All I Want for Christmas is You Kado Natal Ajaib Mariah Carey

Farah

All I Want for Christmas is You merupakan kado natal Mariah Carey yang ajaib dan abadi, terutama di era digital.

Jakarta, Indonesia —

Kadang sebuah karya musik bisa begitu melegenda hingga melintasi generasi juga era. Itulah yang terjadi dengan All I Want for Christmas is You, karya Mariah Carey pada 1994 silam.

Dibuat sebagai sebuah pertaruhan, lagu yang dibuat selama 15 menit ini memiliki racikan yang sempurna sebagai sebuah lagu bertema hari raya: lirik yang terhubung dengan pendengar dan komposisi musik yang abadi.

Secara lirik, lagu ini sejatinya adalah sebuah lagu cinta. Jauh berbeda dibandingkan dengan lagu bertema natal pada umumnya yang kudus atau berisi cinta kasih. Mariah Carey sukses memadukan sebuah lagu berisi kerinduan akan seseorang dengan suasana natal yang merefleksikan natal impiannya sejak kecil.

REVIEW MUSIK LAINNYA
  • Review Album: Taylor Swift – folklore
  • Review Album: Katy Perry – Smile
  • Review Album: BCL – Live at BCL’s Attic
  • Melodrama Eksploratif Taylor Swift dalam Evermore

Entah bisa dibilang beruntung atau tidak, namun pengalaman natal Mariah Carey saat masih kecil yang tak sebahagia di film-film natal sejatinya jadi pendorong terciptanya lagu ini.

“[Saat anak-anak] saya memiliki keluarga yang tak berjalan dengan baik, yang merusak [natal] setiap tahun,” kata Mariah Carey dalam wawancara edisi spesial Amazon Music, Mariah Carey is Christmas, 2019 lalu.

“Tidak dengan ibu saya, ibu saya selalu berusaha membuat ini menyenangkan. Tapi kami tak banyak memiliki uang,” lanjutnya. “Dan ketika saya dewasa, saya berjanji tak akan membiarkan situasi itu terjadi lagi,”

Refleksi Carey itu sebenarnya menggambarkan sebagian besar keinginan orang saat hari raya –bukan hanya pada saat natal– yaitu kehadiran orang terkasih atau sosok yang kita anggap penting dalam hidup kita.

Tak perlu ada hadiah mewah. Tak perlu ada perayaan spektakuler. Hanya kebersamaan dengan orang terkasih, bersenda gurau, berbincang akrab dalam suasana yang hangat, sebenarnya sudah mampu menjadi kado terindah.

Hal itu pun semakin terasa di tengah situasi pandemi seperti saat ini, ketika semua orang harus menjaga jarak, tak bisa lagi bercengkerama dengan hangat dan bebas seperti dulu kala. Kalaupun bisa, harus melalui segala kerepotan juga keruwetan protokol.

LOS ANGELES, CA - DECEMBER 03: Singer Mariah Carey performs onstage during the Grammy Nominations concert live held at the Nokia Theatre LA Live on December 3, 2008 in Los Angeles, California.   Kevin Winter/Getty Images/AFPPengalaman natal Mariah Carey saat masih kecil yang tak sebahagia di film-film natal sejatinya jadi pendorong terciptanya lagu ini. (Kevin Winter/Getty Images/AFP)

Esensi kebersamaan dan kehangatan kala hari raya yang kemudian dibungkus dengan pembawaan meriah dan bumbu melodi yang catchy, mampu membuat lagu ini bertahan setidaknya terus diputar setiap tahun.

Secara komposisi musik, Mariah Carey dan Walter Afanasieff secara brilian mencampurkan banyak melodi dari berbagai genre pada lagu ini. Ajaibnya, semua bisa terangkai menjadi sebuah lagu yang terdengar segar dan baru tetapi juga akrab dalam waktu yang bersamaan.

Menurut saya, sejumlah bagian menjadi alasan perasaan itu bisa muncul. Musik celesta di awal yang membawa kesan klasik, beat uptempo yang kontemporer, dan suara latar bergaya choir-Motown serta dilengkapi denting lonceng yang menegaskan sentuhan natal pada lagu ini.

Segala komposisi yang grande –tapi juga reachable karena bisa dinyanyikan orang biasa saat karaoke– itu dibawakan secara pas tanpa perlu Mariah Carey mengeluarkan whistle tone miliknya yang khas. Carey pun hanya menggunakan nada tinggi dengan gaya gospel yang semakin mengentalkan suasana natal pada lagu ini.

