Strategi Mendamaikan Anak dengan Rasa Bosan Karantina Pandemi

Farah

Strategi Mendamaikan Anak dengan Rasa Bosan Karantina Pandemi

Jakarta, Indonesia — Ana Maria Ina tahu betul sang anak agak risih saat harus pakai masker dan cuci tangan berkali-kali. Namun mau bagaimana lagi? Pandemi virus corona dan aturan PSBB di Banjarmasin, Kalimatan Selatan membuatnya was-was.

Ada kalanya sang anak bertanya-tanya alasan mereka tidak keluar rumah, alasan tidak berkunjung ke makam kakek dan, sederet pertanyaan lain.

Bosan ala anak-anak kadang diluapkan dengan tingkah polah beragam. Padahal Ina dan sang suami sama-sama bekerja dari rumah dan perlu konsentrasi. Ia pernah harus jungkir-balik berpindah lokasi saat memberikan materi pada murid-muridnya.

“Kadang kami merasa bersalah. Pas kerja, biar anak enggak ganggu, ya dia ditemenin HP,” ujar Ina saat dihubungi Indonesia.com, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, psikolog anak Erfiane Cicilia tidak bisa memungkiri orang tua pun punya batas. Tidak bisa orang tua terus ‘on‘ menemani anak. Ponsel pintar alhasil jadi jawaban.  “Cuma enggak (main HP) melulu ya,” kata perempuan yang akrab disapa Fifi ini.

Menurut dia, mengatasi rasa bosan berkaitan dengan usia.

Anak usia bawah lima tahun (balita) misalnya, mereka sangat perlu bermain bersama orang tua. Ini juga perlu disiasati lewat kerjasama dengan pasangan dan mengatur jam kerja. Saat work from home, sebagian orang kurang bisa membedakan jam kerja dan jam istirahat. Pekerjaan tak jarang bisa ‘bablas’ hingga larut.

Infografis Kamus Istilah Penyakit terkait Virus CoronaFoto: Indonesia/Timothy Loen
Infografis Kamus Istilah Penyakit terkait Virus Corona

Lihat juga:

Corona, Kelas Daring, dan Curhat 2 Guru untuk Orang Tua

“Kalau anak sudah agak besar, kita bisa komunikasi dengan dia. Bisa dibuat tiap hari atau seminggu sekali, rencana beberapa hari ke depan,” tutur dia lagi.

Fifi memberikan contoh, orang tua bisa bertanya pada anak tentang kegiatan yang ingin mereka lakukan. Contohnya kegiatan menempel biji-bijian, artinya orang tua menyiapkan alat dan bahan. Selain itu bisa juga melakukan permainan yang memerlukan kebersamaan, bisa dengan ayah juga kakak ataupun adiknya.

Saat anak usia remaja atau lebih besar lagi, biasanya tidak terlalu sulit. Anak bisa diajak memasak atau aktivitas membuat kerajinan tangan.

“Orang tua enggak boleh diem, mesti aktif dan kreatif. Bergerak cari informasi, bisa juga lewat komunitas bersama orang tua lain jadi bisa saling berbagi informasi,” Fifi menyarankan. (els/NMA)

[Gambas:Video ]

Next Post

Peneliti Ungkap Fakta Soal Aliran Lava di Mars

Jakarta, Indonesia — Para ilmuwan mengungkap kalau bentuk seperti aliran lava di Mars ternyata adalah lumpur. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada aliran seperti lava di Mars. Struktur formasi tanah Mars yang disebut mirip dengan struktur yang disebabkan aliran lava, disebabkan oleh lumpur yang mengalir seperti lava. Selama bertahun-tahun, Petr Brož, […]