Pentas Tanda Cinta Teater Koma Tayang Streaming Akhir Pekan

Farah

Tanda Cinta Teater Koma dok: Bakti Budaya Djarum Foundation

Jakarta, Indonesia —

Pementasan Tanda Cinta produksi Teater Koma akan ditayangkan streaming pada akhir pekan ini, Sabtu dan Minggu pukul 15.00 WIB.

Tayangan ini merupakan hasil rekaman pementasan yang diselenggarakan pada 27-29 Juli 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Kala itu, lakon ini digelar untuk menyambut hari jadi pernikahan Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno yang ke-27.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menyatakan bahwa pemutaran pentas ini merupakan suguhan tentang kesetiaan suami dan istri.

“Lakon yang ditulis oleh N. Riantiarno ini menjadi hadiah pernikahan yang tidak biasa. Kesetiaan suami dan istri dalam lakon ini juga dapat menjadi panduan bagi kita untuk senantiasa sabar dalam mendampingi keluarga dan orang-orang terkasih, mudah memaafkan dan berusaha memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Renita.

Pilihan Redaksi
  • Teater Koma Pentaskan Lagi Lakon ‘J.J Sampah-sampah Kota’
  • Teater Koma Minta Mendikbud Wajibkan Pelajar Nonton Teater
  • Teater Koma Tunda Pentas Sampek Engtay karena Virus Corona

Ia kemudian berkata, “Kehangatan di dalam rumah harus selalu terjaga terutama dengan kondisi #dirumahaja seperti akhir-akhir ini.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Indonesia.com pada Jumat (26/6), lakon ini diperankan langsung oleh Nano dan Ratna Riantiarno.

Mereka berperan sebagai pasangan suami istri yang telah lama menjalani kehidupan rumah tangga dan kini memasuki usia senja.

Timbul pertanyaan dari suami, “Masih adakah cinta di antara kita?”

Suami hanya ingin mendengar jawaban masih ada atau tidak ada, tapi pertanyaan tersebut selalu mendapat jawaban panjang lebar dari istri. Pada akhirnya, malah timbul pertanyaan baru.

Bagi istri, mencintai tak harus selalu dengan kata-kata, tapi lebih nyata jika berupa tindakan. Sementara itu, bagi suami, meski tindakan penting, kata-kata juga penting.

Merasa penasaran, suami pun mencetak dan menyebarkan pamflet cinta yang berisi sebuah pertanyaan, “Masih adakah cinta di antara kita?” disertai hanya dua pilihan jawaban, masih ada dan tidak ada.

Pamflet cinta itu kemudian disebar ke ruang publik dengan harapan masyarakat sudi menjawab. Namun, tak satu pun pamflet kembali dan tidak ada jawaban yang datang.

Suami lantas bertanya kepada langit. Namun, langit malam hanya digantungi bintang, yang meskipun bercahaya gemerlapan tapi diam membisu.

Tanda Cinta Teater Koma dok: Bakti Budaya Djarum FoundationLakon Tanda Cinta. (Bakti Budaya Djarum Foundatio)

Ketika usia semakin lanjut, suami menyadari jawaban tidak perlu dicari terlalu jauh. Istri yang setia mendampingi merupakan sumber berbagai jawaban.

“Pertanyaan ‘Masih adakah cinta di antara kita?’ bisa menjadi pertanyaan yang bersifat personal, tapi bisa juga merupakan pertanyaan laten kita. Pertanyaan itu tak hanya berlaku untuk rumah tangga tapi juga bermasyarakat. Ketika masyarakat saling mencintai, maka tidak akan ada perkelahian, perseteruan, isu sara, korupsi, dan sebagainya,” kata Nano tentang cerita lakon Tanda Cinta.

Melanjutkan pernyataannya, ia berkata, “Inilah yang menjadi tugas bersama bagi kita bagaimana untuk terus menumbuhkan cinta kepada sesama manusia.”

Selain rekaman lakon itu, penikmat seni juga dapat menyaksikan pementasan kelompok seni lain yang menampilkan karyanya secara virtual.

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), misalnya, akan mempersembahkan Jagongan Wagen (JW) edisi keempat tahun ini yang menampilkan Porta Art Project dengan karya terbarunya berjudul Kutu/Kota pada Sabtu (27/6) pukul 19.30 WIB.

Melalui karya ini, kelompok seni peraih Hibah Seni PSBK asal Yogyakarta ini mempertanyakan keberadaan ‘diam’ atau ‘hening’ sebagai ruang refleksi warga kota di tengah kondisi yang serba cepat dan pesat.

Selain itu, Wayang Orang (WO) Swargaloka akan mempersembahkan pertunjukan berjudul Jejak Asa Sang Dewi (JASD) 4, sebuah karya bersambung yang digelar dua tahunan untuk menggambarkan perjalan Dewi Sulastri dalam berkesenian, pada Minggu (28/6) pukul 20.00 WIB.

Seluruh pertunjukan tersebut dapat disaksikan secara streaming pada akhir pekan ini.

(agn/has)

Next Post

Bendera PDIP dan Tudingan Inisiator RUU HIP dari Demokrat

Jakarta, Indonesia — Aksi pembakaran bendera PDIP yang terjadi saat unjuk rasa tolak RUU Haluan Ideologi Negara (HIP), Rabu (24/6) akhirnya berujung pada proses hukum. DPD PDIP DKI Jakarta telah resmi melaporkan aksi pembakaran bendera itu ke Polda Metro Jaya pada Jumat (26/6). Pengacara pihak PDIP, Ronny Talapessy mengatakan laporan itu […]