Zombi, dari Folklor Lokal ke Kisah Horor Internasional

Farah

Zombi alias mayat hidup identik tercipta dari virus antah berantah. Namun sejatinya, zombi berasal dari kepercayaan masyarakat secara turun temurun.

Jakarta, Indonesia —

Meski zombi kini kerap digambarkan tercipta dari virus antah berantah yang merebak, narasi soal makhluk horor itu sejatinya berasal dari kepercayaan masyarakat secara turun temurun dari satu daerah.

Zombi diketahui berasal dari cerita rakyat Haiti. Masyarakat negara yang berada di kawasan Kepulauan Karibia itu percaya bahwa zombi adalah mayat yang dihidupkan dengan beberapa metode, terutama sihir seperti voodoo. Di sana, zombi dikategorikan sebagai hantu.

Kisah yang mulanya bersifat lokal berubah menjadi internasional setelah dituliskan dalam buku bertajuk The Magic Island (1929) karya penulis, jurnalis, wisatawan sekaligus peneliti hal mistis asal AS bernama William Buehler Seabrook.

Ia mengklaim bertemu sekumpulan orang yang mempraktikkan voodoo dan melihat zombi.

Sejak saat itulah legenda zombi bergulir di Amerika Serikat (AS), terlebih setelah film White Zombie yang dibuat berdasarkan buku The Magic Island rilis pada 1932. Film yang digarap Halperin bersaudara ini tercatat sebagai film pertama yang mengisahkan zombi.

Akademisi Antropologi Universitas Padjadjaran, Budi Rajab tidak merasa heran dengan cerita rakyat, yang mana faktanya belum teruji, diadaptasi menjadi film.

Menurutnya sejak sejak zaman dulu, masyarakat di seluruh dunia mengenal hantu dan diceritakan lewat berbagai medium, salah satu yang paling dikenal secara internasional adalah zombi.

“Seiring berjalannya waktu, rasionalitas masyarakat berkembang, terutama negara Barat, sehingga kurang percaya dengan hantu. Misalnya negara-negara Skandinavia di Eropa zaman dulu percaya hantu, sekarang tidak lagi percaya,” kata Budi.

Meski begitu, lunturnya kepercayaan masyarakat di berbagai negara Barat terhadap hantu tidak berbanding lurus dengan medium yang mengisahkan hantu seperti film. Produser dan sineas masih saja membuat film horor yang menampilkan berbagai jenis makhluk.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang menurut Budi perkembangan rasionalitas mayoritas masyarakatnya tidak setinggi di Barat, biasanya memproduksi film horor. Hal ini tidak lepas dari kepercayaan soal hantu yang melekat sejak dulu.

“Sudah pasti [kepercayaan soal hantu di Indonesia sangat mempengaruhi film horor]. Kepercayaan masyarakat Indonesia soal hantu jelas sekali hingga menjadi budaya. Kemudian hantu coba dihidupkan lewat film [yang merupakan salah satu medium budaya populer],” kata Budi.

Ia mencontohkan dengan hantu jenis pocong yang paling umum dan diketahui oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Film horor yang mengisahkan pocong sangat banyak, setidaknya sejak tahun 1975 sampai sekarang terdapat 20 film horor soal pocong.

Pocong Jumat KliwonFilm horor yang mengisahkan pocong sangat banyak, setidaknya sejak tahun 1975 sampai sekarang terdapat 20 film horor soal pocong. (Dok. Rapi Films). 

Selain banyak memproduksi film horor, masyarakat Indonesia yang lekat dengan cerita hantu mudah menerima film horor dari luar negeri. Sekalipun, film horor tentang hantu yang tidak menjadi kepercayaan masyarakat Indonesia sejak dulu seperti zombi.

“Yang mendekati adalah ritual di Tana Toraja, tetapi film zombi tetap diterima. Kenapa demikian? karena penonton Indonesia menerima film zombi bukan karena makhluk itu bernama zombi, tapi karena zombi merupakan salah satu jenis hantu,” kata Budi.

Ritual yang dimaksud dengan Budi adalah Ma’nene, sebuah warisan budaya dari Tana Toraja berupa upacara membersihkan jasad leluhur yang sudah meninggal dunia selama ratusan tahun.

Jasad itu bukan hanya dikeluarkan dari makam dan dibersihkan, melainkan juga diberikan kain atau pakaian baru. Upacara ini dilakukan bukan hanya oleh keluarga keturunan sang leluhur, bahkan bisa dilaksanakan oleh seluruh anggota desa.

[Gambas:Youtube]

Ritual ini bukan hanya memandikan dan mengenakan pakaian baru pada jasad, melainkan menggambarkan pentingnya hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi yang telah meninggal dunia lebih dulu.

Meski tidak secara harfiah seperti kisah zombi ketika jenazah ‘dibangkitkan’ kembali, Budi menilai setidaknya Ma’nene adalah salah satu kepercayaan masyarakat Indonesia yang dekat dengan mayat.

“[Ritual Ma’nene di Tana Toraja adalah] Kepercayaan yang sangat lokal. Tidak bersifat umum,” kata Budi.

Sementara itu, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta, Satrio Pepo Pamungkas, juga memberikan penjelasan serupa. Selain karena dideskripsikan sebagai hantu, film zombi bisa diterima di Indonesia karena distribusi yang sangat deras.

“Film-film itu kan berasal dari Amerika Serikat yang (distribusinya) sangat deras. Akhirnya mengonstruksi imaji dalam kepala penonton di Indonesia bahwa ada makhluk zombi, padahal dalam dunia nyata belum pasti,” kata Satrio.

[Gambas:Youtube]

(adp/end)

Next Post

Polisi Telusuri Video Gerombolan Bermotor Acungkan Senjata Tajam di Bogor

Segerombolan diduga gengster melakukan konvoi di jalan pada malam hari. Berdasarkan unggahan akun @info_jakartapusat, kejadian itu terjadi pada Sabtu (15/8) di Jalan Sholeh Iskandar, Bogor, Jawa Barat, dengan mengacung-acungkan senjata tajam. Menanggapi video viral tersebut, Kapolres Bogor Kota Kombes Hendri Fiuser membenarkan kejadian tersebut terjadi di jalan yang dimaksud atau […]