China Pasrahkan Laju Ekonomi, Ketidakpastian Corona Meningkat

Farah

China Pasrahkan Laju Ekonomi, Ketidakpastian Corona Meningkat

Jakarta, Indonesia — Pemerintah China tidak akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini di tengah ketidakpastian besar akibat pandemi virus corona. Negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia ini mencatat penurunan PDB pada kuartal I atau kontraksi pertamanya sejak 1976 silam.

Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan ada faktor-faktor yang sulit diprediksi karena ketidakpastian besar yang disebabkan penyebaran covid-19. “Yakni, perdagangan dunia dan lingkungan ekonomi,” ujarnya dilansir .com, Jumat (22/5).

Tahun lalu, China menargetkan pertumbuhan ekonominya bisa menyentuh 6 persen-6,5 persen. Dalam 30 tahun terakhir, laju ekonomi terendah China ada di posisi 6,1 persen.

Namun, pandemi corona yang terjadi lebih dari tiga bulan di sebagian besar kota di China telah memukul ekonomi Negeri Tirai Bambu. Pada kuartal I lalu, PDB China menyusut 6,8 persen.

Puluhan juta orang terpaksa kehilangan pekerjaan mereka. Bahkan, analis setempat curiga masalah pengangguran di China lebih besar ketimbang data yang dilaporkan pemerintahnya.

Tidak cuma itu, China juga menghadapi tekanan eksternal. Pandemi corona yang terjadi di lebih dari 150 negara di dunia membuat permintaan pengiriman barang dari China menurun. Sektor ekspor China disebut terbebani sangat berat.

Belum lagi, perang dagang yang berkobar kembali antara China dengan Amerika Serikat (AS) ikut meningkatkan kekhawatiran.

Li mengumumkan pemerintahannya tidak ‘ngoyo’ dengan target ekonomi tahun ini dalam pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional.

Lihat juga:

KFC Indonesia Tutup 115 Gerai, 10 Ribu Karyawan Terdampak

Selain pengumuman itu, ia juga menyampaikan China akan mengeluarkan surat utang atau obligasi khusus untuk menangani pemulihan ekonomi sebagai dampak corona.
China berencana menerbitkan obligasi senilai 3,75 triliun yuan atau US$526 miliar demi mendongkrak belanja atau pengeluaran.

Dana segar dari surat utang khusus itu akan digunakan untuk mengongkosi pengeluaran infrastruktur dalam pembangunan ekonomi setelah dilanda pandemi covid-19.

“China akan menerbitkan 3,75 triliun yuan dalam bentuk obligasi pemerintah khusus tahun ini,” jelasnya.

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu sebesar 1,6 triliun yuan.

Lihat juga:

Pertamina Gandeng Korea Bangun Kilang Dumai Senilai Rp22 T

Menurut Li, dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal proyek, dengan prioritas, belanja barang untuk infrastruktur baru.

Sebelumnya diberitakan, fokus Pemerintah China dalam rangka pemulihan ekonomi usai covid-19 adalah pengeluaran fiskal. Selain itu, untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Ditargetkan, 9 juta lapangan kerja tercipta melalui program pemulihan.

China sendiri berencana mengerek defisit fiskalnya menjadi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Defisit itu lebih lebar ketimbang tahun lalu yang sebesar 2,8 persen.

[Gambas:Video ]

(bir)

Next Post

The New Normal Serie A: Pemain Protes Wasit Jarak 1,5 Meter

Jakarta, Indonesia — Pihak Lega Serie A memiliki banyak protokol kesehatan dan keselamatan untuk kembali menjalani pertandingan Serie A Liga Italia, salah satunya adalah cara pemain protes kepada wasit. Lega Serie A saat ini sedang melakukan finalisasi protokol keamanan dan keselamatan saat menjalani pertandingan di tengah pandemi virus corona. Lega Serie […]