1.200 Orang Mengungsi Akibat Banjir dan Longsor di Jagakarsa

Farah

BPBD Jakarta mengatakan, Pemprov DKI telah menyiapkan tiga lokasi sementara untuk pengungsian.

Jakarta, Indonesia —

Banjir dan longsor melanda ratusan rumah di Jalan Damai RT 04/RW 02, Kelurahan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Akibatnya, sekitar 1.200 warga mengungsi.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Mohammad Insaf mengatakan, Pemprov DKI telah menyiapkan tiga lokasi sementara untuk pengungsian.

“Pengungsi akibat banjir dan longsor di Ciganjur hampir 1.200 jiwa di tiga lokasi pengungsian,” kata Insaf saat dikonfirmasi, Minggu (11/10).

Insaf mengatakan, berdasarkan informasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) Jakarta Selatan, sejumlah alat berat dan petugas telah dikerahkan sejak kemarin malam.

Adapun unit dan personil yang dikerahkan di antaranya 1 unit komando, 5 unit light rescue, serta 5 PK berikut 35 orang personil.

Ia menyebut, tiga orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Satu korban meninggal dunia yakni seorang perempuan berusia 45 tahun yang tengah hamil.

Sementara dua korban lainnya perempuan masing-masing berusia 50 dan 48 tahun. Keduanya saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Ali Sibroh Malisi, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Lihat juga:

BPBD DKI Keluarkan Peringatan Dini Banjir Jakarta

Sebelumnya, 300 rumah warga di Jalan Damai RT 04/RW 02, Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan terendam banjir dengan ketinggian mulai dari 70 cm sampai 150 cm, Sabtu (10/10) malam. Camat Jagakarsa Alamsyah menyebut, banjir bersumber dari luapan anak Kali Baru akibat curah hujan yang tinggi serta kiriman air dari wilayah Depok.

Alamsyah mengatakan, luapan anak Kali Baru dikarenakan tembok perbatasan kali di kawasan Melati Residen jebol, sehingga air meluber masuk ke pemukiman warga di RT 04/RW 02.

Banjir di Ciganjur menyisakan lumpur dan genangan

Banjir dan longsor yang menimpa warga Jalan Damai, RT 004/RW 012 Kelurahan Ciganjur, Jagakarsa berangsur-angsur mulai surut dan menyisakan lumpur serta genangan di jalan dan pemukiman warga, Minggu (11/10) pagi.

Camat Jagakarsa Alamsyah menyebutkan warga bersama-sama pasukan oranye kelurahan dan kecamatan mulai berbenah membersihkan sisa lumpur dan air yang masih tergenang.

“Kondisi air sudah surut tapi masih ada yang mengalir ditambah ada lumpur juga yang menutupi,” ujar Alamsyah mengutip Antara.

Banjir dan longsor terjadi Sabtu (10/11) malam saat hujan dengan intensitas lebat mengguyur wilayah Jakarta Selatan.

Menurut Alamsyah, banjir dikarenakan aliran Kali Anak Setu terhambat oleh tembok pembatas kali di perumahan Melati Residen yang roboh hingga arus deras kali membanjiri pemukiman warga.

Aparat kelurahan mencatat kurang lebih 300 rumah warga di RT 04/RW 012 terendam banjir dengan ketinggian mulai dari 70 cm hingga 150 cm.

Lihat juga:

Hujan Deras, Banjir Kepung Sejumlah Titik di Pasar Rebo

“Bukan tanggul yang jebol tetapi tembok Melati Residen yang berada di pinggir kali Anak Setu yang ambruk atau longsor sehingga menutupi aliran Kali Anak Setu,” ujar Alamsyah.

Ia menyebutkan, panjang tembok yang roboh mencapai 50 meter dengan ketinggian 10 meter dari atas kali.

Tidak hanya itu, tembok pembatas kali perumahan tersebut roboh ke arah seberang kali hingga mengenai pemukiman warga yang berada di bantaran. Tercatat ada dua korban luka-luka dan satu orang meninggal dunia pada saat peristiwa banjir dan longsor terjadi.

Data korban meninggal dunia, Widiar Nohara (40), sedangkan dua korban luka-luka belum diketahui namanya, keduanya adalah perempuan berusia 50 tahun dan 48 tahun.

Menurut Alamsyah, tembok pembatas kali di perumahan tersebut berdiri vertikal di tanah yang curam, sehingga tidak kuat menahan beban saat hujan.

“Apalagi itu tanah gundukan,” tutup Alamsyah.

(dmr/mik)

[Gambas:Video ]

Next Post

PDIP Sebut PKL Mengeluh, Desak PSBB DKI Jilid II Tak Dilanjut

Jakarta, Indonesia — Ketua Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mendesak Gubernur DKI Anies Baswedan untuk tidak memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat. Penerapan PSBB ketat dinilai menyusahkan warga Jakarta. “Fraksi PDIP DPRD DKI mendesak gubernur DKI tidak melanjutkan PSBB ketat dan mencari jalan keluar rasional karena menyengsarakan […]