Maju Tak Gentar Mengejar Merdeka Otomotif Indonesia

Farah

Industri otomotif Indonesia telah berkembang pesat, tak bisa dipandang sebelah mata.

Jakarta, Indonesia —

Industri otomotif Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Anak bangsa di negeri ini sudah lama berupaya mandiri, salah satunya dengan transfer teknologi, walau sekarang belum sepenuhnya merdeka otomotif.

Indonesia memang tak punya merek asli lokal sebesar raksasa Jepang seperti Toyota, Daihatsu, atau bahkan kebanggaan Malaysia, Proton. Meski begitu industri otomotif di Tanah Air merupakan yang terbesar di Asia Tenggara bila dinilai berdasarkan data penjualan domestik tahunan.

Sejak 2013 penjualan mobil di Indonesia selalu di atas 1 juta unit yang sebagian besar di antaranya diproduksi bumi Nusantara. Indonesia bahkan terus berkembang sebagai negara pengekspor, tercatat ada 300 ribu unit yang dikirim ke luar negeri pada tahun lalu.

Semakin banyak penjualan berarti prinsipal produsen mulai berpikir ke arah produksi lokal. Lokalisasi ini bakal diikuti investasi, manufaktur, dan riset yang semuanya bisa dimanfaatkan sebagai transfer teknologi.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan transfer teknologi di Indonesia sudah berjalan. Bisa dikatakan Indonesia telah mandiri untuk urusan industri mobil, walau belum 100 persen.

“Kalau ngomong transfer teknologi ya sudah jalan. Contohnya di Indonesia itu sudah ada fasilitas research and development [RnD],” ungkap Nangoi melalui sambungan telepon, Kamis (13/8).

Ada beberapa fasilitas RnD produsen mobil yang berada di dalam negeri, namun fasilitas yang dikatakan Nangoi terlengkap baru Daihatsu.

Sejumlah produk yang dilahirkan RnD Daihatsu di antaranya Luxio, serta produk kolaborasi dengan Toyota yakni Rush-Terios, Agya-Ayla, Avanza-Xenia, dan Calya-Sigra.

“Contohnya seperti Daihatsu RnD di Indonesia. Itu mobil Agya dan Ayla rasanya 95 persen sudah dikerjakan di Indonesia mulai dari desainnya,” ucap Nangoi.

Berjuang ‘Sendiri’

Meski begitu upaya produsen lokal dalam hal transfer teknologi dan pengembangan otomotif dirasa belum didukung sepenuhnya oleh pemerintah. Upaya yang sudah dilakukan dikatakan sebagai inisiatif, tidak dilakukan karena ada insentif yang bisa meringankan produsen.

Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengatakan sejauh ini pemerintah belum memberi dukungan meski sudah ada investasi dan proyek transfer teknologi.

“Sampai saat ini belum ada. Namun Daihatsu terus melakukan transfer teknologi, baik dalam bidang manufaktur maupun RnD,” ucap Amelia.

Untuk diketahui pemerintah sudah meluncurkan regulasi yang dapat meringankan pajak produsen melalui insentif. Insentif pajak jumbo atau biasa disebut super deductible diberikan bagi perusahaan yang berinvestasi untuk riset dan pengembangan (RnD).

Insentif itu tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan yang diterbitkan pada September 2019.

Namun bagi Amelia, insentif yang baru terbit tahun lalu tersebut belum pernah dirasakan manfaatnya.

“Setau kami saat ini pemerintah sudah menyiapkan peraturan untuk memberikan stimulus berupa insentif super tax deduction untuk perusahaan yang memiliki RnD. Namun peraturan pelaksanaannya belum dikeluarkan, sehingga belum bisa kami manfaatkan,” kata Amelia.

Lihat juga:

Survei Google, Mayoritas Konsumen Indonesia Tunda Beli Mobil

Hasil transfer teknologi otomotif Indonesia

Business Innovation and Sales & Marketing Director Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy memaparkan pabrikan yang ada di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Berkat transfer teknologi, semua hal terkait industri dan teknologi otomotif bisa dikerjakan sendiri.

HPM juga memiliki fasilitas riset di Indonesia dalam pengembangan produk, namun masih bekerjasama dengan Thailand dan Jepang.

Fasilitas riset Honda ini ditujukan untuk melakukan penelitian terhadap pasar sehingga dapat menyesuaikan pengembangan mobil bagi konsumen di Indonesia. Produk yang sudah dihasilkan dari fasilitas ini adalah Brio dan Mobilio.

“Sebagai basis produksi untuk model-model tersebut, pabrik di Indonesia juga telah melakukan banyak lokalisasi dari hasil transfer teknologi. Jadi bukan hanya perakitan bodi, tapi juga engine, transmisi, dan komponen lain yang sudah diekspor ke berbagai negara,” ucap Billy.

“Kami juga terus melakukan pengembangan lokalisasi. Dimana kandungan lokal Brio sudah 89 persen dan akan terus dikembangkan,” kata Billy kemudian.

Hal yang sama dikatakan Amelia. Menurut Amelia para insinyur otomotif Indonesia sudah dapat menguasai teknologi pembuatan mobil.

“Kami rasa, Indonesia saat ini bukan cuma basis perakitan saja, tetapi sudah menjadi basis manufacturing dari press, casting, komponen, hingga mesin. Dimana hampir semua proses sudah bisa dikuasai,” kata Amelia.

Sementara itu Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan transfer teknologi harus dilakukan bersamaan dengan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Bob bilang pengembangan orang sudah dilakukan perusahaan sehingga perwakilan Jepang pada pabrik Toyota di Indonesia kian menyusut sehingga anak bangsa lebih punya peran.

“Jadi transfer teknologi dari hulu bisnis, komponen dan kendaraan, serta pengembangan orang. Orang Jepang yang ada sekarang kurang dari 24 orang,” ucap Bob.

Lihat juga:

Strategi Produsen Otomotif Indonesia Hadapi Ancaman Resesi

Kendala dan yang belum dilakukan

Amelia mengatakan pihaknya belum menemukan kendala berarti dalam proses transfer dan pengembangan teknologi di Indonesia. Hanya saja dia bilang pengembangan teknologi rancang bangun, hingga pengembangan fitur di Indonesia masih sangat kurang.

“Untuk proses manufaktur rasanya Indonesia sudah bisa, namun untuk Teknologi Rancang Bangun masih sangat kurang. Belum lagi perkembangan teknologi dan fitur kendaraan sangat pesat, jadi kalau transfer teknologinya lambat, kita akan ketinggalan dengan negara lain,” ucap Amelia.

Di sisi lain, Nangoi menambahkan transfer teknologi yang berujung pada pengembangan di dalam negeri butuh hitung-hitungan. Produsen tetap harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk volume penjualan.

“Ya misal bikin merek A, sebulan 100 unit atau sebulan 50 unit ya mana kuat. Kalau Daihatsu kan volume juga paling besar karena gabung juga dengan produksi Toyota kan,” ucap Nangoi.

Jika volume tidak sesuai hitung-hitungan, tentu pengembangan suatu produk akan dilakukan terpisah di berbagai negara karena mempertimbangkan efisiensi.

“Tapi ada kebanyakan karena volume belum mencapai, itu bikin bersama-sama. Misal desain dilakukan Indonesia, dari sisi keamanan di mana, sasisnya beda lagi. Jadi supaya cost benefit dapet,” kata Nangoi.

(ryh/fea)

[Gambas:Video ]

Next Post

FOTO: Sevilla Kubur Mimpi MU di Liga Europa