilakukan hilirisasi dan komersialisasi. Pasalnya, ia mengungkapkan permasalahan klasik di Tanah Air adalah banyak produk-produk penelitian sektor kesehatan dan lainnya, mengalami kesulitan pada saat proses hilirisasi oleh industri.

“Jadi memang perlu ada bantuan juga dari pemerintah bahwa proses ataupun SOP standar operasional prosedur mulai dari penelitian sampai nanti bisa hilirisasi itu benar-benar bisa dibuktikan secara komersial, sehingga semua pihak yang terlibat dalam proses itu mereka mendapatkan benefitnya (manfaat),” katanya.

[Gambas:Video ]

Terakhir, ia meminta pemerintah memberikan jaminan dan kepastian untuk produk buatan dalam negeri. Menurutnya, selama produk itu bisa disuplai dari produksi dalam negeri, pemerintah hendaknya memberikan pembatasan impor untuk menjamin keuntungan dan kelangsungan dari produk dalam negeri.

“Sudah ada sebenarnya peraturan untuk TKDN ini, tapi memang dari industri kita membutuhkan jaminan yang lebih tegas dari pemerintah,” tuturnya.

Lihat juga:

Bio Farma Minta Impor Alkes Covid-19 Dibatasi

(ulf/sfr)


Next Post

Survei: Mayoritas Masyarakat Siap Terima Vaksin Covid-19

Jakarta, Indonesia — Sebuah survei menunjukkan mayoritas masyarakat bersedia menerima vaksin Covid-19. Survei dilakukan pada lebih dari 115 ribu orang di 34 provinsi di Indonesia. Survei yang digelar Kemenkes, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), UNICEF dan WHO ini menunjukkan bahwa tiga perempat responden menyatakan telah mendengar tentang vaksin […]