Review Film: Little Women

Farah

Jakarta, Indonesia — “Saya hanya berpura-pura menjadi orang yang lebih berani dari diri saya yang sesungguhnya. Apakah saya benar-benar bisa? Saya tidak yakin.”

Pikiran itu berputar di kepala Greta Gerwig setelah keluar dari ruang pertemuan Sony Pictures. Kala itu, ia belum punya pengalaman menjadi sutradara, tapi berani menawarkan diri untuk menyutradarai Little Women — karya yang memang punya tempat spesial di hati para penikmat literatur dan rakyat Amerika Serikat.

Namun pada akhirnya, Sony tak salah pilih. Gerwig berhasil meramu kisah klasik dari buku Louisa May Alcott itu menjadi suguhan segar, bahkan menambah makna yang tak terasa dalam tiga adaptasi sebelumnya, kemudian dibumbui dengan romansa dan humor pas.

Little Women sendiri berkisah tentang kakak beradik perempuan dari Keluarga March, yaitu Meg (Emma Stone), Jo (Saoirse Ronan), Amy (Florence Pugh), dan Beth (Eliza Scanien).

[Gambas:Youtube]

Lahir di tengah keluarga miskin saat Perang Dunia I, mereka berjuang mengejar mimpi sembari melawan stigma terhadap perempuan di masa itu.

Di seberang rumah sederhana Keluarga March, berdiri megah kediaman Keluarga Lawrence, di mana Tuan Lawrence (Chris Cooper) yang kaya raya dan cucunya, Laurie (Timothee Chalamet), tinggal bersama. Kedua keluarga ini akhirnya bersahabat dan saling mengisi.

Dari segi cerita, Little Women memang sudah kuat, terbukti dari setidaknya tiga adaptasi layar lebar sebelumnya yang tak pernah gagal. Adaptasi yang pertama pada 1933 bahkan dinobatkan sebagai film terbaik di ajang Oscar.

Bedanya, Gerwig menambah makna konteks dari kisah ini. Jika adaptasi sebelumnya hanya bercerita tentang March bersaudara, Gerwig seolah merangkum kisah Alcott kala menulis Little Women, buku yang sebenarnya terinspirasi dari cerita hidup sang novelis sendiri.

Review Film: Little WomenAdegan film Little Women. (Columbia Pictures)

Secara keseluruhan, cara bertutur Gerwig juga berbeda dengan adaptasi-adaptasi sebelumnya yang kronologis. Little Women karya Gerwig beralur maju mundur, tapi membuat semua makna lebih tersalur.

Misalnya, adegan saat Jo membawa Beth yang sedang sekarat ke pantai. Beth meminta Jo untuk kembali menulis, demi dirinya yang kemungkinan tak akan berumur lebih panjang lagi.

“Lakukan saja seperti yang diajarkan Marmee (panggilan untuk ibunya). Lakukan untuk orang lain,” kata Beth bersandar di pundak Jo.

Adegan langsung mundur ke momen kala sang ibu menjadi sukarelawan di posko bantuan keluarga korban perang. Marmee terharu melihat seorang bapak yang merelakan tiga anaknya ke medan perang.

Hati Marmee hancur karena ia kerap mengeluh ketika suaminya harus ikut perang. Sementara itu, bapak tua ini merelakan semua anggota keluarga yang ia punya demi seisi bangsa.

Setelah itu, Marmee menerima kabar bahwa suaminya sakit di medan perang. Ia harus segera menjenguk, tapi tak punya uang. Jo akhirnya menjual rambutnya agar ibunya bisa berangkat merawat sang ayah.

Tak hanya menyatukan berbagai momen ke dalam satu konteks, Gerwig juga berhasil membuat perpindahan dari satu momen ke selanjutnya sangat mulus. Gerwig mengakui bahwa ia menguras otak agar bingkai satu selalu berkelindan dengan selanjutnya.

Jika ditelaah, ada beberapa adegan patah, seperti saat Jo bertemu dengan Friedrich Bhaer. Mereka terlihat seperti berciuman dua kali karena pengambilan gambar yang patah.

Namun, kekurangan beberapa detik itu terbayar dengan sinematografi apik di sederet momen lainnya, seperti desir pasir pantai yang terekam jelas saat Jo menenangkan Beth kala sekarat.

