Plasma Darah Penyintas Virus Corona Bisa Dijadikan Obat

Farah

Jakarta, Indonesia — Para ahli masih terus berupaya menemukan pengobatan terbaik untuk mengatasi virus corona atau Covid-19. Teranyar, para ahli di China National Biotec Group dilaporkan menggunakan plasma darah penyintas untuk mengatasi pasien yang berada dalam kondisi kritis.

Para ahli mengklaim bahwa transfusi plasma darah membuat pasien yang tengah berada dalam kondisi ‘darurat’ membaik dalam waktu 24 jam. Perbaikan dilihat dari berkurangnya kadar virus dan tingkat peradangan, yang diikuti pula oleh peningkatan kadar oksigen dalam darah.

“Pasien yang telah pulih dari Covid-19 akan menghasilkan antibodi yang dapat membunuh dan menghilangkan virus,” tulis China National Biotec Group, mengutip Fortune. Dengan tidak adanya vaksin dan obat khusus, lanjut mereka, penggunaan plasma darah adalah cara paling efektif untuk mengobati infeksi dan dapat mengurangi jumlah kematian.

China National Biotech juga meminta orang yang telah pulih dari penyakit untuk menyumbangkan plasma darah mereka.

Mengomentari hal tersebut, para ahli setuju bahwa cara tersebut bisa jadi pendekatan yang menjanjikan untuk pasien virus corona yang kritis. Namun, mereka mengimbau para dokter dan tenaga medis untuk tetap waspada akan kemungkinan efek samping.

Mengutip Live Science, antibodi merupakan protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus, bakteri, dan senyawa asing lainnya dalam tubuh. Namun, tubuh memerlukan waktu untuk meningkatkan produksi antibodi.

Orang yang telah pulih dari Covid-19 memiliki antibodi terhadap virus yang beredar di dalam darah. Menyuntikkan antibodi (yang terdapat dalam plasma darah) ke pasien yang berada dalam kondisi kritis disebut mampu melawan infeksi.

Lihat juga:

Menimbang Prioritas Utama Pencegahan Virus Corona

Dengan kata lain, perawatan ini mentransfer kekebalan tubuh penyintas ke pasien yang masih sakit. Pendekatan sejenis ini sebelumnya telah digunakan untuk melawan pandemi flu.

“Saya senang bahwa pendekatan menggunakan plasma darah penyintas sedang diuji,” ujar ahli mikrobiologi New York University, Carol Shoshkes Reiss. Namun, tenaga medis perlu memikirkan pengendalian kemungkinan efek samping dari penggunaan plasma darah untuk menangkal virus corona tersebut.

Di bawah pedoman Food and Drug Administration (FDA), obat-obatan eksperimental dapat diberikan dalam situasi darurat. Meski FDA tak berperan dalam persetujuan obat di China, prinsip yang sama juga diberlakukan di Negeri Tirai Bambu. Plasma darah hanya diberikan pada pasien yang tengah kritis.

Transfusi plasma darah hanya satu dari banyak pilihan pengobatan yang dipertimbangkan para ahli untuk mengatasi virus yang telah menginfeksi lebih dari 63 ribu orang dan mencatat lebih dari 1.300 kematian.

Otoritas Kesehatan China juga telah mendaftarkan plasma darah sebagai salah satu langkah perawatan pasien virus corona yang berada dalam kondisi kritis dalam pedoman pengobatan terbarunya.

[Gambas:Video ]

(asr/asr)

Next Post

Tim LeBron Menang di NBA All Star 2020

Jakarta, Indonesia — Tim LeBron berhasil mengalahkan tim Giannis 157-155 pada ajang NBA All Star 2020 di United Center, Chicago, Minggu (16/2) malam waktu setempat atau Senin (17/2) pagi WIB. Pertarungan dua tim yang bertabur bintang ini berjalan sengit sejak kuarter pertama. Tim LeBron James yang diperkuat Kawhi Leonard, Luka Doncic, Anthony Davis, […]