Protokol Syuting, Harapan Sineas Indonesia untuk ‘New Normal’

Farah

Protokol Syuting, Harapan Sineas Indonesia untuk 'New Normal'

Jakarta, Indonesia — Para sineas dan pelaku film Indonesia mulai bergerak untuk menyelamatkan keberlangsungan industri setelah terimbas pandemi Covid-19 selama tiga bulan terakhir. Sebuah protokol tengah dibuat agar industri tetap berjalan meski pandemi menghadang.

Industri film lokal menjadi salah satu pihak yang terimbas cukup besar dari pandemi dan kebijakan jaga jarak. Puluhan film batal tayang, produksi terhambat, dan tak terhitung pekerja film yang menggantungkan hidup dari industri ini jadi tak jelas nasibnya.

Sutradara Hanung Bramantyo menyebut, beberapa waktu terakhir, para sineas yang juga perwakilan dari berbagai asosiasi telah melakukan diskusi terkait protokol kesehatan dan keamanan selama syuting, demi nafas industri film tak berhenti semakin lama.

“Kami orang film yang dipayungi Badan Perfilman Indonesia sedang merancang protokol syuting di tengah pandemi dan meminta pemerintah segera memberlakukannya,” kata Hanung kala dihubungi Indonesia.com, Selasa (19/5).

“Karena ini sebagai upaya agar pekerja film tetap mandiri dan bisa bertahan di tengah pandemi,” lanjutnya.

Hanung Bramantyo, sutradara Bumi Manusia saat mengenalkan set studio untuk syuting film yang diadaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer itu. ( Indonesia/Agniya Khoiri)Sutradara Hanung Bramantyo menyebut, beberapa waktu terakhir, para sineas yang juga perwakilan dari berbagai asosiasi telah melakukan diskusi terkait protokol kesehatan dan keamanan selama syuting. ( Indonesia/Agniya Khoiri)

Hanung memaparkan secara singkat, poin-poin protokol kesehatan yang diusulkan ini mengikuti standar gugus tugas dari Satgas COVID-19.

Beberapa di antaranya adalah pemakaian masker, pembatasan jumlah kru dan pemeriksaan suhu, tata cara jam kerja, hingga perlakuan khusus untuk pekerja di atas 45 tahun sebagai kelompok rentan.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Edwin Nazir. Edwin yang dihubungi secraa terpisah menilai, salah satu usulan menarik dari sineas adalah pembuatan divisi khusus dalam tim produksi yang memastikan protokol itu dipatuhi. Hingga urusan jenis makanan.

Bukan hanya itu, Edwin menyebut jaminan kesehatan untuk seluruh kru juga jadi hal yang patut dipersiapkan dalam sebuah produksi film.

“Ada asuransi untuk seluruh tim produksi, jadi mereka kru pun bisa tenang kalau ada apa-apa, ada yang menanggung. Sama mungkin untuk tes bisa dari pemerintah yang menyediakan, sebelum syuting,” kata Edwin.

Edwin menyebut usulan ini dibuat berdasarkan protokol sejumlah negara yang telah berjalan sebelumnya dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Mengintip Proses dan Lokasi Syuting Serial Invisible StoriesSatu produksi film biasanya melibatkan ratusan kru, mulai dari urusan lampu dan kabel hingga naskah dan edit video. ( Indonesia/Agniya Khoiri)

Ia mencontohkan Inggris. Menurut Edwin, Inggris mengusulkan produksi film dengan sistem karantina satu tempat. Namun Edwin menyebut Indonesia belum memiliki studio besar dengan semua set lengkap di dalamnya.

“Cenderung pindah-pindah,” kata Edwin menyebut kondisi syuting di Indonesia. Sedangkan di Jerman, katanya, hanya bisa tiga pemain dalam satu screen. “Namun ini perlu disesuaikan dengan situasi dan produksi filmnya seperti apa,” katanya.

Para sineas juga menginginkan penerapan protokol ini dilakukan secara bertahap, sehingga bisa dievaluasi dan diperbaharui mengikuti perkembangan pandemi.

“Kalau kondisi membaik, ya disesuaikan kembali,” kata Edwin.

