BMKG Tambah 39 Stasiun Gempa, Mayoritas di Wilayah Timur RI

Farah

BMKG menambah 39 stasiun pemantauan gempa yang mayoritas dibangun di wilayah timur Indonesia, salah satunya demi mengantisipasi kemungkinan tsunami.

Jakarta, Indonesia —

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membangun 39 stasiun pemantauan gempa bumi baru yang mayoritas ada di wilayah timur.

Pada 2019 lalu, BMKG memasang 194 stasiun monitoring gempa bumi yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan demikian, keseluruhan seismograf BMKG kini akan berjumlah 411 unit.

Pembangunan 39 titik stasiun miniregional monitoring gempa bumi ini dilakukan oleh BUMN bidang teknologi PT Len Industri. 

Manajer Rekayasa Sistem Unit Bisnis ICT & Navigasi PT Len Industri Yudhistira Utomo mengatakan 39 lokasi pemasangan seismograf ini mayoritas berada di Indonesia bagian timur.

Alasannya, wilayah ini belum serapat jaringan sensor seismik di Indonesia bagian barat.

“Di barat sendiri, kita pasang dua stasiun di selatan Pulau Jawa. Lokasinya di Yogyakarta,” ujar dia, dalam keterangannya, Senin (28/12).

Lihat juga:

30 Pendeteksi Tsunami di Gunung Kidul, Hanya 3 yang Berfungsi

“Data yang diterima semakin banyak sehingga akurasi dan kecepatan informasi penentuan gempa dapat meningkat. Saat ini sudah di kisaran 4 hingga 5 menit untuk informasi peringatan gempa [semenjak kejadian],” tutur Yudhistira.

Ia menyebut stasiun juga tetap menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) produksi Len Industri sebagai sumber catu dayanya.

“Yang membedakan tahun ini dengan tahun 2019 lalu, tahun ini menggunakan sistem posthole seismometer, dimana seismometer akan dimasukkan ke dalam lubang. Hal ini untuk mengurangi environment noise terhadap data sehingga dapat melakukan improvement kualitas data,” ujarnya.

Lihat juga:

BMKG: Alat Canggih Gagal Jika Warga Tak Siap Hadapi Tsunami

Diketahui, BMKG memiliki program peringatan dini tsunami yang dikenal dengan nama Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Sistem ini menggabungkan antara data seismik, data GPS, data Buoy, dan data Tide Gauge.

Pada sistem InaTEWS, data seismik menjadi ujung tombak observasi, karena dapat mendeteksi potensi tsunami dalam waktu 4-5 menit setelah kejadian gempa bumi.

(hyg/arh)

[Gambas:Video ]


Next Post

Siang Ini Komnas HAM Beberkan Temuan Lapangan Terkait Penembakan Laskar FPI

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM) berencana mengumumkan perkembangan penyelidikan dan hasil temuan lapangan kasus insiden penembakan terhadap enam orang laskar Front Pembela Islam (FPI) oleh aparat kepolisian. “Perkembangan penyelidikan dan hasil temuan lapangan akan dilaksanakan pada Senin, 28 Desember 2020, pukul 11.00 Wib,” kata Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM […]