Wajah ‘New Normal’ Taiwan: Taksi Khusus Corona

Farah

Wajah 'New Normal' Taiwan: Taksi Khusus Corona

Jakarta, Indonesia — Taiwan menjadi salah satu negara di Asia selain China yang mengonfirmasi tak ada kasus baru virus corona sejak 14 April lalu. Tanpa memberlakukan lockdown, hingga kini Taiwan tercatat hanya memiliki 440 kasus positif virus corona tanpa ada penambahan kasus baru.

Meski telah terhitung sukses, Taiwan masih menyadari akibat yang ditimbulkan dari pandemi corona. Taiwan menyadari jika kehidupan dan tatanan sosial warganya. Taiwan kini memberlakukan serangkaian kebijakan untuk mengawal kehidupan warga pasca corona menjadi sebuah pola kehidupan normal yang baru (the new normal).

Seorang profesor di Ming Chuan University, Ma-Shih-yuan mengatakan pendekatan yang dilakukan Taiwan dalam melawan corona dengan melibatkan integrasi dan koordinasi. Lembaga pemerintah serta kerja sama masyarakat sipil menjadi kunci keberhasilan negara menghalau corona.

Dilansir dari Taipei Times, Ma memperkirakan pandemi ini akan berlanjut hingga musim semi tahun depan dan akan mencapai puncak lainnya di musim dingin. Dengan kata lain, kendati kini Taiwan terhitung sukses, namun ia tetap meminta masyarakat menjaga diri dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan negara.

Mengutip NBC News, Taiwan memberlakukan serangkaian kebijakan baru sebagai pola kehidupan normal yang baru mulai dari memastikan persediaan perlindungan diri hingga serangkaian aturan lainnya.

Rekam riwayat pergerakan warga lokal dan pendatang

Taiwan menerapkan aturan bagi warga lokal dan pendatang yang baru tiba di bandara untuk memeriksakan suhu tubuh dan menyerahkan ponsel. Nantinya otoritas kesehatan akan merekan rincian riwayat perjalanan pemilik ponsel lewat GPS di ponsel melalui koneksi operator telekomunikasi.

Saat ponsel kehabisan baterai atau jika penumpang menolak untuk diperiksa, maka polisi akan turun tangan dan pihak berwenang akan mengirimkan pesan singkat bernada mengusir karena dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran. Selain itu, pemilik ponsel bersiap dijatuhi denda sebesar US$3,33 hingga US$333,33.

“Silahkan segera pulang. Pelanggaran terkait isolasi atau karantina mandiri akan dikenakan denda wajib karantina,” tulis pesan singkat kepada pemilik ponsel yang menolak menyerahkannya ke pihak berwenang.

Insert Status Pasien Risiko Virus CoronaFoto: Indonesia/Basith Subastian
Insert Status Pasien Risiko Virus Corona

Taksi dan hotel karantina untuk cegah pandemi

Untuk mengurangi potensi penularan, turis atau warga asing yang baru tiba di Taiwan dilarang menggunakan transportasi umum. Pemerintah menyediakan taksi khusus yang harus digunakan untuk melayani tujuan dari bandara ke fasilitas karantina atau rumah sakit.

Taksi khusus ini sepintas terlihat seperti taksi pada umumnya, namun sopir secara rutin mendisinfeksi kendaraan ketika merampungkan perjalanan dan tidak diizinkan mengambil penumpang selain dari bandara.

Pemerintah membayar para sopir taksi sebesar US$116 per hari, bahkan ketika mereka tidak mendapat penumpang untuk diantar ke pusat karantina. Hal ini dilakukan agar para sopir taksi tidak tergoda mengangkut penumpang seperti taksi pada umumnya.

Setelah sebulan mengantarkan penumpang, giliran para sopir taksi beserta kendaraan mereka yang diharuskan melakukan karantina selama dua minggu.

[Gambas:Video ]

Standar keamanan di semua gedung

Pengujung kantor pos, bank, gedung perkantoran, hingga pusat olah raga nantinya diharuskan untuk memeriksakan suhu tubuh, menuliskan nama, nomor telepon, dan fasilitas yang mereka gunakan saat mengunjungi bangunan tersebut. Perekaman kontak dilakukan untuk mempercepat penelusuran ketika terjadi gelombang kedua pandemi.

Hal yang sama juga berlaku bagi orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Para orang tua akan menjalani tes suhu tubuh di gerbang sekolah. Jika terdeteksi demam, mereka akan diminta pulang dan menelepon rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Chan Wen-guang, seorang petugas keamanan mengatakan semua orang sangat kooperatif terkait pemeriksaan kunjungan. Bahkan ia mengaku tak sedikit pengunjung yang inisiatif langsung mendatangi mejanya untuk diperiksa.

Sementara untuk pertokoan dan restoran, pengunjung tidak diizinkan duduk bersebelahan atau berseberangan. Karyawan diharuskan mengenakan masker dan rutin mendisinfeksi fasilitas kerja mereka setelah menutup toko dan restoran.

Lihat juga:

Kasus Corona di Rusia Terus Naik, Kedua Tertinggi Setelah AS

Menjaga jarak aman dan alat kebersihan diri

Pemerintah memastikan warga mendapat pasokan masker dan cairan pencuci tangan (hand sanitizer) yang memadai di semua ruang publik dan rumah pribadi. Minimal ada satu botol disinfektan atau dispenser pencuci tangan.

Pemerintah mengatakan sejauh ini masyarakat menaati pedoman jarak sosial secara sukarela dengan tetap menjaga jarak minimal 1,5 meter saat berada di dalam ruangan dan satu meter ketika di luar ruangan.

Pertemuan yang tidak penting mulai dibatasi dengan maksimal seratus orang di dalam ruangan, sementara di luar ruangan tidak melebihi 150 orang. (ans/evn)

Next Post

Penasihat Trump Prediksi Bulan Depan Puncak Pengangguran AS

Jakarta, Indonesia — Kevin Hassett, Penasihat Utama Presiden AS Donald Trump, memprediksi puncak angka pengangguran akan terjadi pada Juni nanti. Diperkirakan tingkat pengangguran tembus 23 persen sebelum kembali landai. Menurut Hassett, tingkat pengangguran AS pada Mei sebesar 22 persen bukanlah angka terburuknya. “Pada Juni akan lebih tinggi lagi, dan menjadi titik surut,” […]