Breaking News in Indonesia

Banjir Bandang Flores Timur Menewaskan Lima Warga

Jakarta, Indonesia —

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mencatat lima orang warga di Desa Lamanele, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia akibat banjir bandang yang terjadi dini hari tadi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati dalam keterangan tertulis mengatakan, banjir bandang telah menghantam wilayah Flores Timur tepatnya di dua desa, yakni di Desa Lamanele, Kecamatan Ile Boleng dan Desa Waiburak yang berada di Kecamatan Adonara Timur tepat pukul 01.00 WIB, Minggu (4/4) tadi.

Dari hasil pendataan sementara, BPBD Flores Timur mencatat, lima orang warga Desa Lamanele meninggal dunia, lima orang lainnya menderita luka-luka.

“Dan sembilan KK atau 20 jiwa terdampak. Sedangkan di Desa Waiburak, sebanyak 4 orang mengalami luka-luka. Mereka sudah dirawat di puskesmas setempat,” kata Raditya.

Pilihan Redaksi
  • Sebab Hutan di Pulau Jawa Semakin Mengecil 24 Persen
  • Ada Pemerintah dan Aturan Dalam Kencangnya Alih Fungsi Lahan
  • 23.362 Jiwa Terdampak Banjir Bima NTB, Ribuan Rumah Terendam

Raditya juga merinci, dari hasil pantauan BPBD Kabupaten Flores Timur, puluhan rumah warga di Desa Lamanele tertimbun lumpur. Bahkan tak sedikit rumah yang hanyut terbawa banjir.

“Di samping itu, jembatan putus di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur,” kata dia.

Hingga saat ini kata dia, BPBD di Kabupaten Flores Timur masih melakukan pendataan di lapangan terkait korban meninggal dunia maupun luka-luka.

“Petugas di lapangan masih melakukan penanganan darurat pascainsiden yang terjadi pada dini hari tersebut,” kata Raditya.

Lebih lanjut, saat ini kata Raditya pemerintah daerah juga telah melakukan rapat terbatas antara Bupati, TNI, Polri dan instansi terkait. Salah satunya dengan pembentukan posko penanganan darurat.

Dia juga merinci sejumlah kendala yang ditemukan di lapangan, yakni salah satunya berkaitan dengan akses yang terdampak banjir tersebut. Akses ke wilayah tersebut satu-satunya adalah dengan melakukan penyeberangan laut ke Pulau Adonara.

“Sedangkan hujan, angin dan gelombang yang tinggi mengakibatkan pelayaran tidak diperbolehkan oleh otoritas setempat,” kata dia.

Padahal kata Raditya, BMKG juga telah memprakirakan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat-sangat lebat, angin kencang dan gelombang tinggi dalam periode sepekan ke depan di sebagian wilayah Indonesia.

Potensi hujan sedang – lebat diprediksi terjadi di wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua.

Sedangkan potensi hujan sangat lebat diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT.

Potensi angin kencang juga diprediksi terjadi di wilayah Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT dan Sulawesi Selatan.

“Saat ini, BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Flores Timur dan memantau penanganan darurat. Apabila dibutuhkan mobilisasi bantuan, BNPB telah siap dengan pengerahan sumber daya,” katanya.

(tst/ard)

[Gambas:Video ]