Ramadan dan Lebaran di Negara ‘Crazy Rich’ Qatar

Farah

Ramadan dan Lebaran di Negara 'Crazy Rich' Qatar

Doha, Indonesia — Sekitar lima tahun yang lalu keluarga saya memutuskan hijrah ke Qatar. Saat itu saya baru kelas 6 SD.

Kesan ‘negara terkaya di dunia’ sudah terasa sejak menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di Bandara Internasional Hamad, yang merupakan bandara terbaik ke-tiga di dunia.

Keluar dari bandara, embusan angin panas langsung menyapa. Kebetulan keluarga saya pindahan di puncak musim panas, yang suhu gerahnya bisa mencapai 50 derajat Celcius.

Pilihan Redaksi
  • Belajar Makna Lebaran dari Pengungsi di Jerman
  • Memanjangkan Sabar dalam Ramadan Empat Musim di Swedia
  • Puasa 23 Jam di Antara Gunung Api dan Aurora

Pusat kota Qatar, Doha, bak kota modern yang muncul di tengah padang pasir. Negara kaya minyak ini tak hanya dihuni oleh wajah-wajah keturunan Arab, namun juga oleh ratusan ribu ekspatriat seperti dari Amerika, Eropa, India, Pakistan, Filipina, dan juga Indonesia.

Oleh karena itu bahasa bukan masalah di sini, karena sebagian besar orang berbicara bahasa Inggris.

Sekolah internasional

Setahun menghuni Qatar saya belum mengerti betul soal kehidupan sosial di sini. Yang ada hanya perasaan sedih karena harus meninggalkan teman-teman di Indonesia.

Pindah rumah ke luar negeri mungkin ketakutan banyak anak kecil dari keluarganya perantau seperti yang saya alami. Belum lancar bahasa Inggris, tak tahu harus berbincang apa dengan teman baru, dan kekhawatiran lainnya ada dalam kepala saya.

Namun seiring bertambahnya usia saya mulai beradaptasi dengan kehidupan baru saya di Qatar, terutama urusan sekolah.

Saat ini saya sekolah di Doha British School, konsep sekolah internasional yang sebelumnya hanya saya lihat di film dan serial televisi Hollywood.

Nyatanya, jadi anak baru tak melulu di-bully seperti dalam film atau serial televisi, karena teman-teman saya di sini cukup asyik diajak berkawan.

Di sekolah ini saya mengikuti kurikulum Inggris, Edexcel. Secara sederhana kurikulum ini “membebaskan” kami untuk menentukan mata pelajaran yang ingin dipelajari demi bekal di masa depan – meski Matematika, bahasa Inggris, dan Sains masih menjadi mata pelajaran yang wajib.

Kegiatan penulis Surat dari Rantau selama tinggal di Doha, Qatar. (Dok. Alisha Hidayat)Foto: (Dok. Alisha Hidayat)
Kegiatan penulis Surat dari Rantau selama tinggal di Doha, Qatar. (Dok. Alisha Hidayat)

Pemilihan mata pelajaran dimulai di kelas 10. Pemilihan itu dimaksudkan agar murid tertarik dengan bahan pelajarannya.

Dengan kurikulum ini menurut saya cara belajar jadi lebih mudah, apalagi mata pelajaran Matematika.

Yang bagi saya sulit justru pelajaran sejarah, karena saya sama sekali buta soal sejarah negara Inggris Raya.

Saya sekolah dari jam 07.30 sampai 13.30 setiap harinya. Usai sekolah kami mengikuti ekstrakulikuler. Yang paling ajaib di sini adalah adanya ekskul ekspedisi ke gurun pasir!

Sayangnya sekolah saya tidak punya pensi atau konser musik di ruang terbuka yang umum digelar sekolahan di Indonesia. Nampaknya pemerintah Qatar amat berhati-hati dalam mengeluarkan izin keramaian.

