Guru Besar Unpad Jelaskan Beda Vaksin Corona China dan Oxford

Farah

Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 mengungkapan beda vaksin Sinovac China dengan AstraZaneca Oxford.

Jakarta, Indonesia —

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Kusnandi Rusmil mengungkapkan vaksin virus corona Sinovac China memiliki perbedaan dengan calon vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh setiap negara.


Kusnandi mengambil contoh perbedaan dengan vaksin AstraZeneca yang dibuat oleh Universitas Oxford dan didanai oleh pendiri Microsoft Bill Gates. Vaksin AstraZeneca dikembangkan dari dua virus hidup, yaitu adenovirus yang disuntikkan dengan Coronavirus.

“Saat disuntikkan ke relawan, ditemukan kondisi di mana tubuh relawan ‘tidak cocok’ dengan vaksin AstraZeneca, sehingga menyebabkan efek samping,” katanya seperti dikutip dari laman Unpad, Senin (14/9).




Berbeda halnya dengan vaksin asal Sinovac, vaksin ini dikembangkan dari virus corona yang dimatikan, sehingga peluang untuk menyebabkan penyakit sangat kecil.

Meski demikian, vaksin ini memiliki imunogenitas yang kurang baik. Sehingga tim uji klinis harus menyuntikkan vaksin sebanyak dua kali kepada relawan.

“Pada uji klinis di Indonesia ini kita melakukan dua kali penyuntikan dengan jarak 14 hari,” ujar Kusnandi.

Kusnandi menegaskan bahwa tim uji klinis vaksin Covid-19 di Unpad mengikutsertakan banyak ahli kedokteran dan penasehat medis. Total ada 102 tim medis yang ikut serta.

“Moga-moga kami dapat berhasil,” katanya.

Lihat juga:

Ahli Respons Klaim China Sudah ‘Lulus’ Pandemi Covid-19

Selain itu, Kusnandi mengungkap alasan di balik uji klinis vaksin Covid-19 asal Tiongkok yang tengah dilakukan di Indonesia. Menurutnya, vaksin yang dikembangkan perusahaan Sinovac, Tiongkok ini memiliki efektivitas cukup baik berdasarkan hasil uji klinis fase I dan II.

“Mereka (Sinovac) sudah lakukan uji klinis (vaksin) fase I dan II. Kita tinggal lakukan lanjutan uji klinis fase III,” ujarnya.

Berdasarkan hasil dari uji fase I dan II, Indonesia pun menjadi salah satu negara yang melakukan uji klinis fase III dari vaksin Sinovac ini, bersama dengan negara Brazil, India, Bangladesh, dan Turki. Dalam pelaksanaannya, Unpad dipercaya PT Bio Farma sebagai eksekutor dari uji klinis fase III.

“Karena hasil uji klinis fase I dan II baik, kita lebih pede lakukan uji klinis (fase III),” kata Guru Besar bidang ilmu kesehatan anak itu.

Lihat juga:

Kronologi Relawan Uji Vaksin China Positif Corona di Bandung

(hyg/DAL)

[Gambas:Video ]

Next Post

Harga Pangan Meroket Naik, Cabai Tembus Rp44.500 per Kg

Jakarta, Indonesia — Harga sejumlah komoditas pangan kompak merangkak naik, mulai dari cabai, gula, minyak goreng hingga bawang merah. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga cabai rawit merah yang dibanderol rata-rata naik 31,85 persen atau Rp10.750 per Kg menjadi Rp44.500 per kilogram/Kg. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Senin (14/9), harga cabai rawit merah […]