Pemandangan Raja Ampat Versi Kudus di Bukit Puser Angin

Farah

Bukit Puser Angin selama ini populer disebut

Jakarta, Indonesia —

Pemandangan gugusan batu karang yang ditumbuhi pepohonan di Raja Ampat sekilas mirip dengan yang ada di Bukit Puser Angin, objek wisata alam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Dikelilingi hamparan Waduk Logung, barisan perbukitan Patiayam di sana memberi panorama alam nan indah saat dipandangi dari ketinggian.

Keberadaan Bukit Pusar Angin tentu saja mulai membantu menggairahkan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Pilihan Redaksi
  • 8 Tempat Wisata di Sentul dari Bukit sampai Curug
  • Dua Jalur Pendakian ke Gunung Prau Resmi Dibuka
  • Ritual Cukur Gimbal Festival Dieng Digelar Virtual

Objek wisata alam ini bisa dikunjungi dari dua desa, yakni Desa Tanjungrejo atau Desa Klaling. Keduanya sama-sama di Kecamatan Jekulo, Kudus.

Sepanjang perjalanan menuju Bukit Puser Angin, turis bakal dimanjakan oleh pemandangan kebun sayur milik warga.

Waktu populer untuk berkunjung ke sana ialah senja, karena matahari yang hendak terbenam memancarkan sinar oranye yang menambah fotogenik objek wisata alam tersebut.

Selain turis, Bukit Puser Angin juga ramai dikunjungi oleh pasangan yang hendak melakukan foto pranikah.

Saat ini, objek wisata alam itu sedang ditutup, karena sedang terjadi pembicaraan soal kesepakatan pengelolaan oleh Perum Perhutani dan warga sekitar.

Ya, objek wisata alam ini masuk dalam area milik Perum Perhutani.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Bergas Catur Sasi, mengatakan bahwa pengelolaan Bukit Pusar Angin nantinya harus berdasarkan kesepakatan Perum Perhutani dan warga.

Jika sudah ada kesepakatan, maka Bukit Pusar Angin bisa dibuka lagi.

“Ketika sudah ada kesepakatan bersama dengan pihak Perum Perhutani, tentunya pengembangan objek wisatanya juga lebih mudah dan terarah,” ujar Bergas, seperti yang dikutip dari ANTARA pada Rabu (16/9).

“Kalaupun saat ini dilakukan penutupan, tentunya dianggap wajar karena belum ada pembicaraan dengan pihak perhutani, termasuk kesepakatan dalam pengelolaannya,” lanjutnya.

Selain itu, Bergas juga mengingatkan bahwa pengelolaannya jangan sampai mengganggu kelestarian alam.

Sementara itu, Camat Jekulo, Wisnu Brata Jayawardhana, menekankan bahwa Bukit Pusar Angin juga wajib memiliki fasilitas dan layanan yang menjamin keamanan pengunjung.

“Jangan sampai ada kejadian yang tidak diinginkan menyangkut keselamatan para wisatawan, mengingat akses menuju lokasi yang merupakan perbukitan terdapat jurang di sisi jalannya,” ujar Wisnu.

Jika sudah tercapai kesepakatan mengenai pengelolaan, Bergas mempersilakan masing-masing desa membuat akses jalan menuju objek wisata tersebut, sekaligus menciptakan atraksi wisata baru sebelum para wisatawan menuju Pusar Angin.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video ]

(ANTARA/ard)

Next Post

Ekonom Ungkap Urgensi Revisi UU LPS Dibanding UU BI

Jakarta, Indonesia — Ekonom sekaligus Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani menilai revisi Undang-Undang (UU) nomor 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) lebih penting ketimbang revisi UU Bank Indonesia (BI). Pasalnya, tantangan pemerintah dalam menjaga kesehatan industri perbankan pasca pandemi covid-19 akan lebih besar pada tahun mendatang.  Misalnya, kata […]