Bayang-bayang Keuntungan Pebisnis Saat RI Putus dari Dolar

Farah

Gubernur BI terdahulu Agus Martowardojo pernah mengatakan keputusan RI meninggalkan dolar untuk transaksi perdagangan akan untungkan pebisnis.

Jakarta, Indonesia —

Bank Indonesia dan bank sentral China, People’s Bank of China (PBC) sepakat menggunakan rupiah dan yuan sebagai mata uang pembayaran transaksi perdagangan bilateral atau pun investasi langsung (Local Currency Settlement/LCS, dan tak lagi menggunakan dolar AS.

Selain dengan China, RI juga telah meneken kesepakatan serupa dengan Jepang, Thailand, dan Malaysia, sehingga beralih menggunakan rupiah, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.

Gubernur BI terdahulu Agus Martowardojo pernah mengatakan kerja sama ini akan menumbuhkan nilai transaksi perdagangan masing-masing negara, bahkan hingga dua kali lipat dalam tiga sampai lima tahun ke depan.




Hal ini karena pengurangan nilai yang terjadi ketika satu mata uang lokal dikonversi ke dolar AS, lalu kembali dikonversikan ke mata uang lokal lainnya, bisa ditekan sehingga volume transaksi perdagangan pun bertambah.

Agus meyakini kebijakan ini berdampak positif bagi para pebisnis. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan pengusaha lebih efisien lantaran tak perlu lagi mengkonversikan nilai perdagangan ke dolar AS.

“Kami juga melihat kalau menggunakan mata uang lokal akan lebih memudahkan karena langsung dikonversikan ke nilai tukar kedua negara, sehingga tidak perlu dikonversikan ke mata uang negara ketiga (dolar AS),” ujarnya.

Selain itu, menurut dia kesepakatan juga bakal menekan gejolak nilai tukar masing-masing mata uang, sehingga dampak jangka panjangnya dapat menumbuhkan perekonomian Tanah Air hingga ekonomi kawasan Asia Tenggara.

“Soal volatilitas rupiah, kami sambut baik akan berada di angka 3 persen,” ujar Agus saat menandatangani kesepakatan LCS dengan Bank Negara Malaysia dan Bank of Thailand pada 2017 lalu.

(wel/vws)

[Gambas:Video ]

Next Post

NYALANG: Lekuk Warna di Tengah Amuk Dunia