Raja Belgia Minta Maaf Atas Kekejaman saat Penjajahan Kongo

Farah

King Philippe of Belgium speaks during the opening session of the 72nd High-level Meeting on Peacebuilding and Sustaining Peace at United Nations Headquarters in New York, on April 24, 2018. (Photo by HECTOR RETAMAL / AFP)

Jakarta, Indonesia —

Raja Belgia, Philippe, menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan kepada Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, atas kekejaman yang dilakukan pendahulunya selama masa penjajahan.

Seperti dilansir Associated Press, Rabut (1/7), pernyataan Philippe kepada Tshisekedi disampaikan melalui sepucuk surat. Di dalamnya tercantum permintaan maaf secara formal oleh Philippe, sekaligus rasa menyesal atas kekerasan dan kekejaman yang mengakibatkan penderitaan dan mempermalukan bangsa Kongo saat dijajah Kerajaan Belgia.

“Pada saat Kongo menjadi negara yang merdeka, sikap kekerasan dan kekejaman yang terjadi di masa lampau masih membebani ingatan kami,” tulis Philippe.

“Masa penjajahan juga menyebabkan penderitaan dan rasa malu. Saya ingin menyampaikan penyesalan yang paling dalam atas masa lalu yang penuh luka tersebut, dan rasa sakit yang kembali ditimbulkan oleh diskriminasi yang terjadi di tengah kita saat ini,” lanjut Philippe.

Philippe menyampaikan permohonan maaf tidak bisa hadir di peringatan kemerdekaan Kongo karena pandemi virus corona.

Secara terpisah, Perdana Menteri Belgia, Sophie Wilmes, mendesak negara itu menggelar debat terbuka nasional secara mendalam untuk membahas persoalan kekejaman kerajaan saat menjajah Kongo.

“Pada 2020, kita harus bisa melihat kembali masa lalu secara jernih dan tegas. Pekerjaan kebenaran dan ingatan dimulai dengan pengakuan akan penderitaan. Mengakui penderitaan yang lain,” ujar Wilmes.

Lihat juga:

Demo Dukung Floyd, Massa Robohkan Patung Pedagang Budak

Kongo dijajah Belgia pada masa kepemimpinan Raja Leopold II pada 1885 sampai 1908. Saat itu, Leopold II dikenal kejam dan tidak segan menghabisi para penduduk yang menentang peraturan.

Selain itu, penduduk Kongo sangat menderita akibat kerja paksa dan bentuk kekejaman lain di masa penjajahan oleh Leopold II. Menurut perhitungan ahli, sekitar 10 juta penduduk Kongo meninggal saat masa kolonial.

Setelah masa penjajahan Leopold II di Kongo berakhir pada 1908, dia menyerahkan wilayah itu kepada pemerintah Belgia yang memerintah hingga 75 tahun kemudian sampai Kongo merdeka pada 1960.

[Gambas:Video ]

Dalam gelombang aksi antirasialisme, sejumlah demonstran di Belgia merusak patung Leopold II. Tidak lama setelah surat Philippe dipublikasikan, pemerintah kota Ghent memutuskan memindahkan patung itu ke gudang museum.

Demonstrasi itu dipicu aksi di Amerika Serikat akibat kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd, yang mengalami kekerasan polisi ketika ditangkap karena dilaporkan membeli rokok dengan uang palsu.

(Associated Press/ayp)

Next Post

Omnibus Law Kelautan Dibahas 2021, Bakamla Pimpin Awasi Laut

Jakarta, Indonesia — Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya TNI Aan Kurnia mengatakan RUU¬†Omnibus Law Kelautan diprioritaskan masuk Program Legislasi Nasional 2021. Dengan begitu, Bakamla akan lebih cepat menjadi koordinator pengawasan laut Indonesia. Sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD pernah mengatakan bahwa RUU Omnibus Law akan membuat Bakamla menjadi koordinator […]