Berayun di Ketinggian Desa Sepakung Semarang

Farah

Wisatawan yang gemar tantangan dapat mengunjungi Desa Sepakung, Semarang, untuk mencoba berayun di ketinggian, ke hadapan jurang.

Jakarta, Indonesia —

Kekayaan alam Semarang tak pernah lekang oleh waktu, malah justru bertambah seperti yang terjadi di Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru. Sebuah desa yang berada di dataran tinggi Lembah Utara Gunung Telomoyo, terletak di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.

Pernah menjadi desa tertinggal, kini Desa Sepakung yang indah menjadi salah satu destinasi favorit berwisata #DiIndonesiaAja. Perkembangan tersebut bermula saat objek wisata yang ada di sekitarnya mulai dikenal masyarakat luas, yang berangus-angsur memajukan kesejahteraan dan mengembangkan ekonomi mandiri desa.

“Pergerakan ekonomi itu menjadikan ada tenaga kerja yang tadinya menganggur, kerja di luar, bisa kerja di rumah, yang dulunya tidak ada pekerjaan, sekarang bisa buka warung. Itu menjadikan ekonomi di Sepakung bergerak terus,” kata Kepala Desa Sepakung Ahmad Nuri.

Di Desa Sepakung, ada beberapa wahana yang menantang nyali wisatawan. Misalnya, Ayunan Langit yang menggoda pengunjung untuk berayun memakai tali yang menggantung pada pohon di atas ketinggian, ke hadapan jurang dan perbukitan. Ada juga Ondo Langit (tangga langit), di mana wisatawan berjalan menyusuri tebing di atas ketinggian sekitar 50 meter sambil menyaksikan hamparan lembah yang hijau. Dari sana pengunjung bisa menikmati keindahan Bukit Gajah dan Kota Salatiga.

Wahana Ondo Langit baru dibuat pada 2019 lalu, dan kini menjadi daya tarik utama wisatawan yang berkunjung ke Desa Sepakung. Akibat pandemi, wisatawan yang berkunjung diwajibkan menerapkan protokol kesehatan, serta dibatasi jumlahnya. Hal itu diterapkan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Selain Desa Sepakung, spot menarik lainnya adalah Kampoeng Kopi Banaran. Di Kampung Kopi ini, pengunjung berkesempatan menjelajah kebun kopi menggunakan kereta wisata. Mengikuti ketentuan protokol untuk jaga jarak, kapasitas kereta yang biasanya mengangkut lima penumpang kini dibatasi maksimal dua orang saja.

Di musim yang tepat, akan tersaji pemandangan kebun kopi siap panen, hidup di dataran tinggi 500 meter dari permukaan laut dengan suhu 23 hingga 270 C. Kopi yang tumbuh di Kebun Kopi Banaran ini berjenis Kopi Robusta, dengan pohon-pohonnya berusia rata-rata 60 tahun.

Kopi Robusta yang dikenal sebagai ikon Jawa Tengah tersebut kemudian akan dibawa ke Pabrik Kopi Banaran. Pabrik yang didirikan pada 1911 ini menjadi tempat pengolahan biji kopi hingga berupa kopi bubuk dalam kemasan. Khusus proses pemilahan, masih dilakukan secara manual untuk mendapatkan kualitas terbaik.

“Kualtas kopi memang ditentukan oleh pengadaan bahan baku yang baik, kita selalu koordinasi dengan pihak kebun untuk menghadirkan kopi yang betul-betul matang,” ungkap Gefry Brahmanto, asisten teknik Pabrik Kopi Banaran.

Menurut cerita, sebelum jadi kebun kopi, Banaran dulunya dipenuhi tanaman kakao. Sampai kemudian diketahui suhu udara di sana sesuai dengan karakter khas varian robusta. Usai berkeliling menghirup udara segar di kebun, pengunjung bisa beristirahat memanjakan mata menatap alam, sambil menyesap kopi Java Mocha yang bercita rasa kombinasi asam dan pahit, menempel pada aroma mocha yang wangi.

[Gambas:Youtube]

(gea/rea)

Next Post

1.200 Orang Mengungsi Akibat Banjir dan Longsor di Jagakarsa

Jakarta, Indonesia — Banjir dan longsor melanda ratusan rumah di Jalan Damai RT 04/RW 02, Kelurahan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Akibatnya, sekitar 1.200 warga mengungsi. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Mohammad Insaf mengatakan, Pemprov DKI telah menyiapkan tiga lokasi sementara untuk pengungsian. “Pengungsi akibat banjir […]