Sebagai gantinya ada festival yang digelar setiap musim dingin, semi, dan panas, serta international day. Dalam festival ini semua anak sekolah boleh unjuk bakat di atas panggung dengan penonton para wali murid.

Walau tak ada pensi, urusan jalan-jalan di mal, nongkrong di taman, berkemah di gurun pasir, sampai dan pesta ulang tahun masih ada dalam agenda tahunan para ABG di Qatar.

Kegiatan penulis Surat dari Rantau selama tinggal di Doha, Qatar. (Dok. Alisha Hidayat)Penulis (kedua dari kiri foto) bersama teman-teman saat berkemah di gurun. (Dok. Alisha Hidayat)

‘Crazy Rich Qatari’

Banyak teman-teman saya di Indonesia yang bertanya soal ‘Crazy Rich’ di Qatar, mengingat negara ini merupakan salah satu dari tujuh negara kaya di Jazirah Arab.

Perlu diketahui kalau tidak semua orang di Qatar itu ‘Crazy Rich’, karena cuma penduduk asli Qatar – atau Qatari, yang demikian. Konon katanya, sejak lahir mereka sudah mendapat insentif dari pemerintah serta dihadiahi mobil oleh keluarganya.

Definisi ‘Crazy Rich Qatari’ juga melanda teman-teman sekolah saya. Di sini anak-anak Qatari sudah pasti mengikuti tren terbaru, seperti iPhone 11 atau sneakers kolaborasi desainer terkenal.

Penduduk Qatar yang biasa saja seperti saya juga lebih sering menggelengkan kepala saat melihat mobil atau motor mewah melintas di jalanan setiap harinya.

Negara kaya dengan biaya hidup yang mahal, begitu menurut saya soal Qatar. Meski serba modern dan nyaman, biaya hidup di sini dua kali lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia.

Lebaran di tengah pandemi corona

Tahun ini saya dan keluarga berlebaran di tengah pandemi virus corona.

Pembatasan perjalanan masih berlaku di Qatar, setelah sekitar 32 ribu jiwa dari 2,8 juta populasi di sini terinfeksi virus corona, jumlah yang tertinggi kedua di Timur Tengah.

Pembatasan perjalanan di Qatar berarti keluar rumah mengenakan masker dan sarung tangan serta kapasitas mobil tidak boleh lebih dari dua orang.

Para migran boleh pulang ke negaranya, namun belum tentu bisa kembali ke Qatar dalam waktu dekat karena bandara ditutup. Yang bisa datang kembali ke Qatar hanya penduduk asli.

Jika melanggar bisa terkena denda beribu-ribu Qatari Riyal.

Kegiatan penulis Surat dari Rantau selama tinggal di Doha, Qatar.Penulis (pertama dari kiri foto) bersama keluarga dan Duta Besar Indonesia untuk Qatar, Basri M. Sidehabidi (keempat dari kiri foto) (Dok. Alisha Hidayat)

Meski demikian negara ini menanganinya dengan baik. Tidak ada kepanikan belanja di sini dan semua berada di rumah dengan tenang.

Ada atau tidaknya pandemi virus corona menurut saya tidak menjadikan nuansa Ramadan atau Lebaran di Qatar berbeda dengan Indonesia.

Menurut saya Ramadan dan Lebaran di Qatar jauh lebih “garing” ketimbang di Indonesia, karena tak ada gema takbir usai Salat Id atau saling mengunjungi tetangga.

Tahun ini tentu saja kami tak bisa mudik ke Indonesia. Acara anjangsana di KBRI Doha juga pasti ditiadakan. Begitu juga dengan atraksi kembang api di kawasan pelabuhan Corniche.

Saya harap pandemi virus corona bisa segera berakhir usai Idulfitri, sehingga kehidupan di Qatar bisa kembali berlangsung dengan normal.

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di Indonesia.com. Rubrik ini berupa “curahan hati” dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@indonesia.com

(ard)

[Gambas:Video ]

Next Post

FOTO: Arti Nomor Balap 11 Bintang MotoGP