Mengkaji Kembali Obat Covid-19 dari Unair

Irene

Mengkaji Kembali Obat Covid-19 dari Unair

Beberapa waktu lalu ramai berita seputar munculnya obat Covid-19 yang merupakan hasil dari kombinasi obat-obat tunggal dan dibuat atas dasar kerjasama dari pihak Universitas Airlangga, Badan Intelejen Negara, Polri, dan TNI AD. Obat Covid-19 ini disebut sudah berhasil menyelesaian uji klinis tahap tiga dan masih menunggu izin edar dari BPOM.

Menanggapi hal itu, Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS), Prof. Dr. dr Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, menyatakan bahwa dari segi kedokteran, sangatlah penting untuk menganut Evidence Based Medicine (EBM). Arti dari EBM sendiri adalah segala hal yang berbau kedokteran seperti pengobatan haruslah terbukti secara ilmiah dengan penelitian-penelitian yang memiliki desain baik, jumlah kasus banyak sekali, dan recent atau terkini.

Salah satu obat tunggal yang digunakan dalam kombinasi obat tersebut adalah Chloroquine. Menurut Zubairi, Chloroquine merupakan obat yang memang pada awalnya digunakan di semua negara untuk mengobati pasien Covid-19 sehingga jumlah penggunanya bisa mencapai lebih dari 100.000 orang. Akan tetapi pada awalnya obat itu digunakan tidak berdasarkan penelitian. Hingga akhirnya penggunaan yang banyak mendorong munculnya penelitian terkait Chloroquine dan Covid-19.

“Penelitian-penelitian yang terkait dengan Chloroquine itu ternyata membuktikan tidak lagi bermanfaat untuk menekan kematian, malah ada kemungkinan berbahaya sehingga WHO menghentikan penelitian-penelitian yang tekait dengan Chloroquine yang untuk mengurangi angka kematian. Artinya tidak lagi disarankan untuk memakai rutin. Tapi kalau dalam kerangka penelitian boleh,” ujar Zubairi saat diwawancarai pada Selasa (18/8).

Zubairi juga menambahkan bahwa penelitian dari Oxford di Inggris membuktikan bahwa penggunaan Chloroquine lebih banyak memberikan bahaya. CDC Amerika yang awalnya memiliki guidelines untuk dosis penggunaan Chloroquine juga kemudian menarik kembali guidelines itu dan menghapusnya. Hal ini dilakukan karena menurut lembaga-lembaga tersebut, Chloroquine tidak bermanfaat.

Meski demikian, Zubairi juga mengatakan bahwa akan sangat bagus jika ternyata pihak UNAIR dapat membuktikan efektivitas obat Covid-19 yang dibuatnya dengan bukti-bukti seperti penelitian yang diterbitkan di jurnal kesehatan internasional yang sudah terakreditasi seperti Lancet, New England Journal of Medicine, dan jurnal atau majalah lain yang memiliki impact factor yang tinggi. Zubairi tidak menutup kemungkinan bahwa obat yang dihasilkan pihak UNAIR bisa memberikan hasil yang berbeda dari penelitian yang ada karena pihak UNAIR mengombinasikan obat-obat lain.

“Di kedokteran sekarang ini, penelitian-penelitian itu baru kita anggap bisa diikuti kalau sudah dipublikasikan di majalah ilmiah terakreditasi. Apalagi hasil penelitian ini berbeda sekali dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya, baik di Amerika maupun di Inggris. Karena untuk bisa masuk ke publikasi itu (jurnal ilmiah terakreditasi) amat sangat ketat. Mereka memiliki peer review, mempunyai tim ahli yang akan mereview desain penelitiannya bagaimana, bagus atau tidak. Jumlah sampelnya bagaimana, terus data-data yang ada bagaimana. Sehingga artinya akan dipercaya dunia internasional kalau bisa masuk ke jurnal yang terakreditasi.”

Menurut Zubairi, hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan oleh pembuatan penelitian seputar obat untuk Covid-19 adalah dengan mengujinya pada pasien Covid-19 yang kritis atau tingkat kematiannya tinggi. Berdasarkan data dari Worldometer, jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 dengan keadaan serius atau kritis adalah sebesar 1% dari total kasus positif Covid-19. Zubairi juga mengatakan bahwa pasien yang positif Covid-19 dengan kondisi ringan dapat sembuh sendiri dan nyawanya tidak terlalu terancam. Oleh karena itu, menurutnya akan sulit menentukan apakah obat Covid-19 tersebut efektif atau tidak jika penelitian dilakukan pada pasien Cvoid-19 yang ringan karena kebanyakan pasien ringan dapat sembuh sendiri tanpa obat.

“Sebagian mengkritisi (penemuan obat Covid-19) mungkin karena untuk diketahui sebagian besar pasien Covid itu ringan. Di atas 90%. Artinya sembuh sendiri tanpa obat apa pun. Jadi bagaimana membuktikan bahwa obat-obat tertentu bermanfaat adalah antara lain kalau bisa dibuktikan untuk pasien-pasien yang gawat. Jadi kalau misalnya ada penelitian yang di Surabaya itu untuk pasien yang dirawat di ICU atau pasien yang mendapat ventilator, nah itu akan banyak menarik perhatian para ahli untuk kemudian mengikutinya.”

Zubairi sendiri mengaku belum melihat secara detail terkait data-data dari penelitian yang dihasilkan oleh pihak UNAIR. Zubairi mengatakan bahwa dalam melakukan penelitian, tidak perlu melaporkannya kepada IDI. Pihak-pihak terkait hanya perlu memperhatikan ethical clearance sendiri-sendiri.

Zubairi juga mengatakan sangatlah penting untuk pihak-pihak yang membuat obat untuk Covid-19 membuktikan data/hasil temuannya efektif dengan cara mempublikasikannya ke jurnal-jurnal atau majalah-majalah ilmiah internasional yang terakreditasi. Tak kalah penting juga untuk melihat efektivitas obat yang dibuat kepada pasien Covid-19 yang kritis agar diketahui seberapa besar obat tersebut mampu menekan kematian dari pasien yang kritis. Penting juga untuk menentukan kriteria-kriteria yang digunakan dalam menilai apakah pasien tersebut terbilang ringan atau kritis.

Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer [ded]

Next Post

Polisi Periksa Pihak Imigrasi Terkait Kasus Hilangnya Red Notice Djoko Tjandra

Polisi menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak Direktorat Jendral Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) terkait kasus hilangnya status red notice Djoko Tjandra di Interpol. “Pihak Dirjen Imigrasi Kemenkumham pada pukul 10.00 WIB di Subdit 5, diperiksa sebagai saksi terkait pencabutan red notice saudara Djoko Soegiarto Tjandra,” tutur Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen […]