Megah Putra Perkasa, Sang Pilot yang Berani Berubah Demi Bertahan di Tengah Pandemi

Irene

Megah Putra Perkasa, Sang Pilot yang Berani Berubah Demi Bertahan di Tengah Pandemi

Sudah beberapa bulan terakhir seragam pilot kebanggaan Megah Putra Perkasa tersimpan rapi di dalam lemari. Seragam itu harus istirahat sejenak. Seragam yang selama 13 tahun menemaninya terbang mengarungi angkasa.

Turbulensi kuat dirasakan Megah Putra Perkasa. Pandemi virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, memukul industri penerbangan. Pesawat komersil berhenti terbang. Terparkir di bandara. Seiring pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia.

Kesibukan dan kepadatan lalu lintas penerbangan tak terlihat selama beberapa bulan ke belakang. Padahal biasanya Megah bisa terbang selama 80-90 jam dalam sebulan. Tapi kali ini, dia harus turun dari ruang kokpit.

“Saat pandemi melanda, bukan hanya saya, tapi dunia penerbangan mengalami hantaman. Saya harus berbuat sesuatu, dan berani memulainya,” ujar Megah yang berbagi cerita dalam program Berani Berubah, hasil kolaborasi SCTV, Indosiar, Liputan6.com dan .

Seorang pilot terbiasa mengalami berbagai situasi. Tak terkecuali situasi Pandemi Covid-19 yang mengharuskannya mencari jalan keluar. Agar tidak tertekan akibat kondisi keuangan yang menipis. Kelangsungan hidup keluarga berada di tangannya.

Dia mengambil keputusan. Berbekal kemampuannya di dapur, Megah berani berubah profesi. Menjadi seorang juru masak atau chef. Masakan hasil tangannya dijual secara online. Melalui media sosial, dia membuka pemesanan.

“Saya jualan di Instagram, dari grup WhatsApp, Facebook. Alhamdulillah saya lihat responsnya bagus. Dari open order seminggu sekali, sampai akhirnya seminggu tiga kali. Akhirnya karena prospek bagus, saya putuskan jualan offline,” jelasnya.

Dengan tekad kuat, Megah memberanikan diri. Terjun dalam persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat. Dia membuka warung mi ayam di Kawasan Tangerang Selatan, Banten. Meski beralih dari ruang kokpit ke dapur, tidak terbesit rasa malu dalam diri. Yang muncul justru kebanggaan.

“Saya rasa bukan memalukan dan tabu dikerjakan. karena pilot jualan mi ayam, usaha kita survive. Ini seperti mencontohkan pada anak saya, ada saatnya manusia di atas, ada saatnya berjuang dari bawah. Sesuatu yang baik dan halal, kenapa tidak dilakukan,” katanya bangga.

Sambil berjualan mi ayam, Megah berharap Pandemi segera berakhir. Kerinduan tampak dari tatapan matanya. Rindu mengudara dengan burung besi.

Pandemi membawa hikmah bagi Megah. Hikmah untuk terus berjuang bertahan hidup. Jika nantinya Pandemi berakhir, usaha mi ayam akan tetap dijalankan.

“Akan tetap dijalani, bekal kalau suatu waktu saya pensiun dari penerbangan,” tutupnya.

[noe]

Next Post

Hadir di 19 Provinsi, Pertashop Pertamina Siap Layani Masyarakat Desa

PT Pertamina (Persero) terus menjalankan program pembangunan Pertamina Shop (Pertashop) di seluruh wilayah Indonesia. Hingga Agustus 2020, mini outlet Pertashop telah hadir di 19 Provinsi sebanyak 147 titik penyaluran. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan setelah memasuki era new normal Pertamina kembali menggencarkan pembangunan Pertashop di sejumlah wilayah. […]