TransJakarta Buka Empat Rute Non Koridor Untuk Atasi Penumpukan Penumpang

Irene

TransJakarta Buka Empat Rute Non Koridor Untuk Atasi Penumpukan Penumpang

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di Jakarta diperpanjang kembali. Terhitung sejak 14 Agustus hingga 27 Agustus 2020. Meskipun PSBB diperpanjang, jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta tidak mengalami penurunan. Bahkan cenderung terus mengalami peningkatan.

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT TransJakarta, Nadia Diposanjoyo mengatakan, sejak bulan Juni lalu, pengguna TransJakarta selama masa PSBB transisi meningkat hingga 22 persen. Oleh karena itu, PT TransJakarta kembali membuka empat rute non koridor (Non BRT) dengan headway atau waktu interval kedatangan bus selama 20 menit. Waktu operasional diatur pada pukul 05.00 hingga 22.00 WIB.

“PT TransJakarta akan membuka empat rute non BRT dengan headway selama 20 menit, namun kami menambah empat rute ini secara bertahap,” ujar Nadia dalam keterangannya, Sabtu malam (15/8).

Keempat rute yang akan dibuka yakni, rute 7A jurusan Kampung Rambutan – Lebak Bulus yang mulai beroperasi 13 Agustus dengan jam operasional pukul 05.00 – 22.00. Kemudian rute 9D jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang mulai beroperasi 14 Agustus dengan jam operasional 05.00 – 22.00.

Selanjutnya, rute D21 jurusan Universitas Indonesia (UI) – Lebak Bulus mulai beroperasi 19 Agustus dengan jam operasional pukul 05.00 – 22.00. Terakhir rute 9E jurusan Kebayoran Lama – Grogol mulai beroperasi 25 Agustus dengan jam operasional pukul 05.00 – 22.00.

Untuk keempat rute tersebut, PT TransJakarta telah menyiapkan 100 armada bus yang sudah disterilisasi dan siap digunakan. Jumlah tersebut bertambah 25 persen dari jumlah yang dioperasikan sebelum pandemi Covid-19.

Nadia mengatakan, bahwa jumlah penambahan armada tersebut masih akan dievaluasi. Apalagi jika terus mengalami peningkatan jumlah penumpang. Begitu pula dengan waktu kedatangan bus. Ia berharap, PT TransJakarta tetap bisa menerapkan protokol kesehatan yaitu social distancing. Sehingga bila waktu kedatangan dirasa kurang cepat dan menimbulkan antrean yang berkerumun, maka waktu kedatangan akan dievaluasi kembali.

“Jumlah ini akan dievaluasi secara bertahap terutama bila terjadi lonjakan pelanggan. Demikian pula dengan percepatan headway yang akan dievaluasi secara bertahap untuk memastikan penerapan protokol kesehatan selama beroperasi,” tutup Nadia. [did]

Next Post

Tujuh Dekade Film Zombi: Bermula di Haiti, Mengusik Nyali

Jakarta, Indonesia — Suatu daerah seketika dilanda pandemi penyakit menular yang sangat misterius, entah dari mana datangnya. Penyakit itu sangat berbahaya, bahkan bisa mengubah manusia menjadi makhluk yang mengerikan. Makhluk itu dijuluki zombi. Kisah di atas terbilang akrab bagi penggemar film horor zombi. Bagaimana tidak, selama tujuh dekade mayoritas film […]