Jakarta () – Tak semua film horor semata mengandalkan visualisasi makhluk gaib untuk memancing rasa ngeri penonton. "The Medium", karya sutradara asal Thailand Banjong Pisanthanakun misalnya, berfokus pada suasana atau atmosfer serta cerita mencekam dan terkesan gelap. Rasa takut penonton pun dibangun secara bertahap.

"The Medium" menjadi film mokumenter pertama Banjong, menggandeng produser asal Korea Selatan Na Hong-jin. Mokumenter menggambarkan peristiwa fiksi tetapi disajikan secara dokumenter. Ada banyak detil di sini.

Dalam konteks film karya Banjong, yang digambarkan yakni shamanisme atau upacara ritual berdasarkan kepercayaan terhadap Dewa Bayan atau arwah baik leluhur. Banjong terinspirasi kisah Dewa Bayan yang ada, lalu membuat cerita berdasarkan apa yang dia ketahui itu.

Dalam film, tim dokumenter mengikuti Nim (diperankan Sawanee Utoomma), seorang dukun yang tinggal di sebuah desa pegunungan di Thailand. Setelah saudara perempuan Nim, Noi (diperankan Sirani Yankittikan) menolak untuk menjadi dukun yang ditunjuk bertahun-tahun yang lalu, dia menggantikan peran tersebut.

Di awal, Nim bertutur secara singkat mengenai ritual yang biasa dia lakukan pada warga desa dengan keluhan penyakit non-medis hingga awal mula menjadi cenayang.

Banjong melakukan riset selama setahun di berbagai wilayah Thailand. Dia juga membaca sejumlah tesis serta mendapatkan saran dari orang-orang termasuk pegiat acara televisi horor Thailand.

Shamanisme sendiri bukan hal baru baginya. Sejak kecil, Banjong dia sudah mendengar mengenai hal ini. Berbicara soal percaya atau tidak, dulu dia mengaku percaya sementara saat ini, 50:50.

Salah satu adegan dalam film "The Medium" (Twitter.com/showboxmovie)

Bagi sutradara yang pernah terlibat juga dikenal melalui film "Pee Mak" (2013) itu, "The Medium" menjadi tantangan besar. Bila biasanya dia fokus pada plot, kali ini dia menitikberatkan pada suasana.

Di awal film, suasana yang suram sudah Banjong hadirkan. Warna redup saat Nim diwawancara, peringatan kematian kerabat Nim dan suasana perdesaan yang sepi. Selain itu, ada keganjilan yang tersirat melalui perilaku Mink.

"Semua detil dalam film sangat penting baik itu secara ritual ataupun gambarnya," kata Banjong dalam sebuah wawancara daring, belum lama ini.

Selama syuting, banyak improvisasi yang dilakukan. Menurut Banjong ini buah kerja samanya dengan para aktor. Kemudian, walau menggarap tema horor namun dia mengaku tidak ada pengalaman mistis selama pembuatan film.

Berbicara pesan yang ingin disampaikan, Banjong, menitikberatkan pada berkuasanya kejahatan dan karma manusia. Dia tak bermaksud memberikan penilaian benar atau salah terhadap suatu kepercayaan.

Para penonton akan diajak menyelami salah satu kepercayaan yang dianut sebagian masyarakat Thailand, termasuk ritual yang biasa dilakukan dan tempat yang dikeramatkan.

Tokoh Mink pada salah satu adegan dalam film "The Medium" (Twitter.com/showboxmovie)

Elemen seram tokoh Mink

Karakter Mink yang diperankan Narilya Gulmongkolpech berperan penting mengantarkan keseraman pada penonton. Dia kerasukan arwah. Tetapi bukannya Dewa Bayan, ada kecenderungan yang merasuki Mink justru roh jahat. Perilaku dan gerak-gerik Mink pelan-pelan menunjukkan jenis arwah yang merasukinya.

Narilya yang debut sebagai aktor melalui film ini berusaha tampil maksimal, walau menilai karakter Mink cukup sulit diperankan. Sebelum syuting, dia banyak berbincang dengan sutradara Banjong dan aktris lainnya dan melakukan serangkaian tes akting.

Sutradara Hong-jin juga membantunya. Dia memberikan referensi gaya-gaya seram. Khusus untuk adegan kerasukan, Narilya melakukan persiapan khusus mulai dari belajar yoga agar tubuhnya lentur dan menurunkan berat badannya hingga 10 kg.

Dalam film, Narilya tampak sangat kurus dengan tulang punggung yang menonjol. Yoga tampak membantunya bergerak luwes selama kerasukan. Ekspresi wajahnya pun mendukung akting seramnya.

"Saat adegan Mink hilang dari rumah dan kembali ke rumah. Pada saat sudah penuh possessed, adegan ini membuat orang kaget dan kaget bagiku. Saat syuting tidak terpikir film akan seseram itu," kata Narilya.

Di sisi lain, ada tokoh Nim yang terkesan misterius. Nyaris tak ada tawa dia hadirkan sepanjang film. Cenayang yang hidup sendiri dan amat peduli pada keponakannya, yakni Mink itu hampir selalu memunculkan ekspresi wajah serius, walau sebenarnya selama wawancara nada bicaranya santai.

Tentang kelanjutan "The Medium"

Banjong mengatakan, antusiasme penonton film "The Medium" di luar dugaannya. Menurut dia, capaian box office di Korea Selatan melebihi ekspektasinya.

Di Indonesia, distributor film CBI Pictures menyatakan "The Medium" sudah disaksikan lebih dari 520.000 penonton di Indonesia. "The Medium" juga dikatakan mengungguli layar Indonesia dengan hampir 1.500 layar dan 29 persen showtime seluruh Indonesia.

Lantas, apa ini membuat Banjong berencana membuat sekuel? Menurut dia, hal ini akan sangat sulit. Banyak hal yang tidak dijelaskan dalam film memang sengaja dibuat seperti itu agar para penonton membuat prediksi sendiri.

"Ketimbang sekuel, lebih berpeluang prekuel. Tetapi ini masih dalam tahap pemikiran," kata Banjong.

"The Medium" tayang perdana di bioskop Korea Selatan pada 14 Juli lalu di tengah gelombang keempat kasus COVID-19 pada Negeri Ginseng itu. Sementara di Indonesia, film ini hadir pada 20 Oktober 2021.

Baca juga: Menyelami rasa takut dalam "Paranoia"

Baca juga: Derita dan pelarian Hwang Jung-min di "Hostage: Missing Celebrity"

Baca juga: "He's All That" upaya sia-sia bangkitkan kenangan film 90-an

Oleh Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © 2021