Dilematis

Edwin mengakui langkah protokol yang bisa dianggap sebagai cara ‘new normal’ ini merupakan hal yang mesti dilakukan demi industri film Indonesia kembali bergerak, meskipun diakui sebagai hal yang dilematis.

“Di satu sisi kami enggak ingin, gara-gara syuting, tak ada jaminan kesehatan bagi mereka yang terlibat. Tapi di sisi lain, sebagian besar kru film memang pekerja harian, jadi kalau tidak ada produksi susah juga,” kata Edwin.

“Memang dicoba cari pola terbaiknya. Jadi ini masih mencoba. Idealnya memang kondisinya baik-baik.”

Set lokasi serial HBO, 'Grisse' di Batam, 14 Mei 2018. ( Indonesia/Endro Priherdityo)Menurut Edwin, Inggris mengusulkan produksi film dengan sistem karantina satu tempat. ( Indonesia/Endro Priherdityo)

Hingga Mei 2020, Edwin menyebut ada 17 judul film Indonesia yang produksinya tertunda karena pandemi. Satu produksi film biasanya melibatkan ratusan kru, mulai dari urusan lampu dan kabel hingga naskah dan edit video.

Sementara itu, Hanung sendiri mengakui setidaknya ada empat judul film, yang melibatkan dia baik sebagai sutradara atau produser, terdampak corona.

“Tersanjung the Movie sudah gala premiere, ditunda tayang sampai waktu yang belum jelas. Surga Yang Tak Dirindukan 3, kurang syuting lima hari lalu berhenti,” curhat Hanung.

Pilihan Redaksi
  • Konser Virtual Indonesia dan Korea, ‘New Normal’ kala Corona
  • Sinopsis Snowpiercer, Serial Adaptasi dari Film Bong Joon-ho
  • Strange New Worlds, Serial Lepasan Baru dari Star Trek
  • Corona, Penyelenggara Pertimbangkan Tunda Oscar 2021
  • Museum Oscar Menang Lelang Gaun dari Film Midsommar

“Film Ibu, produksi kerja sama Dapur Film dan BUMN juga berhenti kurang syuting 7 hari. Lalu Gatotkaca, mestinya mulai syuting April ini, juga batal karena PSBB,”

Atas kondisi ruwet itu, baik Edwin maupun Hanung sepakat protokol ini dibuat serta merta untuk membantu dapur para pekerja film tetap mengebul di tengah pagebluk.

“Alasan ini muncul karena kami memikirkan setiap produksi itu ada sekitar 100 orang, baik pemain maupun kru. Dan itu tidak semuanya memiliki gaji yang sama besar,” kata Hanung.

“Ada yang hidupnya pas-pasan dan perlu kegiatan rutin sebulan sekali. Kalau berhenti seperti ini, mereka tak dapat pemasukan apa-apa,”

“Ini semacam jawaban atas keresahan karena tak ada jawaban pasti dari pemerintah. Kami tak mau menunggu sampai Desember karena kasihan teman-teman yang tidak bisa dapat ekonomi,” lanjut Hanung.

“Apakah harus hidup dari bantuan terus menerus? Kita sebagai pekerja2 mandiri tidak mau membebankan kehidupan kita pada bantuan orang lain,” tambahnya.

Senada dengan Hanung, Edwin mengatakan, “Sekarang fokus di pekerjanya, kalau pekerjanya nanti tidak ada lagi di film, kalau kondisi sudah normal lalu siapa yang bikin film?”

“Perlu perhatian kepada pekerja filmnya dan sekarang yang terdampak besar juga itu bioskop sehingga perlu solusi bagaimana bioskop bertahan dalam kondisi ini,” kata Edwin. (end)

[Gambas:Video ]

Next Post

China Pasrahkan Laju Ekonomi, Ketidakpastian Corona Meningkat

Jakarta, Indonesia — Pemerintah China tidak akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini di tengah ketidakpastian besar akibat pandemi virus corona. Negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia ini mencatat penurunan PDB pada kuartal I atau kontraksi pertamanya sejak 1976 silam. Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan ada faktor-faktor yang sulit […]