Penonton juga tak akan pusing membedakan masa lalu dan sekarang karena Gerwig mengatur sedemikian rupa sehingga warna di tiap era ini berbeda. Masa kini lebih terang, sementara yang lampau cenderung gelap kekuningan.

Bicara soal warna, Gerwig juga memperhatikan detail pakaian untuk tiap tokoh. Meg lebih sering mengenakan warna hijau, sementara Jo hitam-ungu gelap, Amy dengan biru, dan Beth pink. Warna ini sangat dipikirkan, sesuai karakter tiap tokoh.

Review Film: Little WomenDesainer kostum Little Women diganjar Oscar karena karyanya di film tersebut. (Dok. Columbia Pictures via IMDB).

Tak hanya itu, kostum dalam film ini juga paling sesuai dengan penggambaran di buku. Contohnya ketika Jo selalu mengenakan jaket tertentu tiap akan menulis.

Acung jempol untuk sang desainer kostum, Jacqueline Durran, yang mampu membentuk citra elegan keluarga March di tengah kemiskinan mereka. Tak heran Durran diganjar piala Oscar 2020 berkat karyanya di film ini.

Soal buku, film ini juga banyak mengambil kutipan murni dari tulisan Alcott yang menggunakan kosa kata lawas. Meski puitis, para aktor berhasil melafalkannya dengan baik sehingga terdengar natural dan sesuai gaya masa kini.

Sebut saja saat Jo menolak lamaran Laurie. Dengan emosi membuncah, Jo berkata, “I’d hate elegant society, and you’d hate my scribbling, and we would be unhappy, and wish we hadn’t done it, and everything will be horrid.”

Review Film: Little WomenAdegan Jo menolak lamaran Laurie. (Dok. Columbia Pictures via imdb.com)

Tak hanya memukau dalam berakting, para aktor juga mampu mewujudkan naskah brilian Gerwig, di mana tiap karakter saling menimpali dengan jeda sempit, tapi tetap mengalun harmonis.

Lebih dari isi buku Little Women, Gerwig menambahkan konteks kehidupan di era peralihan dari Perang Dunia I, kala perempuan juga harus memiliki strategi ekonomi. Penambahan konteks ini membuat impian para gadis Keluarga March menjadi logis.

Ambil contoh ketika Gerwig menyelipkan ocehan Amy saat membalas kritik nyinyir Laurie mengenai perempuan dan pernikahan.

“Saya hanya perempuan, tak mungkin saya punya uang sendiri. Tak cukup untuk menghidupi keluarga, dan walau saya punya uang, yang pada kenyataannya tidak, uang itu juga akan jadi milik suami saya ketika kami menikah,” katanya.

“Jika kami punya anak, mereka akan jadi miliknya, bukan saya. Mereka akan jadi propertinya, jadi jangan duduk di sana dan mengatakan bahwa pernikahan bukan strategi ekonomi karena memang ya. Mungkin tidak untukmu, tapi jelas ya buat saya.”

[Gambas:Video ]

Menuju penghujung, film ini memperlihatkan perjuangan Jo, tokoh yang sebenarnya merefleksikan sosok Alcott. Jo terlihat berbincang dengan editor koran yang mengkritik bukunya karena karakter utamanya tak menikah dengan siapapun pada akhirnya.

Awalnya, Alcott memang ingin membuat Jo tidak menikah. Dalam kehidupan nyata, Alcott pun memang tidak menikah. Namun demi pasar dan uang untuk keluarganya, Alcott sepakat membuat karakter Jo menikah.

Sebagai ganti, Jo berani memperjuangkan harga buku yang lebih tinggi. Ia juga tetap ingin mempertahankan hak cipta atas Little Women.

“Jika saya harus menjual pahlawan perempuan saya ke pernikahan demi uang, saya juga harus mendapatkan uangnya,” katanya. (has)

Next Post

Suzuki Luncurkan XL7, Harga Terjepit Rush dan Terios

Jakarta, Indonesia — Suzuki Indomobil Sales (SIS) secara resmi meluncurkan mobil baru XL7 di Jakarta, Sabtu (15/2). SUV kelas low ini dijual Rp230 juta – Rp267 juta, itu berarti varian termahalnya lebih murah dari Toyota Rush dan Mitsubishi Xpander, namun masih lebih mahal ketimbang Daihatsu Terios. Saat peluncuran, Presiden Direktur […]