Formula tersebut yang kemudian membangun citra lagu ini sebagai sebuah musik yang berdiri sendiri. Menurut saya tak bisa saklek lagu ini dikelompokkan hanya sebagai lagu natal, atau lagu gospel, lagu pop, kontemporer, ataupun R&B.

Semua musik itu terwakili dan mereka yang memiliki preferensinya masing-masing pada genre tersebut merasakan ada bagian dari dirinya pada lagu ini. Lagu ini merangkul semua golongan, lintas genre, yang kemudian meluas secara alami hingga melintasi zaman, generasi, wilayah negara, bahkan penganut agama.

[Gambas:Instagram]

Menariknya, hal itu terbukti justru bertahun-tahun setelah lagu ini dirilis. Berdasarkan catatan Billboard, lagu ini hanya bertengger nomor enam di Billboard Hot 100 pada 1994.

Meski setiap jelang akhir tahun lagu ini masuk kembali ke tangga Hot 100, All I Want for Christmas Is You tak pernah mencapai puncak tangga lagu itu hingga pada 2019 lalu, tepat 25 tahun setelah lagu ini dirilis.

Bila bukan karena kemampuan lagu ini merangkul pendengar lintas generasi, yang juga dibantu oleh teknologi digital, lantas bagaimana bisa lagu berusia seperempat abad masih didengar bahkan menjadi jawara tangga lagu populer kekinian?

Lagu ini dulu hanyalah bisa diputar melalui kaset atau radio saat momen jelang natal. Namun ketika dunia memasuki era streaming pada 2010-an, generasi muda yang bahkan dulu tak melihat Mariah Carey membuat menangis penonton dengan lagu Hero secara langsung juga bisa menerima lagu ini.

Spotify pun mencatat hal tersebut. Pada 2018, ada peningkatan streaming lebih dari 2.000 persen atas lagu All I Want for Christmas Is You dari Oktober ke Desember. Lagu ini pun memecahkan rekor dengan akses terbanyak dalam sehari, yaitu 10,8 juta streaming.

[Gambas:Twitter]

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Instagram]

Lagu yang catchy dengan modal emosi yang kuat, kemudahan akses teknologi digital, dan penggunaan yang berulang oleh berbagai pihak seperti pusat perbelanjaan, membuat lagu ini hidup di tengah-tengah masyarakat dan muncul setiap musimnya.

Namun menariknya, segala keajaiban All I Want for Christmas is You itu menurut saya hanyalah terjadi pada lagu versi orisinal.

Segala bentuk remix dan pembawaan ulang lagu ini tak mampu mengalahkan kekuatan magis lagu empat menitan itu. Saya bisa mengatakan hal tersebut karena telah mendengar banyak versi lagu ini yang dibuat sendiri oleh sang empunya, Mariah Carey.

Tengoklah Spotify atau Apple Music, Mariah Carey punya banyak versi dari lagu ini. Namun tak ada yang bisa membuat kuping ini betah seperti pada versi aslinya meski didengar berkali-kali.

Lihat juga:

Mariah Carey Sebut Sang Ibu Cemburu pada Kariernya

Lagu ini bak tercipta hanya untuk sekali dan tak akan ada yang bisa menandinginya. Sekali untuk selamanya.

Mariah Carey pun menciptakan banyak lagu natal lainnya, seperti Oh Santa!, All I Want for Christmas is You – Extra Festive, dan sebagainya. Namun sekali lagi, tak ada yang seperti All I Want for Christmas is You versi 1994.

Beruntung Carey pernah menciptakan ini, setidaknya setiap tahun ia bisa mendulang jutaan dolar hanya dari lagu ini.

Terlepas dari sifat langka lagu ini yang macam komet Halley, All I Want for Christmas is You adalah sebuah hadiah natal berupa musik universal yang saya yakin akan tetap bergema setiap Desember di tahun-tahun mendatang.

[Gambas:Youtube]

(end)


Next Post

Jokowi di Hari Natal: Semoga Kedamaian dan Keberkahan Iringi Langkah Kita

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan perayaan natal tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya. Dia menyadari pandemi Covid-19 membuat keadaan tidak seperti biasanya. “Saudara-saudaraku umat Kristiani di seluruh Indonesia. Saya tahu, Hari Natal tahun ini tidak seperti tahun-tahun yang lalu ketika keceriaan dan keriaan akhir tahun menyelimuti kehidupan negeri kita,” kata […]