2021: Skincare Lebih Sederhana, Botox dan Filler Bakal ‘Boom’

Farah

Tren kecantikan dan skincare tak akan surut meski pandemi Covid-19 masih terus berlanjut, setidaknya di awal-awal tahun 2021.

Jakarta, Indonesia —

Tren kecantikan dan skincare tak akan surut meski pandemi Covid-19 masih terus berlanjut, setidaknya di awal-awal tahun 2021. Pandemi justru membuat orang semakin sadar akan pentingnya kecantikan dari dalam melalui penggunaan skincare maupun tindakan medis non bedah lainnya.

Dokter ahli kecantikan dan estetika Olivia Ong menjelaskan bahwa masyarakat semakin memahami kecantikan dan estetika. Apalagi belakangan, masyarakat ikut mengenal standar kecantikan golden face ratio. Pengukuran ini ramai dibicarakan karena menjadi penilaian artis tercantik di dunia versi Top Beauty World.

“Masyarakat kini sudah mengenal golden face ratio yang sebelumnya hanya diketahui kalangan dokter saja,” kata Olivia kepada Indonesia.com, beberapa waktu lalu.

Olivia mengatakan golden face ratio merupakan pengukuran bentuk wajah yang ideal dan proporsional berdasarkan rumus matematika. Pengukuran ini sudah dikenal sejak tahun 1900-an di Yunani.

Golden face ratio diukur berdasarkan perbandingan panjang dan lebar bagian wajah. Pengukuran ini juga biasanya digunakan dokter sebagai panduan melakukan tindakan pada wajah pasien.

“Ini bisa menjadi panduan wajah yang proporsional yang biasanya lebih atraktif, lebih harmonis. Ini bisa dibantu dengan filler atau botox untuk mendekati ukuran yang proporsional,” ucap Olivia yang merupakan pendiri Jakarta Aesthetic Clinic.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pada wajah orang Malaysia menunjukkan hanya 14 persen orang saja yang memiliki wajah sesuai dengan golden face ratio tersebut. Namun, bukan berarti tidak sesuai dengan golden ratio itu maka wajah tidak cantik.

Lihat juga:

5 Tips Sebelum Operasi Plastik di Korea Selatan

“Orang yang tidak memiliki golden face ratio merasa lebih baik. Karena ternyata kecantikan itu merupakan persepsi yang terbentuk karena latar belakang budaya, pendidikan, dan sosial ekonomi. Jadi perhitungan tersebut tidak semata-mata ditelan mentah-mentah,” kata Olivia.

Nantinya di 2021, kata Olivia, orang akan memperhatikan kecantikan dengan cara yang lebih sederhana. Alih-alih repot dengan skincare yang memiliki banyak tahapan, orang cenderung memilih produk perawatan wajah yang sederhana dikombinasi dengan perawatan non bedah seperti filler dan botoks.

“Saat ini perawatan estetik non medah sangat pesat sekali terutama setelah PSBB dilonggarkan. Karena orang ingin hidup lebih simple. Ini akan boom banget,” kata Olivia.

Selain itu, kecantikan yang alami juga akan menjadi tujuan atau goal banyak orang. Dokter spesialis bedah plastik Danu Mahandaru menjelaskan masyarakat agar mencari kecantikan yang natural.

Young woman on a beauty treatment with the filler injection at the beauty clinic.Foto: iStockphoto/SrdjanPav
filler

“Nantinya, kecantikan akan lebih ke arah wellness yang ditandai dengan kulit segar, lembap, dan sehat,” kata Danu yang praktik di The Clinic Beautylosophy, kepada Indonesia.com.

Untuk bisa mencapai kecantikan yang natural, Danu menyarankan agar masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan makan makanan bernutrisi tinggi, rutin berolahraga,mengelola stres, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.

(ptj/chs)

[Gambas:Video ]


Next Post

PKS: Dua Menteri Korupsi Jadi Prestasi Buruk Periode II Jokowi

Anggota FPKS DPR RI Komisi II, Mardani Ali Sera menyebut terjeratnya dua menteri Presiden Joko Widodo atau Jokowi periode ke II dalam setahun ini menjadikan prestasi terburuk bagi presiden. Menurutnya hal itu masalah besar dan tak bisa ditutupi hanya dengan reshuffle kabinet. Dua menteri Jokowi yang terjerat korupsi adalah Menteri […]