Mengenal Doomscrolling, Kecenderungan Menelusuri Kabar Buruk

Farah

Doomscrolling adalah kecenderungan terus-menerus berselancar menelusuri kabar buruk di media sosial. Dalam jangka panjang, bisa berdampak pada kesehatan mental.

Jakarta, Indonesia —

Sebagian orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksa feed di media sosial, baik Twitter atau Facebook. Sementara selama pandemi virus corona ini, kemungkinan aktivitas itu justru bertambah.

Seolah berselancar di media sosial jadi cara yang baik untuk menjernihkan dan menyegarkan pikiran dari pekerjaan. Tapi apa yang muncul di feed Anda boleh jadi malah bisa berpengaruh buruk bagi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Ada istilah yang tepat untuk mewakili kondisi tersebut, doomscrolling.

Belakangan kata tersebut populer masuk daftar kamus Merriam-Webster semenjak pandemi Covid-19. Doomscrolling atau juga disebut doomsurfing adalah kecenderungan untuk terus-menerus berselancar atau menelusuri berita buruk, meskipun itu berita mengecewakan ataupun menyedihkan.

Mengapa orang melakukan doomscrolling?

Seorang Psikoanalis berlisensi yang berbasis di New Jersey, Babita Spinelli menjelaskan bahwa orang beralih ke media sosial untuk mendapatkan informasi selama masa stres.

“Dan doomscrolling menjadi mekanisme penanggulangan yang berhubungan dengan ketidakpastian dunia saat ini,” kata Babita Spinelli seperti dikutip dari laman kesehatan dan kebugaran Mindbodygreen.

Padahal, Spinelli menuturkan, doomscrolling berpotensi memperparah kondisi di tengah pandemi. Tetap memperbarui informasi mengenai Covid-19 memang penting, namun begitu tak kalah pentingnya untuk terhubung dengan keluarga dan kawan selama masa karantina.

Memberi perhatian pada kabar memprihatinkan dan ketidakadilan di luar sana tak keliru, namun Spinelli mengingatkan, kekhawatiran terus-menerus juga tak baik. Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menonton dan membaca berita alih-alih memperhatikan diri sendiri justru akan membuat Anda sulit untuk mengambil tindakan yang nyata dan tegas.

Infografis remaja dan media sosial ( Indonesia/Hafshah Fakhrin)Foto: Hafshah Fakhrin
Infografis remaja dan media sosial ( Indonesia/Hafshah Fakhrin)

Spinelli melanjutkan, banyak orang beralih ke berita bukan untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang terjadi di luar sana, melainkan karena informasi yang diberikan tidak selalu jelas dan menyeluruh atau kadang tanpa jawaban. Mereka, kata Spinelli, akhirnya merasa takut, frustrasi, tak berdaya atau marah.

Ia pun menambahkan, doomscrolling dapat menimbulkan gejala yang mirip gangguan stres pasca-trauma dalam kasus-kasus ekstrem.

“Jenis kekerasan grafis yang ditampilkan di media sosial bisa menimbulkan trauma dan menurut saya, ini bisa merugikan kesehatan mental jika terus jadi bagian dari kehidupan seseorang,” jelas dia lagi.

Bagaimana menghindari doomscrolling?

Pandemi Covid-19, berita tentang diskriminasi rasial atau kasus kekerasan seksual dan segala ketidakpastian wabah membuat kondisi kian sulit untuk memilih antara tetap mendapat informasi atau justru doomscrolling.

Spinelli menemukan cara lain guna memastikan Anda tetap sadar akan segala masalah belakangan tapi tanpa mengorbankan kesehatan mental.

“Menjadi sadar, terdidik dan berkontribusi dengan cara Anda sendiri untuk memerangi ketidakadilan rasial dan sosial tidak diragukan lagi, itu penting. Namun kami perlu menggunakan mekanisme lain agar Anda terhindar dari doomscrolling berlebih,” kata dia.

Lihat juga:

Tips Jaga Kesehatan Jiwa selama Pandemi Covid-19

Berikut tips menghindari doomscrolling menurut Babita Spinelli.

– Daripada menelusuri media sosial tanpa tujuan, Anda bisa membaca buletin, majalah atau surat kabar yang Anda terima melalui email.

– Ketika Anda sudah menemukan sejumlah sumber berita maka minimalkan waktu membaca, hindari melanjutkan penelusuran ke situs lain.

– Untuk mendapat informasi lengkap tentang masalah saat ini, Anda bisa berpastisipasi dengan diskusi online dengan kawan lain.

– Sebagai pengganti doomscrolling, Anda dapat mendengarkan podcast atau membaca buku tentang tema yang ingin Anda cari.

– Luangkan waktu, secara fisik maupun virtual, untuk menjadi relawan pada isu yang ingin Anda ketahui atau fokuskan tersebut. Atau Anda juga bisa terlibat dalam donasi dan dukungan lain.

(NMA)

[Gambas:Video ]

Next Post

PDIP Usung Anak Yusril Jadi Calon Bupati Belitung Timur

Jakarta, Indonesia — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengusung anak Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra, Yuri Kemal Fadlullah, sebagai calon bupati Belitung Timur di Pilkada serentak 2020. Yuri bakal berpasangan dengan Nurdiansyah sebagai calon wakil bupati Belitung Timur. Nurdiansyah memiliki pengalaman sebagai aparatur sipil negara (ASN). “Belitung […]