3 Alasan Mengapa Harga Kopi Luwak Mahal

Farah

Terdapat sejumlah alasan mengapa harga kopi luwak mahal. Salah satunya, produksinya langka. Pada masa kejayaannya, harganya bisa mencapai Rp1-1,5 juta per Kg.

Jakarta, Indonesia —

Bicara soal kopi, orang boleh bangga mencicipi nikmat kopi-kopi yang sudah mendunia. Ya sebut saja, kopi Brazil Cerrado, Colombia Supremo, Ethiopia, Jamaica Blue Mountain atau Hawaii Kona.

Tapi selain deret kopi di atas, sebagian orang lainnyaa juga bakal awet mengingat nikmat dan keistimewaan kopi luwak.

Selain konsumen kopi dalam negeri, karunia rasa kopi luwak pun diakui di luar negeri. Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Speciality & Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (BPP AEKI) mengatakan kopi luwak memiliki pasar yang besar di Eropa, Amerika dan mulai merambah ke Rusia.

Kopi luwak ‘booming’ pada 2010-2011. Seluruh daerah penghasil kopi lantas turut menghasilkan kopi luwak. Harganya pun selangit.

Kenapa bisa harga kopi luwak ini begitu mahal?

Moelyono menjelaskan setidaknya ada tiga faktor yang membuat kopi luwak mahal, karena didapat dari hasil pilihan kopi terbaik hingga unsur kelangkaannya.

“Pertama, kopi luwak hanya makan kopi terbaik hari itu. Kita kenal istilah petik merah, tapi orang tidak tahu ini matang kemarin atau hari ini. Luwak, dengan instingnya, hanya makan kopi yang kondisinya paling baik hari itu,” kata Moelyono pada Indonesia.com melalui sambungan telepon.

Seekor Luwak (Paradoxurus Hermaphroditus) berada di dalam kandang di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/15.Foto: ANTARA FOTO/Ismar Patrizki
Seekor Luwak (Paradoxurus Hermaphroditus) berada di dalam kandang di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/15.

Kedua, ia melanjutkan, dalam sehari luwak hanya makan kopi sebanyak 10-15 gram. Si biji hitam ini sesungguhnya bukan makanan luwak. Jadi, kondisi ini menyebabkan produksi kopi pun tak akan bisa banyak.

Kemudian yang ketiga, kopi ini langka karena untuk mendapatkannya harus didahului dengan mencari kotoran luwak yang telah memakan kopi matang. Bisa jadi kian jarang jumlahnya lantaran luwak ditemukan lebih memilih kopi arabika ketimbang robusta.

Lihat juga:

Di Sini Kopi, di Sana Kopi

Catatan Kementerian Perdagangan pada 2018, specialty coffee paling terkenal dari Indonesia adalah kopi luwak. Specialty grade coffee adalah kopi yang telah melalui proses penanaman, pemeliharaan, panen hingga proses pascapanen yang baik lantas melewati proses penilaian cupping score–yang bisa meningkatkan harga jual.

Sementara laman Kementerian Pertanian menulis, Indonesia jadi salah satu eksportir terbesar dunia yang kesohor akan jenis specialty kopinya. Salah satunya, kopi luwak, jenis kopi yang melewati proses fermentasi di sistem pencernaan luwak.

Dikutip dari laporan Kemendag pada 2018, kelangkaan dan keistimewaan kopi luwak menyebabkan harganya dibanderol hingga US$100 per 450 gram.

Infografis Perjalanan Panjang Tren Kopi KekinianFoto: Indonesia/Fajrian
Infografis Perjalanan Panjang Tren Kopi Kekinian

Kopi Luwak, Riwayatmu Kini

Meski tampak menjanjikan, kopi luwak masih jadi perdebatan di kalangan pecinta hewan. Ketua Departemen Speciality & Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (BPP AEKI), Moelyono mengungkapkan bahwa komoditas ini harus tersandung masalah kesejahteraan hewan (animal welfare) pada 2012.

Di masa kejayaannya, dinas-dinas pertanian mengarahkan petani kopi untuk mengupayakan produksi kopi luwak. Mau tak mau saat itu petani pun memelihara luwak, padahal hewan ini merupakan binatang liar.

Saat hewan liar terpaksa dipelihara, kandang akan membuat ruang gerak mereka terbatas dan habitat pun yang tak memadai seperti di alam lepas.

“Kalau sudah seperti itu, luwak yang stres bisa makan anggota tubuhnya sendiri dan mati. Ini dianggap eksploitasi tapi kita tidak bisa ngomong kalau ini salah petani,” ungkap dia lagi.

Lihat juga:

Hitam Putih Kopi Luwak

Moelyono pun menyayangkan pemerintah yang kala itu menurutnya kurang tanggap. Padahal jika ada regulasi yang tepat, termasuk cara pemeliharaan, pengembangan kopi hingga pengawasan mutu, boleh jadi kopi luwak bakal jadi lahan basah bisnis kopi.

Apalagi mengingat, kopi luwak sempat mencapai harga Rp1-1,5 juta per kilogram. Kalau sekarang, menurut Moelyono, bisa menjual kisaran Rp200ribu-300ribu per kilogram saja dianggap sudah bagus.

“Kalau ngomong kopi terbaik enggak ada yang mengalahkan kopi luwak. Geisha yang terkenal dan mahal saja enggak bisa ngalahin. Di lelang kopi, kopi dengan skor tertinggi belum tentu harganya tertinggi,” ujar Moelyono.

“Namanya manusia, ada kelemahan. Kalau hewan, dia pakai insting, dia milih kondisi kopi terbaik.”

Lihat juga:

5 Manfaat Kesehatan yang Mengejutkan dari Minum Kopi

(els/NMA)

[Gambas:Video ]

Next Post

114.133 Orang Terjaring Operasi Yustisi Covid-19 di DKI, Denda Terkumpul Rp371 Juta

Petugas gabungan memberikan sanksi terhadap 114.133 orang saat Operasi Yustisi penertiban dan pendisiplinan masyarakat saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta. “Total sanksi ada 114.133 orang yang ditindak petugas,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Yusri Yunus di Jakarta, […]